
Beberapa waktu kemudian Dirga mulai terbiasa dengan kemampuan melihatnya. Ia sering terbangun di tengah malam dan mendapati dirinya berada di dunia lain, sebuah dunia yang tidak ia kenal lagi. Namun dia tak masuk ke dunia baru yang ia lihat, karena takut terjebak di sana, seperti yang sudah terjadi sebelumnya.
Atau jika ia memasuki dunia baru itu, ia tidak menyentuh ataupun mengambil sesuatu dari sana. Karena takut jika yang ia ambil akan membawa efek buruk untuk jangka panjang. Jadi ia memilih diam saja dan menunggu kembali ke dunia nyata, meskipun itu tidak sebentar.
Setiap hari ia bermain sendiri dengan Firoz atau dengan makhluk astral, Patrick dan lainnya. Namun ada rasa ia juga ingin bermain dengan teman sebayanya juga.
Sore itu saat dia bermain dengan Firoz di halaman rumah ia melihat ada beberapa anak laki-laki seusia dia lewat di depan pagar. Mereka adalah tetangga dekat rumah. Dirga sering melihat mereka bermain tapi tidak pernah bermain dengan mereka, karena beda sekolah.
“Fino...!!” panggil Dirga pada salah satu anak.
Ia menyapa Fino dengan maksud agar ia boleh bergabung dengan mereka untuk bermain bersama. Namun mereka tidak menjawab dan hanya menetap Dirga saja, lalu saling berbisik dan pura-pura tidak mendengar panggilan dari Dirga.
“Kris... Fino...!!” memanggil lagi karena mengira tidak mendengar panggilannya.
Mereka semua menoleh ke arah Dirga namun tidak menjawab sapaan Dirga dan terus berjalan tanpa mempedulikan panggilan yang menurut mereka adalah ajakan untuk bermain.
Dirga tampak kecewa, karena mereka tak mau berhenti dan mengabaikannya.
Ia pun kembali ke halaman bersama Firoz dan bermain kembali.
Hadwan dan Elsa yang saat itu sedang ada di teras, menyirami tanaman, melihat kejadian barusan. Mereka tahu jika anaknya itu butuh teman bermain. Namun anak-anak itu tak mau bergabung dengan Dirga. Mereka tahu jika para anak-anak tadi tidak mau bermain Dirga karena menganggap Dirga anak yang aneh, tidak sama dengan mereka. Hal itu membuatnya sedih.
“Kau lihat itu ? Anak-anak sini menjauhi Dirga...” Elsa menoleh ke Hadwan yang sedang memotong rumput.
Hadwan kemudian berdiri dan menghampiri istrinya, berhenti sejenak memotong rumput.
“Tidak usah kau pikirkan... mereka memang masih anak-anak, jadi tidak mengerti.” memberi penjelasan pada Elsa.
__ADS_1
“Iya... tapi kasian anak kita, dia di tolak seperti itu. Apakah dia akan selamanya di tolak oleh masyarakat nantinya saat dewasa ? Aku tidak mau itu terjadi pada Dirga. Lalu apa yang harus kita lakukan ?” menatap Hadwan dengan gelisah.
Hadwan diam sejenak, ia menatap Dirga yang sedang bermain sendiri dengan elang putih yang setia pada anaknya itu. Memang anak itu terlihat kesepian dan butuh teman bermain.
“Aku punya solusi yang tepat. Kita akan carikan Dirga teman bermain.” menatap Elsa dengan berbinar-binar.
“Siapa itu ?” melihat Hadwan dengan penasaran.
Hadwan berdiri di belakang Elsa lalu memegang perut Elsa sambil mengelusnya.
“Berikan Dirga adik untuk teman bermain. Ini juga sudah waktunya untuk menambah anak lagi...”
“Aku mau saja hamil lagi, tapi aku takut dengan lahirnya Adik baru, Dirga akan kurang perhatian dariku yang nanti akan berpengaruh ke tumbuh kembangnya. Selain itu aku takut jika nanti anak ke dua terlahir seperti Dirga.” menatap Dirga lalu beralih menatap Hadwan dengan gelisah.
