Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 114 Teknik Ilusi


__ADS_3

Keesokan harinya pagi hari sekali Dirga segera keluar dari ruangan tempatnya di rawat dengan menembus tembok menuju ke ruang dimensi tempat latihannya.


Ternyata di sana Kakek guru sudah menunggunya berdiri di tengah ruangan sambil memegangi jenggot putihnya.


“Anak muda pagi sekali kau sudah datang.” tanya kakek Sanca.


Dirga hanya tersenyum menatapnya lalu menghampirinya.


“Baiklah hari ini kita akan latihan teknik ilusi.” ucapnya menjelaskan.


Kakek Sanca mulai menjelaskan dan Dirga mendengarkannya dengan seksama. Kakek guru menjelaskan jika teknik ilusi merupakan teknik yang paling sempurna di antara teknik lainnya. Dimana dengan teknik ini bisa menjangkau sisi terlemah lawan lalu memberi efek ilusi serta membuatnya menderita karena ilusi itu.


“Kurasa hebat sekali yang di gitu kakek guru...” ucap Dirga setelah mendengarkan penjelasan tentang teknik ilusi.


“Sekarang perhatikan aku...” ujar kakek Sanca memberi contoh.


Kakek guru mempraktekkan teknik ilusi pada Dirga. Dia menatap kedua mata anak itu cara memasuki alam pikirannya. Sang kakek membaca pikirannya dan mencari kekosongan yang ada dalam diri Dirga.


Begitu dia menemukan kekosongan itu dia pun langsung memberikan ilusi pada anak itu dalam pikirannya.


Seketika Dirga melihat kejadian buruk berupa ketakutan yang selama ini selalu dia rasakan. Dia teringat kembali masa lalunya dimana di masa kecilnya banyak para anak yang memperlakukannya dengan tidak baik.


“Lempar bola kasti itu ke kepala Dirga biar otak anak itu sembuh dan normal seperti kita.” ucap seorang anak kecil pada temannya yang saat bermain kasti bersama.


“buk...” anak kecil yang lain melemparkan bola kasti ke kepala Dirga dengan keras dan membuat kepala anak itu seketika benjol. sedangkan teman yang lainnya tertawa menyaksikan kejadian itu.


“Kalian bukan temanku kalian adalah setan. Aku tidak butuh teman seperti kalian. menyingkirlah kalian semua dari diriku !” teriak Dirga setelah melihat bayangan ilusi itu sambil memegang kepalanya.


Dirga kembali melihat bayangan masa lalunya yang menakutkan.

__ADS_1


“Bagaimana bisa kau melahirkan seorang anak autis yang akan mempermalukan diri kita seperti itu ?” ucap Hadwan pada Elsa di kamar tidur.


Ucapan itu menyinggung perasaan Elsa dan membuatnya melemparkan kesalahan pada suaminya.


“Seharusnya kau salahkan dirimu sendiri anak kita seperti itu karena dirimu. Benih yang kau tanam dalam rahimku itu merupakan benih yang sangat buruk !” ucapnya marah pada Hadwan dan membuat mereka berdua menjadi berseteru hebat.


“Itu tidak benar ayah dan ibu menyayangiku... !” teriak Dirga setelah melihat dan mendengar yang diucapkan oleh orang tuanya.


Kembali dia melihat bayangan Rheva, gadis yang selalu dirindukannya.


“Aku tak mau dekat-dekat lagi denganmu. Bagiku kau seperti orang cacat. Pergilah sejauh mungkin dariku atau jika tidak aku akan menghilang dari kehidupanmu selamanya...”ucap Rheva dengan tatapan kebencian serta merendahkan tertuju padanya anak gadis itu pergi meninggalkan dirinya begitu saja.


“Ah... tidak... Rheva tunggu ! Itu tidak benar kan ? Katakan padaku itu semua salah dan kau selalu bisa menerima diriku apa adanya...” ucapnya berteriak dan merasa sedih karena gadis itu meninggalkan dirinya seperti sampah.


Dirga kini larut dalam kesedihan dan emosi negatif yang tercipta dari ilusi buatan sang kakek guru.


