
Beberapa hari setelah kepergian Master Hideyoshi, Dirga masih merasa sedih dengan kepergiannya. Sudah beberapa malam ia terbangun dan menunggu master itu datang kembali, namun ia tak kunjung datang. Bahkan Dirga sampai ketiduran menunggu kedatangan Master Hideyoshi.
Hingga pada suatu malam ia kembali terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya tepat tengah malam. Kali ini ia tidak lagi mendengar suara biola yang mengalun, atau suara seseorang yang mendatanginya. Tepatnya suara hewan yang melolong. Suara itu terdengar aneh. Karena bukan seperti lolongan serigala ataupun anjing. Melainkan suara melolong yang hampir terdengar seperti suara kicauan burung, perpaduan antara suara kicauan dan lolongan.
“Suara apa itu... suara apa ?” bangkit dari tempat tidur.
Dirga yang penasaran pun kemudian berjalan keluar kamar, mengikuti ke arah sumber suara itu berasal. Suara itu seolah menuntunnya untuk terus melangkah dan menemukan keberadaan hewan yang belum di ketahui apa itu.
Ia berjalan melewati ruang tamu dengan pelan-pelan, keluar menuju ke bagian depan rumah.
Di depan rumah suara itu terdengar semakin jelas. Namun dia masih tidak melihat keberadaan hewan itu.
Suara itu masih terdengar dan Dirga menuju ke arah sumber suara itu berada. Ia berhenti di dekat dinding rumah yang bersebelahan dengan rumah kosong. Dimana di rumah kosong itu terdapat sumur tua di sebelah barat bagian rumah itu.
Suara itu semakin jelas terdengar dari rumah kosong itu. Dirga melihat ke sekeliling yang ternyata sepi, sama sekali tak ada satu pun orang di luar sana. Mungkin memang semua sudah terlelap di jam itu.
Karena sedari kecil Dirga suka memanjat, apa saja bisa dia panjat. Mulai dari memanjat almari, pohon dan tempat tinggi lainnya tanpa mengalami kesulitan. Baginya tak sulit jika hanya memanjat sebuah dinding saja. Meskipun permukaannya halus, dan tidak ada pijakan di sana,namun dia tetap bisa memanjatnya dengan mudah dan cepat.
“Bruk...”
Suara Dirga melompat ke bawah, turun dari tembok dan mendarat di samping rumah kosong itu. Ia melihat ke sekeliling rumah itu, yang hanya ada penerangan lampu seadanya di bagian depan rumah saja.
Ia yakin suara tadi berasal dari sekitar rumah itu. Namun saat ia tiba di sana, suara itu lenyap tak berbekas. Ia yang masih penasaran dan yakin jika hewan itu masih ada di sekitar situ, terus mencarinya. Ia berkeliling untuk mencari hewan itu, dan akhirnya ia berhenti di depan sebuah sumur tua yang tampak tidak terawat dan sudah di tumbuhi rumput yang menutupi seluruh dinding sumur tua itu.
__ADS_1
Di belakang sumur itu ada sebuah pohon jambu mede yang besar sekali. Meskipun gelap, masih terlihat beberapa buah mete yang berwarna jingga di pucuk-pucuk rantingnya.
Dia merasakan ada sebuah energi astral berasal dari pohon itu. Ia pun berjalan dan berhenti di bawah pohon jambu mede itu. Ia menatap ke atas untuk mengamati.
Ia melihat ada sesosok putih di antara rerimbunan daun. Ia memutari pohon itu agar bisa melihatnya lebih jelas. Kemudian dia berhenti dan menatap ke atas. Ia melihat seekor burung dengan paruh runcing dan tajam. Bulu di tubuhnya berwarna putih. Burung itu sedang mengibaskan ekornya.
Dirga pernah melihat burung jenis itu di acara wild animal di televisi jika burung itu adalah burung elang dan masuk kategori burung langka. Hewan itu sering di temukan di daerah pesisir. Ia heran mengapa burung jenis Haliaeetus Leucogaster itu bisa berada disini. Ia tidak pernah melihat burung itu di daerahnya.