“Dirga pasti sembuh, dan anak kedua pasti terlahir dengan normal. Kau tidak usah takut. Semua akan kita hadapi bersama.” menarik tangan dari perut Elsa lalu tersenyum pada Elsa.
“Dirga... Mama mau memberi mu seorang Adik, mau apa tidak ?” Hadwan mengelus rambut Dirga.
“Adik... ? Dirga mau punya Adik... biar Dirga bisa bermain dengan Adik.” terlihat senang menatap Ayah dan Mama nya.
“Iya nanti Dirga pasti punya Adik...” Elsa ikut mengelus rambut Dirga.
Setelah mendengar jawaban langsung Dari Dirga, Elsa yang awalnya ragu untuk hamil lagi kini berniat untuk melakukan program hamil anak ke dua.
Beberapa bulan berlalu, setelah Elsa dan Hadwan sepakat untuk mempunyai anak lagi. Setelah berusaha keras, akhirnya Elsa hamil juga.
Di kehamilan yang ke dua ini, ia sangat pemilih pada makanan. Asupan makanan ia buat berbeda dengan asupan saat hamil Dirga dulu. Dia juga membuat pikiran lebih tenang meskipun banyak beban kerja.
__ADS_1
Selain itu ia tidak memutar lagu Mozart, Beethoven dan sejenisnya. Ia menggantinya dengan banyak doa dan membaca surat - surat yang ada dalam kitab suci.
Semakin bertambah bulan, perut Elsa semakin membesar. Dirga sering mengelus dan bicara pada Adik yang ada dalam perut Mamanya.
Terkadang saat Mamanya sedang tertidur di sofa, ia mengaktifkan penglihatannya untuk melihat Adiknya yang masih ada di dalam perut Mama.
Walaupun orang tuanya belum tahu jenis kelamin bayi yang di kandung, Dirga mengetahui jika adiknya seorang perempuan.
Ia bisa melihat apa saja yang dilakukan adiknya dalam perut Mamanya. Tapi ia tak pernah memberitahukan nya.
Terkadang Mama merasa kesakitan, setelah Dirga melihat, ia menemukan jika adiknya itu merasa lapar dan menendang-nendang perut Mamanya.
“Aduh sakit...” Elsa duduk di sofa setelah merasa perut dan punggungnya nyeri.
Ia memang tidak terlalu nafsu makan di kehamilan yang kedua ini. Dirga yang melihat Mama nya kesakitan, berjalan ke kulkas. Ia mengambilkan susu segar siap minum dan juga roti tawar untuk Mama.
“Ini Ma... Mama makan ini. Mungkin adik sedang lapar. Adik kelaparan dalam perut Mama.” menyerahkan roti dan susu pada Mama.
Elsa menerima susu dan roti dari Dirga. Ia tak menyangka anak seusia Dirga bisa perhatian dan perduli padanya. Ia memakan roti dan meminum susu. Setelah menghabiskannya, ia merasa perutnya tidak sakit lagi.
Ia heran bagaimana Dirga bisa tahu jika dengan makan, perutnya tidak akan terasa sakit lagi. Namun ia tidak memikirkan lebih jauh dan mengusut nya lebih jauh lagi, karena ia berpikir jika itu hanya kebetulan saja. Mungkin Dirga mengetahui hal itu dari sialan televisi.
Bulan berlalu dan usia kandungan Elsa kini sudah menginjak usia 9 bulan dan diperkirakan jika akhir bulan ini ia akan melahirkan.
Beberapa hari ini Elsa sering merasakan perutnya sakit, merasakan nyeri yang tiba-tiba muncul dan menghilang seperti kontraksi. Namun sepertinya itu kontraksi palsu. Karena tidak ada tanda-tanda pembukaan setelahnya.
Namun malam harinya Elsa merasakan perutnya mulas tidak karuan. Dia belum ada persiapan apa-apa, karena masih awal bulan. Ibu dan Hadwan yang melihat itu langsung membawanya ke Rumah Sakit, untuk menghindari hal buruk terjadi.
__ADS_1
BERSAMBUNG....