
Pagi hari Dirga terbangun dari tidurnya. Ia merasa semalam seperti bermimpi bertemu dengan seorang ahli ilmu reiki yang mengatakan namanya Master Hideyoshi yang mengajarinya teknik penyembuhan tubuh.
Ia menganggapnya mimpi, karena baginya kejadian semalam merupakan kejadian tak nyata, dan ia tak memikirkannya.
Ia keluar dari kamar untuk mandi dan bersiap berangkat ke sekolah. Saat berjalan menuju ke dapur hendak makan, ia melihat Neneknya yang sedang duduk di dekat dapur sedang memakai sweater dan wajahnya tampak pucat.
Ia kemudian berhenti di sebelah Nenek dan menyentuh dahinya yang memang terasa panas.
“Dahi Nenek lebih hangat dari Dahi Dirga,” memegang dahinya sebagai pembanding antara suhu panas di tubuhnya dengan Neneknya, “Apakah Nenek sakit ? Nenek sakit...”melihat mata Nenek yang menjadi merah dan berair.
“Nenek tidak enak badan, mungkin mau flu,” menurunkan tangan Dirga, “Sudah makan dulu biar daya tahan tubuh mu kuat dan tidak mudah tertular penyakit.
Dirga merasa iba dan kasihan pada Neneknya. Melihat kondisinya yang sedang sakit sekarang, ia ingin membantu mengobatinya, meski hanya sedikit saja yang bisa ia lakukan. Karena Nenek nya sudah seperti Ibunya sendiri.
Ketika masih bayi dulu, ia sering tidur bersama Neneknya. Mungkin memang karena cucu pertama ya, jadinya ia di manja oleh Nenek. Ingin ia mengambil penyakit itu dari tubuh Nenek dan memindahkan ke tubuhnya, agar dia yang merasakan sakitnya.
Dirga iseng mencoba mempraktikkan reiki pada Nenek. Ia memegang dahi Nenek, lalu seolah menarik rasa sakit dari tubuh Nenek dan memindahkan ke tubuhnya.
Meskipun ia hanya iseng, ternyata ia merasakan rasa panas dari tubuh Nenek keluar dan berpindah ke tubuhnya. Sekarang tubuhnya terasa hangat. Ia merasakan dahi Nenek yang suhunya menjadi normal sekarang.
“Kok barusan tubuhku rasanya enteng dan tidak panas lagi ya setelah kau menyentuh dahi Nenek ?” menyentuh dahinya yang sudah tidak panas lagi tadi.
Nenek lalu melihat Dirga yang sekarang justru tampak berkeringat secara tiba-tiba dan matanya menjadi berair. Ia kemudian memegang dahi Dirga yang terasa hangat.
“Kenapa aku merasa aneh ya, badan ku secara tiba-tiba sembuh dan sekarang malah kau yang panas. Apakah mungkin panas dari tubuhku pindah ke tubuh mu ? Tapi bagaimana mungkin ? Hal seperti itu kan tidak ada.” menatap Dirga dengan bingung.
__ADS_1
“Dirga tidak apa-apa Nek, Dirga baik saja. Mungkin kurang air. Dirga minum dulu biar tidak kepanasan.” meninggalkan Neneknya dan pergi ke dapur.
Dirga akhirnya sadar jika dia ternyata bisa menggunakan ilmu reiki, meskipun masih jauh dari sempurna. Karena sakit nya memang hilang dari tubuh penderita, namun berpindah ke dirinya.
“Semalam bukan mimpi, semalam nyata.” melihat tangannya yang berubah warna menjadi lebih pucat dari sebelumnya.
Dirga mulai merasakan panas di tubuhnya. Ia tak tahu bagaimana cara menghilangkan panas yang bersarang pada tubuhnya. Ia pun segera minum banyak air putih untuk meredakan rasa panas di tubuhnya. Dia menghabiskan tiga gelas besar air mineral sekaligus, namun rasa panas itu masih ada meskipun sudah berkurang sedikit.
“Bagaimana caranya, bagaimana ini... aku tidak tahu.” keluar dari dapur dan menuju ke kamar untuk mengambil tasnya.
Sampai di dalam kamarnya, ia kaget. Karena melihat Master Hideyoshi yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Kau sudah mulai mempraktikkan, walaupun belum sempurna. Dan tampaknya sakit itu sekarang ada pada tubuh mu.” melayang lalu turun dan berdiri di depan Dirga.
