
Anak itu terus berlari mengikuti Rheva meskipun tidak tahu alasannya. Ia meliahat ke sekitar dan sempat melihat ada array pelindung tadi.
“Apa array itu yang di maksud Rheva berbahaya. Apa sesuatu terjadi padanya di area itu?” melihat ke belakang ke array yang tadi di lihatnya sambil terus berlari.
Sementara itu di lain sisi, di tenda.
Semua mahasiswa melakukan pencarian masuk ke hutan selama dua hari berturut-turut secara bergantian. Mereka membagi beberapa kelompok yang ikut menemani tim evakuasi melakukan pencarian jauh ke dalam hutan. Namun mereka semua kembali dengan tangan kosong.
Hari ini hari ketiga mereka melakukan pencarian. Lima petugas tim evakuasi bergerak di temani oleh sepuluh mahasiswa yang membantunya, salah satunya ada Tomy yang ikut bergabung. Sementara yang lain tetap berada di tenda untuk menjaga tenda serta melanjutkan kegiatan mereka yang menjadi terhambat akibat dua anggota yang hilang.
“Ayo kita mulai bergerak...! Kita sisir daerah bagian tenggara yang belum kita jelajahi selama dua hari terakhir kemarin.” perintah pemimpin tim evakuasi. Para tim evakuasi gabungan itupun bergerak dan mulai menyisir daerah yang di tunjuk oleh ketua tim penyelamat dan mengikuti instruksinya.
Mereka berjalan menuju ke arah tenggara dan masuk lebih dalam secara bersama-sama. Mereka melihat ke sekeliling untuk mencari jejak serta tanda-tanda keberadaan dua anggota mereka yang hilang. Mereka semakin masuk ke hutan lebih dalam.
“Lihat ini ketua... ini seperti jejak kaki seseorang.” ucap salah satu anggota tim evakuasi pada ketua tim evakuasi meunjuk sebuah jejak kaki yang masih terlihat meski sudah samar dan tertutup oleh dedaunan. Ketua tim mendekat dan melihat jejak kaki yang di tunjuk oleh anggota tim yang menemukan itu.
“Benar ini adalah jejak kaki manusia. Mungkin saja ini adalah jejak anggoya kita yang hilang. Kalau begitu kita cari jejak lainnya mungkin kita akan menemukan sebuah petunjuk.” jawab ketua tim evakuasi itu.
Mereka kemudian berjalan lagi masuk ke hutan untuk mencari jejak yang mungkin bisa mereka temukan lagi. Benar saja setelah mereka berjalan lagi satu meter mereka menemukan jejak kaki lagi. Mereka mengikuti jejak itu dan kembali menemukan jejak lainnya. Ada beberapa jejak lagi yang mereka temukan dan mereka mengikuti jejak itu. Namun jejak itu menghilang di dekat sebuah pohon besar dan lebat sekali yang terlihat sedikit angker dan terasa aneh hawa di sekitarnya.
“Kita kehilangan jejaknya....Padahal hampir saja kita menemukan mereka. Kurang sedikit lagi pasti kita menemukan mereka.” ucap salah satu anggota tim evakuasi pada temannya.
__ADS_1
Tomy yang ikut melihat jejak itu berakhir di dekat sebuah pohon mengingat-ingat lagi hari di saat dia bersama temannya sebelum kejadian itu. Ia melihat pohon itu lekat-lekat dan mengitarinya.
“Ini kan seperti pohon saat Dirga tersandung jatuh karena tersangkut sebuah akar yang besar ?” batin Tomy melihat pohon yang terlihat mirip dengan pohon yang membuat temannya jatuh namun tak ada akar besar yang mencuat keluar dari pohon itu.
“Ada apa teman ?” tanya salah satu tim evakuasi menghampiri Tomy.
“Tidak ada apa-apa...” jawabnya.
“Kalau begitu ayo kita lanjutkan pencarian kita. Ketua tim evakusi memerintahkan kita membagi menjadi dua kelompok dan berpencar untuk melakukan pencarian.” Tomy pun menurut pada kata temannya dan pergi dari tempat itu untuk melakukan pencarian lagi mengukuti tim evakuasi lainnya yang sudah bergerak dan meninggalkan area itu.
