
Satu tahun telah berlalu, Dirga bertambah dewasa seiring bertambahnya usia. Saat ini dia berusia 7 tahun. Di usia itu dia naik ke kelas selanjutnya. Karena prestasinya di sekolah dengan nilai yang lebih baik daripada teman sekelasnya, para guru di sekolah khusus itu menyarankan agar Dirga pindah ke sekolah umum.
Salah satu guru pembimbing Dirga menyarankan pada Elsa untuk segera mencari sekolah inklusi, yaitu sekolah umum yang menerima siswa didik dari sekolah khusus.
Elsa menyambut dengan senang hari saran dari Bu Lutfi, guru pembimbing Dirga. Ia segera mencari informasi sekolah mana saja yang terdaftar sebagai sekolah inklusi di lingkungannya.
Ia mendapatkan informasi dan mengecek ke lokasi setelah mendapatkan informasi mengenai sekolah inklusi. Namun ia mencari sekolah yang lokasinya dekat dengan rumah.
Elsa juga berdiskusi dengan Hadwan untuk rencana pemindahan Dirga ke sekolah umum. Ia menjelaskan jika anak itu terus berada di sekolah khusus, maka ia tak akan mengalami perkembangan yang signifikan. Karena apabila terus berkumpul dengan anak-anak autis atau anak - anak khusus lainnya, Dirga akan mengalami kemunduran. Sedangkan bila ia bergabung dengan anak-anak normal lainnya, maka sedikit banyak ia akan belajar berbicara dengan normal serta bertingkah normal.
“Ya baiklah, pindahkan Dirga ke sekolah umum. Tapi ingat jangan sampai memaksanya menjadi seperti kebanyakan anak normal jika dia memang tidak sanggup. Aku tidak mau anak kita berubah menjadi anak lain.” menyetujui usulan dari Elsa setelah lama berdiskusi.
“Terima kasih sayang, aku pasti tidak akan menekan atau memaksa Dirga dalam segala hal.” bangkit dari duduk karena melihat Luna yang hampir jatuh dari tempat tidur dan segera menaruh bantal sebagai pembatas di kanan dan di kiri tubuh Luna.
Beberapa hari kemudian tiba saatnya hari pendaftaran sekolah di buka. Pagi hari sekali Elsa segera mengajak Dirga pergi ke sekolah inklusi terdekat untuk mendaftar, setelah ia izin kerja selama satu hari penuh.
“Mama... kok sekolahnya berbeda dengan sekolah biasanya, kita ke sekolah mana ?” bertanya pada Elsa sambil menatap ke sekeliling.
Dirga melihat bangunan sekolah yang berbeda. Ia juga melihat anak-anak yang bersekolah di sana tampak normal, tidak seperti temannya di sekolah lamanya.
“Kakak kan sudah waktunya naik kelas, dan kelasnya Mama carikan yang dekat dengan rumah saja. Teman-teman di sini banyak, nanti kamu bisa bermain dengan mereka.” berhenti sejenak untuk menjelaskan pada Dirga.
“Tapi Ma, Dirga ingin kembali ke sekolah lama saja. Aku takut di sini, Dirga takut...” melihat seorang anak lelaki yang melewatinya sambil tersenyum aneh.
__ADS_1
Dirga melihat senyuman anak asing itu sama dengan senyuman anak-anak tetangga di rumah, yang menurutnya itu adalah senyuman ejekan untuknya. Ia takut jika berteman dengan mereka, dia hanya akan mendapatkan bully-an.
Elsa melihat Dirga takut saat ada anak yang tersenyum padanya, dan ia meyakinkan bahwa tidak semua anak seperti yang dia pikirkan.
“Tidak apa Nak... nanti kamu akan terbiasa. Jangan takut, nanti Mama akan menitip pesan pada guru kelas mu agar menjaga mu. Tidak akan ada yang berani mengganggu mu.” menjelaskan dengan bahasa yang mudah di pahami oleh anak seusianya sambil mengusap kepalanya.
Dirga yang awalnya ragu dan takut, akhirnya kembali menjadi tenang setelah mendengar penjelasan dari Elsa. Mereka pun akhirnya menuju ke rumah pendaftaran siswa baru.
