Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 112 Pemurnian Jiwa


__ADS_3

Dirga sama sekali tak menyangka jika gambaran yang di dapatkannya tentang masa lampau kedua pasangan suami-istri itu adalah perbuatan mereka berdua.


“Maaf... tapi aku masih tidak bisa mengerti semua ini.” jawabnya halus dan terus menyangkal.


Biana yang terlihat raut mukanya menjadi sedih karena putranya menolak mengakui sebagai darah dagingnya kembali menatap suaminya. Achille yang mengerti padahal kesedihan istrinya mencoba membesarkan hatinya dengan merangkul bahunya.


Lelaki itu lalu maju menghampiri Dirga. dia mencoba untuk berbicara dengan anak itu agar mengerti dan bisa menerima kenyataan.


“Keane... c'est moi... votre père. Tu est vraiment mon fils...” ucapnya sambil menepuk bahu putranya.


Dirga bisa mengerti ucapan dari lelaki itu yang menegaskan jika dia adalah putranya. Tanpa di sadarinya dia pun bisa menjawabnya dalam bahasa yang sama.


“Je suis désolé monsieur Achille. J'ai besoin de temps pour tout recevoir et penser que je suis comme ton fils.” balasnya pada lelaki itu yang kemudian tersenyum padanya.


Achille tampak senang anak itu mulai mau membuka hatinya. Mungkin sedikit usaha lagi dia akan mau memanggilnya ayah.


“Alors juste m'appelle père...” ucap lelaki itu meminta anak itu memanggilnya ayah.


“Apa yang kukatakan barusan... kenapa aku bisa bahasa mereka... ? Padahal aku sama sekali tak pernah mempelajari bahasa ini sebelumnya.” batinnya yang baru menyadari apa yang telah di ucapkan nya barusan.


Biana yang berdiri di belakang Achille maju dan menghampiri Dirga.


“Itu sebagai bukti jika kau adalah darah daging kami. Meskipun kami tidak membesarkan mu kau tetap bisa menggunakan bahasa ibu itu. Aku akan tunjukkan hal lain lagi agar kau lebih yakin.” ucap Biana sambil menyentuh kepala Dirga.


Wanita itu merapalkan sebuah mantra dan seketika tubuh Dirga menjadi bersinar terang seperti mereka. Saat sinar itu menghilang penampilan Dirga mengalami perubahan. Rambutnya yang semula berwarna hitam gelap kini berubah menjadi coklat muda dan warna bola matanya yang sebelumnya berwarna hitam pekat kini berubah berwarna biru seperti kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Bagaimana mungkin aku bisa berubah seperti ini... ?” jawabnya yang terkejut dan tak percaya saat melihat penampilan barunya dari mata Biana. Penampilannya kini benar-benar mirip perpaduan dari Biana dan Achille.


“Apa kau sudah mengerti...” tanya Biana kembali berharap anak itu membuka hatinya lagi untuk mereka.


“Aku... aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kenapa apa aku bisa berubah seperti ini...” tanyanya yang masih bingung dengan teka-teki yang dihadapinya saat ini.


“Baiklah nak, ibu akan menjelaskannya padamu. Wujud asli mu memang seperti ini jika kau kau terlahir dari rahim ku. Namun sayang dua bulan sebelum aku melahirkan mu, Arthur mengejar kami dan kami berjaga-jaga jika sesuatu hal yang terburuk terjadi pada kami. Kami menitipkan dirimu pada rahim Elsa, wanita yang melahirkan mu dengan pertimbangan dia sedang hamil dan baru saja mengalami keguguran. Jadi tubuhmu menyatu dengan sisa janin yang ada dalam kandungan Elsa. Maaf aku tak bisa merawat mu karena sebelum kami mengambil mu ternyata Arthur berhasil membunuh kami berdua.” ucapnya pada anak itu sambil menyentuh pipinya.


Hatinya berdesir setelah mendengar cerita dan penjelasan dari wanita yang memang adalah ibu kandungnya. Pandangannya sekarang tampak kosong karena tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Akhirnya hatinya terketuk setelah merasa bersalah karena tak mengakui mereka sebagai orang tua kandungnya.