Angin berhembus dan meniup dedaunan yang menutupi tanah. Pohon yang tadi di lihat oleh Tomy juga terkena hembusan angin yang membuat dedaunan yang menutupinya terhempas oleh hembusan angin saat meniupnya dan terlihatlah akan besar yang mencuat ke permukaan tanah dan bangkai tikus di sekitarnya.
Dua tim itu sekarang berpencar melakukan pencarian. Satu tim bergerak ke arah kanan dan tim lainnya berjalan ke arah kiri bersama Tomy.
“Darah siapa ini kira-kira ?” tanya Simon memeriksa bercak darah yang telah mengering itu. Mendengar perkataan Simon, tim evakuasi lainnya yang ada tak jauh dari situ mendekat untuk melihat bercak darah yang di sebutkan ketua tim evakuasi mereka.
Mereka kemudian kembali berjalan dan mencari jejak darah yang mungkin masih mereka temukan di sekitar pohon yang ada bercak darahnya. Benar saja mereka kembali menemukan bercak darah lainnya dan mengukuti jejak itu yang menuju ke suatu tempat.
Kembali ke Dirga dan Rheva yang sedang berlari. Karena ada bercak darah di tubuh mereka, kini di belakang mereka muncullah sepuluh serigala putih yang mengejar mereka setelah mencium baru darah dan mengendusnya.
“Celaka... mereka sudah mendeteksi keberadaan kita.” ucap Rheva menoleh ke belakang. Dia bingung bagaima nanti dia akan melawan para serigala putih itu. Dengan menggunakan kekuatan saja ia masih terluka apalagi jika melawan mereka dengan tangan kosong. Apa yang akan terjadi padanya ? Mati untuk yang kedua kalinya ?
__ADS_1
“Sialan... ! Setelah tikus, ular, dan sekarang kita bertemu dengan serigala itu. Benar-benar sial !” gerutu Dirga yang juga ikut menoleh ke belakang melihat segerombolan serigala itu yang terus mengejar mereka.
Dengan cepat kesepuluh serigala putih itu sudah mengepung mereka berdua.
“Bak... buk...” dengan terpaksa mereka berdua menghajar serigala yang ada di depan mereka dengan tangan kosong. Mereka memukul serigala itu, membanting ke tanah, membantingnya ke pepohonan dan sesekali menghantamkan serigala itu pada serigala lainnya. Lima ekor serigala tumbang dan lima lainnya masih mengejar.
“Jika kita terus menghajar mereka sampai habis yang ada akan bertambah jumlah mereka karena mereka memanggil temannya. Sebelum itu terjadi kita harus lari.” jelas gadis itu sambil menjauh dari kawanan serigala itu dan berlari masuk ke hutan. Sementara itu Dirga masih menghalau serigala itu agar temannya bisa lepas dari kejaran serigala.
Dirga berlari di belakang Rheva sambil terus memukuli kelima serigala itu masuk ke hutan.
“Srak... tap... tap...” terdengar suara langkah yang cepat tak jauh dari tim evakuasi.
“Awas ! Semuanya hati-hati ! Waspada ada yang mendekat dan kita tidak tahu siapa mereka.” ucap Simon berhenti setelah mendengar derap langkah yang cepat ke arah mereka membuat yang lainnya berhenti melakukan pencarian dan sekarang waspada.
Beberapa saat kemudian mereka melihat Dirga dan Rheva yang berlari ke arah mereka dan ada beberapa serigala putih yang mengejar mereka.
“Senior Simon... ” ucap Dirga saat dia bertemu dengan tim evakuasi dan ketuanya, Simon.
“Semuanya bantu Dirga dan Rheva menjatuhkan serigala itu. Hati-hati jangan sampai kalian terluka !” teriak Simon pada anggota timnya dan memimpin penyerangan serigala itu.
Semua anggota tim evakuasi mengikuti instruksi dari ketuanya dan melawan sekumpulan serigala putih itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG....