Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 62 Bukit Poisson


__ADS_3

“Tuan Marco maaf aku tak bisa berlama-lama disini, aku tidak bisa. Aku harus segera kembali ke hutan Hamakua secepatnya. Semua teman ku pasti khawatir pada ku karena aku sudah menghilang lenih dari dua hari.” ucap Dirga menolak halus tawaran Marco. Namun pemimpin kaum Cheval itu terus mendesaknya, sehingga dia bersedia untuk tinggal sebentar selama satu atau dua jam lagi dan setelah itu ia akan bergegas.


Dua jam berikutnya Dirga berpamitan pada semua penghuni lembah Polestar. Mereka semua mengucapkan sepatah dua patah kata sebelum mereka berpisah.


“Anak muda... Tunggu !” teriak Marco menghentikan langkah Dirga. Dia segera berbalik menatap Marco yang berjalan mendekat ke arahnya.


“Ada apa tuan Marco memanggil ku ?Apa ada sesuatu yang tertinggal ? Atau mungkin ada pesan untuk ku, tuan ?” tanyanya.


“Tidak ada... ini sebagai rasa terima kasih ku untuk mu.” memberikan sebuah kotak persegi kecil pada anak itu. Dirga menerima kotak pemberian Marco dan membukanya.


“Apa ini... apa ini..aku tak bisa menerimanya.” menutup kembali kotak itu lalu menyerahkan pada Marco setelah melihat isinya berupa rambut putih Centaurus yang merupakan barang berharga.


“Tak perlu sungkan begitu. Ambil saja. Anggap saja itu kenang-kenangan dari ku. Itu adalah rambut ku. Rambut ini punya banyak manfaat dan suatu saat kau pasti membutuhkan ini.” menyerahkan kembali kotak itu pada Dirga. Ia juga menyampaikan apa saja kegunaan dari rambut yang menjadi buruan itu serta cara pemakaiannya.


“Terima kasih tuan Marco, terima kasih...” melangkah pergi keluar dari markas itu.


“Tunggu... ! Satu lagi...” teriaknya kembali menghentikan langkah Dirga. Anak itu berhenti lagi dan membalikkan badannya.


“Ada apa lagi tuan ?” tanyanya penasaran. Kali ini apa lagi yang akan di berikan Marco untuknya.


“Agar kau tidak tersesat dan segera sampai ke hutan Hamakua, aku meminta Wooji untuk mengantar mu sampai ke perbatasan lembah Polestar ini.” Anak itu sangat senang sekali hingga tak bisa berkata-kata lagi.


“Wooji kemari... !!” panggilnya.

__ADS_1


“Ya tuan...” Wooji pun datang menghampiri.


“Antarkan anak muda ini sampai ke perbatasan !”


“Baik, tuan...” jawab Marco. Beberapa saat kemudian mereka berdua berjalan ke luar markas menuju ke perbatasan lembah Polestar.


Mereka berjalan menyusuri lembah yang sangat luas itu dimana terhampar padang rumput hijau sepanjang kaki melangkah. Burung-burung beraneka jenis dan warna berterbangan di pepohonan yang mengelilingi lembah itu. Tak terasa hari beranjak siang dan mereka sudah hampir di ujung lembah Polestar. Tiba-tiba Wooji berhenti di perbatasan lembah Polestar.


“Kita sudah sampai, di sinilah tapal batas lembah Polestar. Di depan sana adalah bukit Poisson. Setelah bukit Poisson barulah sampai ke tujuan mu, hutan Hamakua.” berhenti di area perbatasan tepat di depan sebuah array sambil memberikan penjelasan pada Dirga.


Wooji membuka array berlapis itu dan Dirga segera keluar meleawati array berlapis yang sekarang jumlahnya ada ratusan itu. Setelah dia keluar dari lembah Polestar array itu langsung menutup dan dari luar lembah itu terlihat seperti fatamorgana di tengah gurun.


“Akhirnya aku berhasil kembali juga, berhasil keluar dari aral rintangan yang menimpa ku...yey...!!” berteriak riang sambil merentangakan ke dua tangan lebar-lebar dan menghirup nafas dalam-dalam. Untuk sesaat dia menikmati suasana damai itu lalu melanjutkan perjalanan kembali menyusuri bukit Poisson itu.


