
Setelah kejadian di Pantai Mahakam berakhir, mereka segera keluar dari tempat itu. Namun semua akses jalan keluar sudah di tutup dan mereka bingung mencari jalan keluar.
“Lalu kita harus lewat mana ?” tanya Gadis itu yang berjalan mencari jalan keluar lainnya.
“Kita terobos saja dan lewat jalan biasanya.” ucap Dirga memberi saran.
“Tapi...” ucap gadis itu ragu untuk menerobos police line yang mengitari tempat itu. Namun Dirga tak mau mendengar gadis itu membantah ucapannya dan langsung menariknya berjalan melewati jalan yang sekarang di tutup itu.
“Aku yakin ada penjaga di sekitar area ini yang mengamankan daerah ini. Dan itu lebih bagus, mereka akan mengevakuasi kita.” ucapnya yakin tanpa keraguan sedikit pun.
Singkat cerita ada petugas yang menjaga tempat itu dan mereka berdua di evakuasi ke tempat aman.
Beberapa saat mereka masuk dalam liputan berita dan dinyatakan sebagi korban selamat dalam tragedi itu. Status daerah itu yang sebelumnya dinyatakan siaga kini di turunkan menjadi aman. Mimpi buruk tentang binatang penghisap darah itu telah berakhir. Meskipun tidak di temukan penyebab ledakan yang membinasakan binatang parasit itu. Suasana kembali terkendali dan resort itu kembali di buka untuk umum meski masih dengan pengawasan yang ketat.
Sementara itu keluarga, teman dan para sahabat yang mengetahui Dirga dan Rheva di temukan dengan selamat kembali bersuka cita. Terutama Elsa, ibunya Dirga yang setiap hari di rundung kesedihan kini bisa tertawa lega melihat putranya telah kembali.
Di suatu tempat di Prefektur C, tepatnya di rumah Nathan. Dia mengadakan pesta perayaan untuk menyambut kembalinya teman mereka, Rheva dan Dirga. Banyak teman mereka ikut hadir dalam acara perayaan itu.
Entah apa sebabnya belakangan ini Rheva dan Dirga selalu terlihat bersama dan menjadi lebih dekat daripada sebelumnya.
Di meja terhidang aneka makanan dan minuman. Banyak orang lalu lalang di sana.
“Ups...” seorang gadis tak sengaja menumpahkan segelas penuh berisi jus ke baju Dirga dan membuat baju anak itu basah.
“Maaf... aku tak sengaja.” jawab gadis itu.
“Tak masalah, aku bisa ganti baju nanti.” ucap Dirga sembari mengambil sapu tangan dari sakunya dan membersihkan noda jus di bajunya.
Setelah gadis itu pergi Nathan yang melihat kejadian barusan menghampiri Dirga.
__ADS_1
“Lebih baik kau segera mengganti bajumu yang basah itu dengan baju kering ku di kamar.” ucap Nathan menarik anak itu dan membawanya ke kamar pribadinya lalu membuka lemari bajunya dan membiarkan Dirga memilihnya sendiri.
“Tapi Nathan... menurutku itu tidak perlu. Hanya basah sedikit saja dan dalam hitungan menit ini akan kering.” ucapnya menolak tawaran temannya itu.
“Sudah jangan keras kepala, ganti baju saja. Ini handuk untuk mu.” ucapnya mengambil handuk kering lalu menyerahkan pada Dirga. Dia meninggalkan Dirga sendiri yang sedang berganti baju lalu menutup pintu kamarnya dan kembali bergabung dengan teman lainnya.
Dirga melepas bajunya dan mengambil handuk yang ia taruh di meja untuk mengeringkan tubuhnya.
Sementara itu Rheva yang tidak melihat keberadaan Dirga setelah kembali dari toilet melihat ke sekeliling dan tetap tidak menemukannya. Dia lalu melihat Nathan dan berjalan menghampirinya, mungkin saja dia tahu keberadaan Dirga.
“Nathan... apa kau tahu dimana Dirga ? Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tak menemukan dia.” ucapnya berbisik di telinga temannya itu di tengah keramaian.
Nathan tersenyum dan menggoda gadis yang tampak gelisah itu.
“Rheva sepertinya ada yang kau dan Dirga sembunyikan dari ku. Apa kalian sekarang menjadi sepasang kekasih ?” jawabnya dengan berbisik pada gadis itu. Rheva tidak menjawab pertanyaan yang barusan di lontarkan Nathan itu. Seketika wajahnya merona dan dia mencubit lengan anak itu untuk menutupi rasa malunya.
“Katakan di mana dia...!” ucapnya lagi sambil mencubit telinga anak itu dan membuatnya kesakitan
Setelah itu Rheva berjalan menuju kamar Nathan. Dia membuka pintu kamar dan mendapati Dirga sedang bertelanjang dada membuka lemari baju dan memilih-milih baju.
Tak sengaja dia melihat punggung Dirga dan ada sebuah simbol di sana. Sebuah simbol yang membuatnya terkejut, karena simbol itu mirip sekali dengan simbol yang di miliki pasukan Infinix.
“Bagaimana mungkin dia mempunyai simbol itu ? Bukankah ada simbol di dadanya juga yang sama sekali berbeda dengan simbol itu ?” ucapnya lirih saat melihat simbol yang dia hafal itu.
Dirga mendengar suara Rheva dan segera berbalik. Dia tak tahu sejak kapan gadis itu membuka pintu kamar itu.
“Rheva... kenapa kau bisa ada di sini ?” tanyanya melihat gadis itu yang kaget melihat dirinya entah apa sebabnya. Dia melihat banyak orang yang lewat lalu segera menarik gadis itu masuk dan menutup pintunya agar tak ada yang salah paham saat melihat gadis itu.
“Emm tidak... sebenarnya aku...” ucapnya canggung setelah Dirga menutup pintu dan hanya tinggal mereka berdua.
__ADS_1
“Ada apa... ?” tanya Dirga penasaran melihat gadis itu yang terlihat canggung.
“Aku melihat sesuatu di punggung mu... jika kau tak keberatan, aku ingin melihatnya lebih dekat.” ucapnya ragu dan berbalik akan keluar dari kamar itu.
“Ada apa di punggung ku ? Tentu saja kau boleh melihatnya.” jawabnya menarik tangan gadis itu agar tak membuka pintu.
Rheva sekarang tepat berada di belakang punggung Dirga. Dia melihat simbol itu untuk memastikannya dan menyentuh simbol itu. Meskipun hanya sebuah sentuhan kecil, tapi itu berhasil membuat mereka berdua berdebar tak karuan.
“Ini sebenarnya simbol... tapi aku tidak tahu pasti dan masih ragu. Aku akan mencari petunjuk untuk mu lain kali.” ucapnya lalu menarik tangannya dari simbol itu.
Dirga berbalik dan memegang tangan gadis itu. Entah kenapa dia ingin mengetes perasaannya sendiri.
“kriek...” suara pintu terbuka yang mengagetkan Rheva dan sontak dia memeluk Dirga tanpa sadar.
Nathan membuka pintu kamarnya untuk melihat apakah temannya itu sudah selesai ganti baju apa belum. Ternyata malah dia melihat dua temannya bermesraan.
“Hiss... dasar kalian. Apa yang mau kalian lakukan di kamar ku ? Aku tahu kalian sepasang kekasih sekarang, tapi lihat kondisi ! Ah, cepat pakai baju mu dan keluar, Dirga !” ucap Nathan kesal melihat perilaku dua temannya itu. Rheva langsung menarik tangannya.
“Ini tak seperti yang kau lihat. Kami tidak....”bantah gadis itu. Tapi Nathan segera keluar kamar.
Dirga menutup pintu kamar dan sekarang memegang tangan gadis itu dan memojokkannya ke dinding. Jantungnya berdebar kencang, namun dia memberanikan diri.
“Rheva... bagaimana jika yang di
ucapkan Nathan benar ?” tanyanya semakin mendekat yang membuat gadis itu juga berdebar tak karuan.
“Bagaimana jika kita menjadi sepasang kekasih... ?” tanyanya memperjelas.
“Aku....” ucap gadis itu tak kuasa melanjutkan dan memejamkan matanya. Dirga yang menganggap gadis itu tak mau lalu mundur. Namun Rheva menarik tubuhnya lagi dan mendaratkan ciuman kilat di bibir anak itu.
__ADS_1
“Terima kasih...” jawab Dirga lalu mencium bibir gadis itu sambil memeluknya.
BERSAMBUNG.....