Elsa menyerahkan berkas pendaftaran pada petugas administrasi penerimaan siswa baru. Ia harus menunggu, karena antri. Banyak yang mendaftar ke sekolah itu. Tak hanya dari anak-anak dari daerah setempat yang mendaftar ke situ, tapi dari desa tetangga juga.
Saat menunggu antrian, Dirga berdiri di sebelah Mamanya. Suasana pendaftaran kali inti benar-benar ramai sekali. Halaman sekolah yang seluas hampir 500 km persegi itu penuh dengan orang. Tak hanya orang tua dan calon murid baru yang datang ke sana, namun banyak dari mereka membawa anak lain yang berusia di bawah usia sekolah turut serta.
Dirga berdiri menghadap ke utara. Ia melihat beberapa anak yang bermain di tengah keramaian sambil menunggu orang tua mereka yang masih mendaftar. Tiba-tiba ia melihat ada seorang anak perempuan yang berlari di tengah keramaian.
“buk...”
Gadis kecil itu jatuh menubruk batu dan memuat lututnya berdarah. Ia duduk sambil memegang lututnya yang sedikit berdarah sambil menangis.
Melihat itu hari Dirga tergugah untuk membantunya. Ia pergi dari sisi Mama tanpa berpamitan padanya dan menghampiri gadis kecil itu.
“Kau tidak apa-apa ? Kau tidak apa-apa kan ?” berjongkok di sebelah gadis kecil tadi.
Gadis kecil itu menatap Dirga dengan masih menangis. Ia merasa aneh dengan pola bicara Dirga yang sedikit berbeda dengan kebanyakan anak lainnya, tapi ia tidak tahu jika anak lelaki yang menghampirinya adalah seorang anak autis.
__ADS_1
“Ayo ke sana, aku akan membantu mengobati mu. Dirga akan membantu menyembuhkan luka mu.” membantu gadis kecil tadi berdiri, lalu menggandeng tangannya menuju ke sisi barat halaman sekolah yang agak sepi.
“Duduk lah... duduk, Dirga akan membantu mu.”
Gadis kecil itu duduk dengan meluruskan kaki dan menunjuk lututnya yang terasa perih. Dirga kemudian berjongkok di dekat gadis kecil itu. Ia menyentuh kaki di bagian bawah lutut gadis kecil itu lalu memegangnya dan mulai mengalirkan energi reiki.
Gadis kecil itu menatap Dirga. Ia merasakan ada aliran hangat yang bergerak menuju ke lukanya. Ia merasakan luka yang tadinya perih sekarang terasa tidak perih. Ia melihat lututnya dengan mulut yang ternganga.
Ia melihat luka di kakinya seketika kering seperti habis diobati dan sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Ia memandang Dirga lagi lalu menatapnya dengan aneh. Siapa sebenarnya anak lelaki itu ? Mengapa dia bisa menyembuhkan lukanya dengan cepat, seperti yang ia lihat di film-film kartun saja.
“Coba sekarang berdiri, berdiri lah apa masih sakit ?”
Gadis kecup itu berdiri dan merasakan lututnya tak sakit lagi.
“Terima kasih... apa yang kau lakukan, kenapa kaki ku bisa sembuh dengan cepat ?” menatap Dirga dengan penuh rasa terima kasih.
Gadis kecil itu terlihat akan berkenalan dengan Dirga dan ngobrol. Namun ia mendengar suara panggilan dari Ibu yang terlihat kebingungan sedang mencarinya.
“Agnes... disitu rupanya. Ibu sudah mencari mu kemana-mana. Ibu sudah selesai mendaftarkan mu.” berjalan menghampiri gadis kecil tadi.
Agnes pergi meninggalkan Dirga dan menghampiri Ibunya yang akhirnya menggandeng nya berjalan untuk pulang sambil terus menatap Dirga sampai ia keluar dari gerbang sekolah.
Elsa yang saat itu baru selesai mendaftarkan Dirga, bingung saat berbalik dan mendapati anaknya tidak lagi di sampingannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....