“Hmm... hahaha... kau sudah masuk dalam kekosongan hatimu sendiri. Sebentar lagi kau akan merasakan teknik ilusi yang lebih dalam lagi.” ucap guru Sanca lirih menunggu reaksi yang terjadi pada anak itu.


Saat dia tersadar dia baru menyadari jika semua yang dilihatnya tadi adalah ilusi belaka. Namun hal itu sudah terlambat karena dia merasakan utama tubuhnya terkunci tak bisa digerakkan sama sekali. Dan dia juga merasakan ada energi yang mulai membakar tubuhnya yang kini mulai terasa panas.


“Kakek guru... apakah ini efek dari teknik ilusi ?” tanyanya pada kakek guru sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Kakek Sanca hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepala menatapnya.


“Kakek guru...tolong aku... aku sudah tidak tahan dengan teknik ilusi ini. Aku merasa tubuhku akan segera hancur berkeping-keping.” ucap anak itu memohon karena tak tahan lagi merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.


Kakek Sanca segera menarik ilmu ilusi itu dari tubuh Dirga. Terlihat bola cahaya beraneka warna keluar dari tubuh anak itu dan masuk ke tangan sang kakek guru.


Seketika tubuh Dirga bisa digerakkan kembali setelah kakek guru menarik ilmu ilusi itu dari tubuhnya. Dia berdiri setelah tadi sempat jatuh karena menahan kuatnya ilmu itu.


“huft...” Dirga menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan untuk melemaskan ketegangan otot pada tubuhnya.

__ADS_1


Kakek guru berjalan menghampiri Dirga lalu memegang pundaknya.


“Sekarang giliran mu anak muda untuk berlatih teknik ilusi ini. Praktekkan pada ku sekarang juga.”


Dirga mengangguk sambil mengatur kembali nafasnya yang masih belum stabil. Sedangkan kakek guru membimbing anak itu dan menjelaskan langkah-langkah penguasaan teknik itu.


Setelah nafasnya kembali tenang dan dia sudah mengerti penjelasan dari kakek Sanca, Dirga pun mulai mempraktekkan teknik ilusi itu.


“Kakek guru bersiaplah...!” ucapnya bersemangat.


Dirga mulai fokus dan menatap mata kakek Sanca. Dia mencoba masuk ke dalam pikiran sang kakek guru dan mencari kehampaan hati gurunya dan mulai membuat ilusi untuk gurunya.


“Zap... !” dalam sekejap kakek Sanca mulai melihat ilusi.


“Sanca aku tak mau lagi berhubungan dengan dirimu. Jangan pernah berharap kau bisa menikah denganku. Aku sangat kecewa sekali padamu karena kau tak bisa menyelamatkan kakak ku. Lebih baik kau jangan pernah sekalipun menampakan muka mu di hadapanku !” ucap seorang wanita cantik berambut ikal yang merupakan kekasih sang guru di masa lalunya dengan amarah dan kebencian memuncak.


Untuk sesaat kakek Sanca terpengaruh oleh ilusi itu. Namun dia segera tersadar setelah mengingat bahwa kejadian itu sama sekali tidak benar dan berbeda 360° dari kisah aslinya.


Dia tersenyum setelah berhasil keluar dari ilusi buatan Dirga dan mematahkan teknik ilusi itu.


“Ha ha ha...” ucapnya yang tertawa lebar sambil memegang jenggot putihnya yang panjang.


“Apa... Kenapa guru bisa dengan mudah terlepas dari kekuatan ilusi dari ku ?” tanyanya sambil terengah-engah setelah mengeluarkan kekuatan yang cukup besar.


“Anak muda... untuk latihan pertama kali bisa dikatakan kau lumayan. Namun kau masih perlu banyak latihan jangan terburu-buru. Kau harus menyelami betul-betul pikiran lawan yang kau hadapi kalau ingin berhasil.” jawab kakek guru menjelaskan letak kesalahan anak itu.


Mereka berdua pun akhirnya duduk sejenak untuk beristirahat dan mengobrol.


“Kakek guru apa wanita dalam ilusi mu tadi adalah istri mu ?” tanyanya pada kakek Sanca.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Dirga, raut kakek guru terlihat sedih. Dan dia pun akhirnya menceritakan kisah hidupnya pada Dirga.


BERSAMBUNG....


__ADS_2