
Dirga dan Andrew sudah berjalan jauh meninggalkan hutan melewati jalanan menuju ke lembah kematian yang terletak jauh dari markas Infinix berada.
Mereka sudah menempuh jarak sekitar 200 km dan melewati dua gunung, namun belum sampai juga ke tempat yang di tuju.
“Andrew apa masih jauh letak Lembah kematian ?” tanya Dirga yang mulai merasa lelah setelah berjalan menempuh jarak yang lumayan jauh.
“Aku sendiri juga belum pernah ke sana tuan, ini baru pertama kalinya aku ke sana. Kenapa, tuan merasa capek ya... ? Kalau begitu kita istirahat dulu sebentar di sini.” jawab Andrew yang melihat Dirga bercucuran keringat.
“Ya boleh...kita istirahat sebentar dulu, hari juga masih siang.” balas Dirga yang menyetujui saran dari Andrew. Mereka berdua mencari tempat yang bisa dijadikan tempat duduk sekedar untuk melepas penat mereka.
Mereka melihat ada sebuah pohon Osmanthus besar yang rindang di tepi jalan, dan Mereka pun menuju ke sana untuk berteduh.
“Ayo kita duduk di sana saja... !” ucap Dirga sambil menujuk pohon osmanthus yang berada tak jauh dari mereka. Andrew mengangguk dan mengikuti Dirga berjalan menuju ke pohon itu.
Sesampainya di bawah Osmanthus, mereka berdua segera duduk dan bersandar pada pohon itu. Sejenak mereka melepas penat mereka di sana sambil menatap birunya awan saat itu.
“wuuss...” Angin sepoi-sepoi bertiup ke arah Andrew dan Dirga berada membuat mereka berdoa merasa mengantuk akhirnya membuat mereka berdua tertidur setelah beberapa kali menguap.
Satu jam kemudian mereka terbangun dari tidur dan melihat sekeliling yang terlihat sudah tidak panas lagi.
“Gawat... kita ketiduran, entah sudah berapa lama nyatanya hari sudah sore sekarang. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita.” ucap Dirga mengajak Andre untuk segera bergegas kembali melanjutkan perjalanan Setelah merasakan tubuhnya sudah lebih segar dari sebelumnya.
Selama di perjalanan mereka melihat banyak sekali osmanthus yang berjajar di samping kiri dan kanan jalan yang mereka lewati. Namun hal aneh terlihat didepan mereka setelah berjalan sejauh satu meter. Suasana di depan mereka sama sekali berbeda dengan kondisi suasana di belakang mereka.
“Tuan kenapa di depan kita turun hujan dan di belakang kita terang benderang ?” tanya Andrew yang perasaan hebat apa yang dilihatnya setelah berulang kali menoleh ke belakang.
“Aku juga tidak tahu Andrew. turunkan saya jajarannya sampai kita menemukan Lembah kematian.” jawab Dirga dengan tenang dan terus berjalan melangkah ke depan.
Setelah beberapa meter dari jalan hari aneh terjadi lagi di depan mereka. Muncul sebuah pelangi yang berwarna-warni di tengah teriknya matahari.
__ADS_1
“Ku rasa kita hampir sampai. Dari penjelasan Lin Han tadi kita harus mencari sebuah pelangi untuk masuk ke sana.
Dirga dan Andrew kembali melangkah. Mereka terlihat takjub sekali melihat indahnya pelangi di sepanjang jalan yang mereka lewati yang terbentang di langit hingga pada ujung jalan mereka kembali menemui pelangi di depan mereka.
“Lalu bagaimana cara kita masuk melewati pelangi ini ?” tanya Dirga pada Andrew yang kemudian nampak lagi itu berpikir.
“Kita coba saja masuk dengan menembusnya tuan.” jawab Andrew setelah berpikir.
Dirga pun mulai menyentuh pelangi yang ada di depannya itu sesuai dengan arahan lelaki itu. Tepat di saat Dirga menyentuh pelangi itu tiba-tiba terdengar suara kilat yang menyambar di atas mereka.
“jeder... jeder... jeder...” suara petir menyambar tubuh mereka. Seketika setelah terkena sambaran petir, tubuh mereka berdua seperti melompat ke dalam pelangi lalu mereka keluar kembali di tempat yang sangat gelap sekali dan bahkan terlihat tidak ada kehidupan di sana.