Sementara itu Rheva sudah dua hari berada di goa. Satu hari sebelumnya dia sudah menyisir daerah itu untuk mencari jalan keluar namun dia sempat tersesat karena saat itu hari sudah petang. Pagi ini dia berniat akan kembali ke hutan Hamakua bagaimanapun caranya.


“Srak... srak...” Gadis itu menyibak dedaunan di jalanan yang ia lewati untik mencari bahan makanan. Sesaat kemudian ia mendengar suara gemerisik di semak. Ia berharap itu adalah kelinci atau hewan lainnya yang bisa di panggang.


“Kena kau...!!” gadis itu langsung menuju ke tempat asal suara itu berasal. Ia memperkirakan dengan tepat posisi buruannya itu dan langsung menangkapnya. Ia menarik tangannya kembali dari semak dengan memegang buruannya yang terasa aneh.


“Aargh.... ular !! Hampir saja !!” teriaknya saat melihat yang dia genggam adalah seekor ular bukan kelinci. Dia pun langsung menghancurkan ular itu dengan sihirnya karena ular itu membuka mulutnya lebar dan mau menggigitnya.


Seketika ular itu mati dan menjadi asap, hilang tak berbekas.

__ADS_1


Dia lalu kembali berjalan dan menyisir daerah itu mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Sudah satu jam lamanya dia berjalan dan sudah jauh ia menyisit tempat itu, namun gadis itu masih belum menemukan sesuatu yang bisa di makannya. Hingga dia melihat suatu tempat yang aneh di kejauhan, sebuah tempat yang tandus.


“Kenapa tempat itu tandus ? Sungguh sangat kontras sekali dengan tempat yang hijau ini padahal masih satu area.” berjalan dan memasuki daerah yang tandus itu.


Di tempat itu sangat terik sekali, tak ada tunbuhan sama sekali hanya ada rumput liar yang tumbuh di sana. Entah kenapa tempat itu membuatnya penasaran. Dia bisa mendengar suara sekecil apapun dan sejauh apapun dengan telinganya itu.


“Suara itu kan... apa benar ada air di tempat gersang ini ?” ucapnya mendengar suara gemericik air.


Gadis itu terus berjalan untuk mencari asal sumber suara itu dan benar saja akhirnya dia menemukan sebuah sungai kecil yang mengalir dengan bebatuan yang mengelilinginya.


“Aah... segar sekali air ini...” mengambil air dan membasuh wajahnya. Saat dia bercermin di sungai itu ia melihat ada banyak ikan yang berenang di air sungai yang jernih itu.


“Waah akhirnya aku menemukan makanan juga.” tertawa lebar melihat ikan yang besar berenang kesana-kemari. Tanpa pikir panjang gadis itu pun masuk ke sungai yang tingginya mencapai sepinggang nya itu dan menangkap beberapa ikan di sana.


Dia segera keluar dari sungai itu lalu mencari ranting untuk menusuk tiga ekor ikan yang ia tangkap. Rheva lalu mengeluarkan kekuatan apinya untuk memanggang ikan tangkapannya tadi.


Beberapa saat kemudian tercium aroma wangi dari ikan itu yang menandakan sudah siap di makan. Gadis itu tak langsung melahapnya tapi menunggu dingin baru ia memakannya. Karena lapar ia menghabiskan tiga ekor ikan bakar itu. Tak beberapa lama kemudian dia merasakan tubuhnya tidak enak.


“Celaka... kenapa aku tidak memeriksanya dulu. Bodohnya aku memakan ikan yang beracun ini.” merasakan mual hebat dan pusing. Seketika dia merasakan seluruh tubuhnya panas dan tak sadarkan diri.


Sementara itu di tengah perjalanan Dirga merasa haus. Ia pun mencari sumber air terdekat di bukit itu. Tak seberapa jauh dia menemukan air. Ia ragu akan apa yang di lihatnya adalah fatamorgana atau air sungguhan ? Karena sedari tadi berjalan dia melihat banyak fatamorgana.


Untuk memastikannya ia berjalan cepat ke sumber air yang di lihatnya. Di mencelupkan tangannya dan merasakan dinginnya air itu.

__ADS_1


“Ini memang sungai bukan fatamorgana lagi.” ucapnya mengambil air untuk membasuh wajahnya. Dia mengambil lagi air untuk ia minum, namun saat dia melihat di sisi lain sungai ada seseorang yang tergeletak di sana ia membatalkan meneguk air di tangannya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2