“Ibu... maafkan aku...” ucapnya lalu memeluk ibunya itu.


“Ayah...” panggilnya pada lelaki yang ada di sebelah Biana.


“Akhirnya kita bisa berkumpul lagi meski dalam wujud roh.” ucap lelaki itu tersenyum lalu menghampiri Dirga dan memeluknya. Dalam sesaat mereka bertiga melepas kerinduan mereka setelah sekian lama berpisah dan baru bertemu. Air mata bahagia tampak keluar menetes dari sudut mata kedua orang tua kandung Dirga. Dirga yang merasa terharu pun ikut menitikkan air mata.


“Keane....” panggil mereka berdua.


Dirga mencoba membiasakan dirinya dengan panggilan barunya itu walaupun sebenarnya terasa asing dan aneh baginya.


“Sayang... kami berdua tak bisa memberikan apapun padamu. Kami sudah melakukan melakukan pembersihan pada jiwamu. Dan jiwamu saat ini sudah murni. Saat jiwa mu kembali murni, kekuatan mu akan meningkat berkali-kali lipat. Dan sebentar lagi kau akan bisa kembali ke tubuh kasar mu.” ucap Biana Roussel sambil mengusap rambutnya.


“Keane... ayah minta maaf padamu karena tidak bisa menjagamu. Aku ingin memberikan pusaka ku pada mu. Terimalah ini...”


Achille memberikan sebuah pedang pada Dirga. Saat pedang itu sampai di tangan Dirga, pedang itu berubah wujud menjadi sebuah liontin kristal berwarna hijau.

__ADS_1


“Pakailah pedang penghancur jiwa yang yang merupakan pusaka paling berharga dari Pixy itu.” ucapnya lagi menjelaskan.


“Terimakasih ayah... tapi aku tidak bisa menggunakan pedang. Aku tidak pernah berlatih menggunakan pedang sebelumnya.” jawabnya sambil tersenyum.


Biana maju dan mengambil liontin pedang penghancur jiwa itu serta memasangkan di lehernya. seketika liontin itu bersinar terang sekali.


“Pedang ini sudah mengakui dirimu sebagai pemiliknya. setelah ini akan ada seseorang yang bisa membantumu berlatih ilmu pedang.” jelas Biana Roussel.


“Tugas kami sudah selesai setelah menyerahkan pedang pusaka itu padamu. Kami tidak memintamu untuk membalaskan dendam kami. kami hanya ingin kau bisa melindungi dirimu dan yang lainnya dari kekejaman Arthur.” ucap Achille menepuk bahu Dirga.


“Ayah... Ibu... aku janji... aku akan mengalahkan Arthur dan membalaskan dendam kalian padanya.” ucapnya dengan mata yang tampak berkilat-kilat.


“Tiba waktunya bagi kami untuk pergi meninggalkan dunia ini. Jika kau rindu pada kami datanglah ke rumah, semua memori ada di sana. Satu lagi kami mengirimkan pengawal khusus kami padamu untuk menjagamu. Dia adalah Andrew yang berwujud sebagai elang putih yang kau pelihara. dia akan selalu membantu kapanpun kau membutuhkan bantuannya.” ucap Biana Roussel menambahkan.


Mereka berdua kembali memeluk Dirga untuk terakhir kalinya sebelum roh mereka benar-benar menghilang dan masuk ke alam nirwana.


“Ayah... Ibu... jangan pergi.” ucapnya saat melihat roh mereka berdua yang perlahan mulai memudar.


“Kami akan selalu ada di hatimu selamanya.” ucap mereka berdua sambil tersenyum dan kemudian menghilang dari pelukan Dirga.


Tak terasa air matanya menitik di sudut dari sudut matanya melihat kepergian kedua orang tua kandungnya.


Dia pun kembali memegang nisan kedua orang tuanya itu sambil memegang liontin penghancur jiwa. Tiba-tiba liontin penghancur jiwa itu kembali bersinar hijau terang sekali.


Sinar itu menghempaskan tubuhnya dari tempat itu dan menyeret tubuhnya jauh ke suatu tempat.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2