
Tiga ambulans meluncur ke rumah sakit dengan cepat. Ketiga korban itu langsung dilarikan ke ruang IGD dan mendapatkan perawatan intensif.
Satu jam berikutnya dokter keluar dari ruang IGD dan menyatakan bahwa dua pasien kritis serta satu pasien mengalami luka sedang.
Rumah Sakit segera menghubungi keluarga dari korban yang bersangkutan.
Saat itu Elsa baru pulang kerja dan duduk di sofa sekedar meluruskan otot pinggang nya yang kaku setelah seharian bekerja di kantor.
“Kring... kring...kring...” suara ponsel Elsa yang berdering.
Wanita itu meraih tas yang ada di dekat meja dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya.
“Nomor tidak dikenal...?” ucapnya setelah melihat ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.
Dahinya tampak berkerut menatap ponselnya itu dan tampak berpikir keras menerka nomor siapa yang menelponnya saat itu.
“Ya halo...” jawabnya setelah menerima panggilan.
“Ini dari Rumah Sakit Angkasa. Apa benar ibu adalah orang tua dari saudara Dirga ?” tanya seseorang dari seberang telepon.
Jantung Elsa berdetak cepat setelah mendengar nama anaknya disebut. Dia masih mendengarkan suara perawat itu dari ponsel yang digenggamnya semakin erat dan berharap tak ada kejadian yang tak diinginkan yang menimpa putranya itu.
“Ibu kami menyampaikan bahwa putra ibu bernama Dirga sekarang sedang dirawat di ruang ICU setelah terkena tembakan peluru nyasar.” ucap berangkat Itu menjelaskan dari seberang telepon.
Mendengar berita itu seketika otot yang ada di tubuh Elsa menjadi tak bertenaga karena sangat terkejut.
“duk...” Ponsel terlepas dari genggaman Elsa dan jatuh ke lantai.
“bruk....” tubuhnya terjatuh di lantai karena tidak kuasa mendengar berita buruk itu.
“Halo... halo... ibu Elsa apa anda masih ada di seberang sana ?” ucap perawat itu yang memanggilnya karena tidak mendengar respon lagi darinya.
“tap... tap...” Suara langkah kaki Hadwan berjalan mencari istrinya.
Lelaki itu mencari Elsa di kamarnya namun tidak menemukannya lalu dia berjalan ke ruang keluarga dan melihat istrinya terduduk lemas di lantai.
Hadwan segera berlari menghampiri istrinya lalu mengangkat dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
__ADS_1
“Sayang ada apa... apa yang terjadi padamu...” banyaknya pada istrinya yang masih tampak lemas dan shock.
Elsa tidak menjawab pertanyaan suaminya dan hanya menatap ponselnya yang masih tergeletak di lantai.
“Halo... halo...” suara dari ponsel Elsa.
Hadwan yang mendengar ponsel itu belum mati segera mengambilnya dan menempelkan ke telinganya.
“Halo dari mana ini... ?” tanyanya pada penelpon di seberang sana.
“Halo bapak... ini dari Rumah Sakit Angkasa. Kami menyampaikan bahwa putra bapak dan ibu sekarang sedang dirawat di ruang ICU. Tolong bapak dan ibu segera kemari.” ucapnya perawat itu menjelaskan kembali.
“Ya baik... bagaimana kondisi putra kami... apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya ?” tanyanya yang menjadi khawatir mendengar berita yang mendadak itu.
Perawat Itu menjelaskan kejadian yang terjadi pada Dirga, juga di ruangan mana dia dirawat sekarang.
Setelah percakapan selesai, Hadwan mematikan ponsel dan menaruhnya ke meja. Dia segera duduk di samping istrinya dan memeluknya.
“Aku tahu ini berat untukmu tapi sekarang putra kita sangat membutuhkan kita. Ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang juga.” ajak lelaki itu pada istrinya.
“Kenapa anak itu bisa sampai terkena peluru nyasar...” ucapnya lagi dengan badan yang tampak gemetar.
“Sudah sayang... kita harus segera bergegas.” ucapnya kembali lalu mengajak istrinya untuk segera keluar dari rumah itu.