Ia pun mencoba bersiul, untuk memanggil burung itu. Anehnya burung itu mendengar siulan dari Dirga. Ia segera menghentikan mengibaskan ekornya dan seperti menatap Dirga dengan tatapan matanya yang tajam.
“Siut.... siut...”
Dirga bersiul kembali untuk memanggil elang itu, namun elang itu seakan tidak mau di panggil dan ia terbang ke dahan yang lebih tinggi agar tak terlihat keberadaannya.
Dirga yang merasa gemas, akhirnya naik ke pohon. Ia ingin menangkap burung itu.
Dirga meraih dan memegang elang putih itu, namun burung itu berhasil lepas dari tangannya dan terbang ke udara. Ia merasa kecewa tidak bisa membawa burung itu, padahal sudah dalam genggamannya tadi.
Karena gagal menangkap burung langka itu, ia turun dari pohon. Setelah turun dari pohon, ia kembali memanjat dinding untuk kembali ke rumahnya.
Kini ia sudah berada di halaman rumahnya. Ia berjalan pelan dengan langkah kaki beraturan menuju ke pintu masuk rumahnya. Di tengah jalan, ia kembali mendengar suara kicauan yang melolong tadi.
Dirga menatap langit, untuk memastikan. Apakah memang burung itu kembali lagi ? Dan ternyata benar. Burung elang putih itu terbang menukik cepat ke arahnya seolah akan menyantapnya.
__ADS_1
Dia berlari menjauh, namun burung itu seperti mengikutinya. Ia jadi merasa aneh, kenapa tadi terbang saat ia menangkapnya ? Dan sekarang malah mengikutinya ? Ia pun berhenti setelah merasa capek berkeliling di halaman rumah.
Saat ia berhenti, elang itu bertengger di bahu kanannya. Elang itu mematuk kepala Dirga.
“Aduh... sakit, sakit..kenapa kau mematuk Dirga ?” mengambil burung itu dari bahunya lalu melemparkan ke udara agar terbang bebas.
Ia pun kembali berjalan, baru beberapa langkah ia berjalan. Burung itu kembali lagi menghampirinya dan kali ini bertengger di kepalanya.
“Jangan ikuti Dirga, pergi... pergi... !!” mengusir elang itu.
Ia mengambil elang yang berdiri di atas kepalanya, dan itu membuatnya sebal. Ia kemudian melempar lagi ke udara.
Burung itu mengepakkan sayap dan terbang tinggi ke udara dan menghilang. Dirga merasa lega melihat burung itu sudah menghilang. Ia berjalan dengan tenang karena sudah tidak si ikuti burung itu lagi.
Namun dugaannya meleset, ternyata elang itu kembali dan mengikutinya. Kali ini ia tidak bertengger di bahu ataupun kepala Dirga. Burung itu berada di depan Dirga, menjejakkan kaki di tanah dan mengikutinya berjalan.
“Apa kau mau ikut aku ? Mau ikut ? Tapi Dirga tidak tahu boleh tidak memelihara mu.” berjongkok dan mengajak elang itu berbicara.
Elang itu menggesek-gesekkan kepalanya ke tangan Dirga dengan manja, membuat Dirga yabg tadinya sebal menjadi gemas akan tingkah hewan yang satu itu.
Ia pun kemudian membawa masuk elang itu ke dalam rumah. Ia tidak tahu harus meletakkan dimana, karena di rumah tidak ada sangar atau tempat lain yang bisa di gunakan untuk menaruh burung itu, karena memang selama ini keluarga nya tak pernah memelihara hewan.
Ia akhirnya membawa burung itu masuk ke kamarnya. Ia mencari sesuatu yang bisa di pakai untuk bertengger burung itu. Ia teringat jika dia mempunyai mainan rantai, dan ia langsung mencarinya.
__ADS_1
Setelah menemukan rantai besi itu ia mengikatkan kedua ujungnya pada teralis jendela dan tiang gantungan topi di sudut kamarnya. Ia kemudian meletakkan burung itu di sana dan kembali ke tempat tidurnya.
BERSAMBUNG...