
Elsa mencari informasi mengenai seseorang yang bisa menangani masalah tentang penglihatan gaib. Ia mencari informasi dari berbagai sumber untuk mencari ustad, orang pintar, cenayang atau sejenisnya yang bisa membantunya untuk menutup penglihatan Dirga.
Ia tak ingin anak nya yang sudah tidak normal itu tumbuh menjadi lebih abnormal lagi karena kemampuan indigo nya itu. Sebab setahu dia kebanyakan anak indigo terlihat aneh. Mulai dari penampilan, pikiran dan teman-temannya. Mayoritas sebagian dari mereka mendapat cap “jelek” di mata masyarakat, dan menganggapnya sebagai titisan, reinkarnasi orang yang hidup di masa lampau. Ia tidak pernah percaya pada hal seperti itu.
Setelah bertanya kesana-kemari dan mencari informasi dari internet ia pun mendapatkan petunjuk. Ia mendapatkan alamat seorang ustad di sekitar daerah tempatnya tinggal. Ustad Fawaz.
“Akhirnya kau datang juga...” ucap Elsa menunggu Hadwan pulang kerja.
“Ada apa sayang... ?” menaruh tas kerja di meja kamar lalu duduk di tepi ranjang.
“Ini... aku mendapatkan rekomendasi seorang ustad dari beberapa teman di kantor.” menyerahkan secarik kertas berisi nama dan alamat ustad Fawwaz.
Hadwan membaca secarik kertas pemberian dari Elsa kemudian mengembalikan pada istrinya lagi.
“Apa maksud mu ? Jangan bilang kau ingin...” tidak melanjutkan kalimatnya karena tidak ingin membawa Dirga ke sana.
“Ya tentu saja aku akan membawa anak kita ke sana. Aku tidak mau hidupnya terganggu karena hal itu.” bersikeras dan memaksa suaminya agar menuruti permintaannya.
“Ayolah antar aku ke sana...” terus mendesak Hadwan.
Elsa kalau mempunyai keinginan akan terus mengejar keinginan itu sampai dapat dan tak bisa di hentikan. Jadi percuma meskipun Hadwan membantah sekeras apapun, dia akan tetap kalah dan menuruti kemauan istrinya yang tak bisa cegah kali ini.
“Bagaimana ya... aku sebenarnya tidak setuju, tapi Kamu terus memaksa ku...” bimbang dan menjadi dilema harus memilih istri atau anaknya. Karena keduanya sangat penting baginya.
Aku janji padamu apapun hasilnya nanti, aku tidak akan pernah mengajak anak kita kembali menemui ustad, orang pintar atau sejenisnya.” kembali memohon pada Hadwan sambil merajut di bahunya.
“Baiklah...aku akan memegang janji mu. Kapan kita akan berangkat ?” tanya Hadwan sambil memegang tangan Elsa.
“Bagaimana jika sore ini...” jawab Elsa yakin.
“Baiklah, sebaiknya kau segera bersiap.” meminta Elsa untuk segera bersiap.
Hadwan dan Elsa segera bersiap. Setelah semuanya siap, mereka masuk ke kamar Dirga.
Elsa melihat Dirga sedang bermain di kamarnya. Anak itu sedang bermain pesawat terbang dan menjalankan remote kontrol, menggerakkan pesawat terbang meluncur mengitari kamar dan mengitari kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Dirga... sudah dulu mainnya ya. Ayo ikut Mama dan Ayah.” menghampiri Dirga.
“Kemana Ma ?Kemana Mama akan mengajak Dirga pergi ?” bertanya dengan polos dan sangat penasaran, membayangkan akan di ajak ke tempat bermain, atau membeli banyak mainan.
Elsa menoleh ke Hadwan dan menyikut lengannya pelan, karena tak tahu harus menjawab apa.
“Kami akan mengajak mu ke taman bermain nanti, Nak...” menatap balik Elsa, berpikir sejenak dan menemukan alasan yang tepat, agar Dirga percaya dan mau mereka ajak.
Tanpa rasa curiga dan tidak tahu jika dirinya di bohongi, ia pun bersedia pergi dengan Mama dan Ayahnya itu.
“Sekarang ganti baju dulu ya...”
Elsa mengambil baju dari lemari baju Dirga, lalu mengganti baju yang di kenakan tadi dengan baju yang barusan ia ambil.
“Ayo kita berangkat sekarang...” ajak Ayah lalu menggandeng Dirga.
Mereka bertiga kemudian masuk ke mobil dan segera meluncur ke jalanan. Selama perjalanan, Dirga melihat jalan yang ternyata tidak menuju ke taman bermain. Karena dia hafal jalan menuju ke sana, dan jalan yang di lewati kali ini bukanlah menuju ke sana, melainkan menuju ke suatu tempat yang ia tak pernah tahu sebelumnya.