Mereka berdua pun langsung bergegas menuju ke Rumah Sakit Angkasa. Tak beberapa lama kemudian mereka akhirnya tiba di rumah sakit itu.
Elsa berlari menuju ke rumah eyang yang ada di rumah sakit itu dan mencari putranya namun tidak menemukannya.
“Sayang, Dirga tidak ada di sini.” ucap wanita itu keluar dari ruang ICU dan berlari menuju ke suaminya yang akan masuk ke ruang ICU.
Dari kejauhan seorang perawat wanita datang menghampiri mereka berdua.
“Suster... tolong beritahu di mana tempat anak kami dirawat...” ucap Hadwan saat perawat itu melewati mereka.
Perawat itu berhenti dan menanyakan nama pasiennya, “siapa nama putra atau putri Bapak ?”
“Dirga... tolong beritahu kami di mana dia dirawat sekarang.” jawabnya dengan Elsa yang mengikutinya berjalan dari belakang.
__ADS_1
“Pasien atas nama itu sudah pindah dari ICU dan sekarang ada di ruang Sinar Venus.” jawab perawat itu yang membuat mereka berdua semakin khawatir dan penasaran bagaimana keadaan putranya.
“Lalu bagaimana keadaan putra kami ?” tanya Elsa maju dan berhadapan dengan perawat itu.
Perawat itu diam tak bisa berkata-kata melihat raut muka kedua orang tua itu yang sangat cemas sekali.
“Biar ku antar Bapak dan Ibu ke ruangan di mana Putra bapak dan ibu dirawat.” ucap perawat itu.
Perawat itu berjalan melewati ruang ICU dan menuju ke ruangan tempat di mana Dirga di rawat. sedangkan. Elsa dan Hadwan mengikuti perawat itu dengan harap-harap cemas.
“Di sini ruangannya... Bapak dan Ibu silahkan masuk. Saya permisi dulu.” ucapan perawat itu berhenti di depan ruang Sinar Venus dan membukakan pintu.
Elsa masuk ke ruangan itu. Sementara Hadwan mengejar perawat itu dan menanyakan kronologis kejadian yang menimpa putrinya hingga sampai seperti itu.
Setelah dia mendengar kronologis kejadian secara terperinci dia pun segera masuk ke ruangan itu menyusul istrinya. Dia menutupi wajah muram dan sedihnya setelah mendengar kondisi putranya yang kritis karena terkena peluru yang mengenai titik vitalnya di jantung. Meski peluru berhasil di keluarkan, namun hanya keajaiban saja yang bisa membangunkannya.
“Sayang bagaimana kondisi anak kita ?” tanya Hadwan menghampiri istrinya yang sedang duduk di kursi di samping Dirga berbaring.
Elsa hanya diam menatap suaminya lalu beralih menatap Dirga sambil terus memegang tangan anak itu.
“Bip.... bip....” suara detak jantung yang terekam oleh elektro kardiogram yang ada di samping anak itu dalam kondisi stabil.
“Dirga... apa kau mendengar suara ibu, nak ?” panggil Elsa sambil terus menggenggam tangan putranya.
Tak ada respon sama sekali baik ucapan maupun gerakan dari anak yang masih terbujur kaku di ruangan itu. tak terasa air bening menetes dari sudut mata wanita itu dan membasahi pipinya.
“Sayang... apakah menurutmu putra kita akan baik-baik saja ?” tanyanya pada Hadwan.
Hadwan diam menunduk dan mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kata yang bisa menghibur istrinya.
“Sayang... putra kita akan baik-baik saja setelah melewati masa kritis.” jawabnya sambil memegang tangan istrinya.
Mendengar jawaban itu Elsa menjadi sedikit lega dan tersenyum pada suaminya. Dia berpikir masih ada kesempatan dan kemungkinan untuk anak itu selamat.
Dada lelaki itu terasa sesak sekali melihat senyum di bibir istrinya yang mengembang menatapnya. Namun dia menguatkan hatinya dan mencoba tabah menghadapi kenyataan yang ada saat ini.
BERSAMBUNG....
__ADS_1