“Memang perlu banyak latihan. Jangan kau pindah kan sakit yang kau ambil itu ke tubuh mu, tapi buang. Lepaskan rasa sakit yang berubah menjadi energi negatif saat keluar dari penderita ke udara.” memberikan penjelasan panjang lebar.
“Sekarang aku akan mengeluarkan rasa sakit itu dari tubuh mu.”
Master Hideyoshi menyentuh dahi Dirga. Dirga merasakan rasa panas itu tertarik keluar dari tubuhnya, namun tidak masuk ke tubuh sang Master, melainkan terputus seketika dan menyebar bebas di udara yang kemudian menghilang. Seketika tubuhnya yang tadinya hangat, sekarang kembali ke suhu normal tubuhnya.
Setelah me-reiki Dirga, ia pun menghilang dari ruangan itu.
Dirga segera mengambil tas sekolahnya lalu keluar dari kamar dan menuju ke halaman depan, karena Ayahnya sudah menunggunya di sana.
“Hari ini kita akan berangkat ke sekolah mu naik motor. Mobilnya masih Ayah servis, baru selesai nanti siang. Tidak apa kan ?” mengambilkan helm kecil untuk Dirga lalu memakaikannya.
__ADS_1
Dirga mengangguk menatap Ayahnya, lalu ia segera naik dan duduk di belakang Ayahnya. Ia sempat melihat Ayahnya yang berjalan dengan kaki agak sedikit di seret.
“Ayah, kaki Ayah kenapa ? Tadi Dirga lihat kaki Ayah sepertinya sakit, Dirga lihat tadi Ayah berjalan tidak seperti biasanya.” memegang erat Ayahnya sambil melihat jalanan di sekitar sekolahnya yang sekarang sepi, tidak ada anak-anak kecil yang bermain dan juga beberapa rumah yang berjajar.
Namun Dirga tidak memikirkannya, kemana perginya mereka semua, dan kembali fokus dengan pertanyaannya pada Ayah.
“Tidak apa Nak, tadi kaki Ayah kejauhan kunci inggris saat di bengkel mobil, jadi kakiku sedikit nyeri rasanya. Kau tidak perlu khawatir, nanti akan sembuh setelah di rawat oleh Mama mu.”
Dirga kemudian mencoba memakai reiki untuk meredakan rasa sakit yang di keluhan Ayahnya, sekaligus melatih kemampuannya agar semakin mahir. Namun ia tak bisa menyentuh bagian pusat tubuh yang cedera, yaitu di kaki.
Kemudian dia mencari titik alternatif yang masih berhubungan dengan saraf kaki. Ia berpikir keras dan kemudian menyentuh punggung belakang Ayah dan mengalirkan energi reiki, menembus kulit tubuh Ayah lalu mengalir pusat sakit di kaki.
Ayah tidak tahu kenapa Dirga tiba-tiba menyentuh bahu kirinya. Dan seketika ia merasa ada energi hangat yang masuk ke tubuhnya dan menuju ke bagian kaki nya yang terasa nyeri tadi. Dan ia merasa jika rasa nyeri hebat pada kakinya tadi berkurang banyak.
Beberapa saat kemudian mereka tiba di depan gerbang sekolah Dirga. Ia turun bersama Ayahnya dan melihat Ayahnya sudah berjalan normal, tidak menyeret kakinya lagi.
Ayah pun juga merasa kakinya menjadi jauh lebih enteng daripada tadi. Ia mengantar Dirga sampai depan gerbang sekolah.
“Dirga masuk dulu Ayah, Dirga masuk kelas dulu.” melepas tangan Ayah yang menggandengnya lalu berjalan masuk dengan sedikit menyeret kakinya yang terasa nyeri.
Ayah merasa aneh melihat Dirga yang tadi baik-baik saja, kini berjalan dengan sedikit menyeret kaki kirinya.
“Apa hanya perasaan ku saja ya... anak itu juga mengalami nyeri kaki di kiri, sama dengan ku tadi. Tapi sekarang aku merasa baikan. Apa mungkin anak ku bisa menyembuhkan ku, apakah dia mentransfer sakit ku ke tubuhnya ?” memandang Dirga sampai anak itu masuk ke kelas.
Ayah kemudian kembali menaiki motor setelah Dirga masuk ke kelas. Sepanjang perjalanan ia berpikir tentang keanehan yang ia alami tadi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...