“Ayah katanya mau pergi ke taman bermain ? Ini bukan jalan menuju ke taman bermain Ayah. Dirga mau ke taman bermain.” berdiri dari kursi belakang dan mendekat ke kursi Ayahnya.
“Iya Nak... nanti kita akan ke taman bermain setelah mampir sebentar ke rumah teman Ayah ya...”kembali berbohong dan menoleh sebentar ke Dirga.
Hadwan membaca kembali alamat yang ada pada secarik kertas tadi, daerah Kemuning. Ia belum pernah ke sana sebelumnya, meskipun daerah itu berlokasi dengan kota Atlanta.
Dia memelankan laju mobil untuk mencari alamat Ustad Fawwaz yang semestinya ada di jalanan yang ia lewati sekarang.
Setelah beberapa lama mencari, dan sempat memutar karena salah arah akhirnya ia menemukan juga.
Mereka bertiga turun dari mobil.
Hadwan mengetik pintu dan menunggu. Tak berapa lama kemudian pintu terbuka. Seorang pria paruh baya berbaju serba putih dan memakai sorban di kepala, keluar dari dalam rumah.
“Ada yang bisa di bantu ?” menatap Hadwan yang belum pernah ia temui.
“Kami ingin bertemu dengan Ustad Fawwaz. Kami ada perlu dengan beliau.” menjelaskan maksud kedatangannya.
__ADS_1
“Saya sendiri ustad Fawwaz, silahkan masuk.” berjalan masuk setelah mepersilahkan masuk.
“Ajak Dirga main sebentar di luar, agar ia tidak tahu apa yang akan aku sampai kan. Nanti aku panggil saat prosesinya.” berbisik pelan di telinga Elsa agar tidak terdengar oleh Dirga.
Hadwan masuk ke dalam. Sementara Elsa mengajak Dirga membeli es krim setelah melihat ada toko yang menjual es krim di dekat rumah Ustad Fawwaz.
“Jadi begini ustad, maksud kedatangan saya ke sini adalah mau meminta bantuan pada Ustad. Anak kami mempunyai kemampuan melihat makhluk gaib, apakah Anda bisa menutupnya ?” menjelaskan tujuannya datang ke sana.
“Saya bisa membantu menutup penglihatan indera ke enam putra Bapak. Tapi itu adalah bawaan lahir, suatu anugerah. Meskipun saya menutupnya, suatu saat akan terbuka lagi.” menatap lurus ke Hadwan.
“Baiklah, saya akan membantu. Tolong sebutkan nama lengkap anak Bapak.”
“Namanya Nalendra Dirga Mahavir...”
Gus Fawwas menutup mata sebentar seperti melihat dan membaca Dirga.
“Anak Bapak merupakan anak yang spesial, dia mempunyai berbagai kelebihan. Ada seseorang yang selalu menjaga, hidupnya penuh keberuntungan.” membuka mata menatap Hadwan.
“Sekarang tolong bawa Anak Anda kemari.”
Hadwan keluar dari rumah Gus Fawwas, lalu memanggil Elsa yang baru kembali bersama Dirga dari sebuah toko.
“Ayo masuk, sudah di tunggu.” menggandeng Dirga masuk, Elsa mengikuti mereka berdua masuk.
Hadwan membawa Dirga pada Gus Fawwas. Gus Fawwas mengajak Dirga berbicara sebentar agar tidak tegang. Ia kemudian menyentuh kepala dan menggerakkan tangan menyapu kelopak mata Dirga yang membuatnya tertutup cepat, sambil merapal sebuah doa.
Tiga menit kemudian ia melepaskan tangan dan membiarkan Dirga membuka mata kembali.
Dirga membuka mata, dia tidak merasakan apa-apa pada matanya. Baginya ia masih bisa melihat sekitar seperti biasanya.
“Terima kasih Gus Fawwas bantuannya, kami permisi dulu.” berpamitan kemudian keluar rumah bersama Elsa dan Dirga.
“Ayah... kita jadi kan ke teman bermain ? Kata Ayah tadi akan ke taman bermain ?” menatap Ayahnya seolah menagih janji.
“Iya tentu saja, kita akan ke taman bermain sekarang.” mengelus kepala Dirga.
__ADS_1
Mereka bertiga masuk ke mobil kembali, lalu melaju di jalanan menuju ke taman bermain sesuai permintaan Dirga. Elsa hanya tersenyum melirik Dirga dari kaca, lalu menatap Hadwan seolah berterima kasih karena sudah membantu mengatasi masalahnya.
BERSAMBUNG...