“Apakah... apakah kita sudah sampai di lembah kematian ?“ ucap Dirga terus berjalan dan merasakan daerah itu terasa sepi mencekam.
Andrew yang berjalan di samping Dirga hanya diam tak menjawab. Dia pun membuat bola cahaya di tangannya untuk menerangi jalan. Hal yang kontras terlihat setelah mereka kembali berjalan.
Saat mereka kembali melangkah tiba-tiba petir menyambar di depan mereka.
“Jeder... jeder...” Mereka berdua berlari menghindari petir yang seolah mengejar mereka. Di tengah jalan, Andrew terjatuh saat hindari petir dan menginjak sebuah batu nisan.
“Buk... !”
Dirga yang berjalan di depan Andrew segera berbalik setelah mendengar suara Andrew yang jatuh dan bermaksud menyusulnya. Namun saat dia melangkah mendekati Andrew langkahnya seolah tertahan oleh suatu lapisan kaca tebal yang tak bisa ditembus nya.
“Tuan... apa kau baik-baik saja ?” tanya Andrew berdiri dan menghampiri Dirga. Namun dia tak bisa mendekatinya karena terhalang oleh sebuah pelindung yang tebal dan kuat.
Andrew dan Dirga berusaha memecah penghalang yang menghalangi mereka berdua namun sekuat apapun tenaga yang mereka keluarkan, pelindung itu tetap tak bisa terpecahkan.
Belum berhasil mereka memecahkan pelindung itu tiba-tiba muncul arwah dari dalam nisan yang membawa tubuh mereka berdua. Beberapa arwah yang ada di sekitar Andre membawa tubuhnya dan menghempaskan nya keluar dari area itu dan berada agak jauh dari lokasi tempat dia berada sebelumnya. Dia mencoba kembali ke tempat tadi untuk menyusul Dirga namun dia halangi oleh sekumpulan arwah itu.
__ADS_1
“Kau tak di izinkan masuk ke sini. Kau tidak di terima di sini !” teriak salah satu arwah yang terlihat marah padanya lalu menghempaskan tubuhnya Kembali keluar dari area itu.
“Argh.... !!!” Andrew berteriak kencang saat angin dahsyat yang di keluarkan oleh arwah itu kembali menghempaskan tubuhnya.
Sementara di lain tempat, para arwah yang ada di sekitar Dirga membawa tubuhnya masuk lebih dalam di tempat itu.
“Lepaskan aku... !” teriak Dirga pada para roh yang bawa paksa tubuhnya ke suatu tempat.
“Siapa kalian ? Apakah kalian arwah penasaran ? Ke mana kalian akan membawaku ?” tanyanya secara bertubi-tubi pada para roh yang membawa tubuhnya.
Dirga berusaha melepaskan diri dari para roh itu, namun usahanya gagal.
“Kau tak bisa melepaskan dirimu dari kami karena kau adalah yang terpilih.” jawab salah satu roh itu pada Dirga.
Sementara itu Dirga yang tidak tahu apa yang maksud oleh para roh itu terus berusaha melepaskan diri, namun tetap sajak usahanya tak membuahkan hasil.
“blast... !” Dirga menghilang dari tempatnya berada sekarang bersama para roh itu dan Muncul lagi di satu tempat.
Para roh itu tiba-tiba menghilang dan meninggalkan dirinya begitu saja setelah Dirga menginjakkan kakinya ke tanah.
Tempat itu masih gelap seperti sebelumnya namun di depan terlihat cahaya yang menyala dari sebuah api. Dirga berjalan menuju ke sumber api itu kemudian berhenti setelah tiba di sana.
“Apa ini... ?” tanyanya saat melihat sebuah sungai api di depan nya dengan jembatan selebar satu tapak kaki yang terbentang di tengah sungai.
“Apa aku harus menyeberangi jembatan ini ?” tanya Dirga lagi setelah melihat ke sekeliling dan tak menemukan jalan lainnya untuk melewati sungai Api itu.
Dia pun akhirnya melangkahkan kakinya melewati jembatan. Baru beberapa langkah dia melangkah dari kejauhan muncul banyak kelelawar yang menghubungi tubuhnya dengan cepat dan juga roh penasaran yang ada di sana.
BERSAMBUNG....
__ADS_1