
Bunga terompet itu segera menutup setelah berhasil menghisap Dirga masuk ke dalamnya.
Dalam dasar bunga, Dirga merasakan tubuhnya mati rasa dan pelan-pelan kesadarannya mulai menurun hingga dia melihat tempat itu gelap sekali.
Dalam kegelapan yang menyelimutinya tiba-tiba dia terbangun dan sekarang berada di markas Infinix, tepatnya berada di tahanan khusus tempat Rheva ditahan.
Dirga melihat Rheva yang masih terikat rantai dan tampak terkulai. Dia bergegas menghampiri gadis itu sambil membawa setangkai bunga terompet yang didapatnya dari Lembah Kematian.
“Rheva... aku kembali dan membawakan mu embun es abadi sesuai permintaanmu.” ucap anak itu sambil tersenyum dan berjongkok di depan gadis itu.
Rheva diam tak bergerak hanya mengerjapkan mata saja menatapnya karena dia merasakan luka di sekujur tubuhnya mulai terasa menyiksa dirinya lagi.
“Rheva sebentar lagi lukamu akan sembuh semua derita mu akan sirna.” ucap Dirga menyentuh pipi gadis itu.
Dirga mengambil kantong berisi butiran embun lalu membukanya. Dia segera menuangkan beberapa tetes butiran embun yang keluar dari kantong itu ke mulut Rheva.
Tampak gadis itu menelan butiran embun itu kemudian tersenyum menatapnya. Roh Rheva yang melayang di atas tiba-tiba masuk ke tubuh Rheva dan menyatu dengan tubuh kasarnya.
Sesaat tangannya yang tadinya lemah sekarang mulai bisa digerakkan setelah rohnya kembali menyatu dengan tubuhnya.
“Rheva... akhirnya kau kembali ke tubuh mu. Ayo Sekarang kita pergi dari sini sebelum ada yang datang kesini.” ucap Dirga mengajaknya pergi dari tahanan itu.
Gadis itu mengangguk. Dia lalu berdiri meskipun masih dengan terhuyung. Dirga mendekat untuk membantunya dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
“Rheva aku akan membantu melepaskan rantai yang mengikat tangan dan kakimu itu sekarang.” ucapnya pada gadis itu. Namun Rheva menggeleng dan membuatnya membatalkan melepas rantai yang mengikat tubuh Rheva.
“Dirga tak usah kau bantu. Biar aku sendiri saja yang melepasnya sambil aku mencoba kekuatanku untuk mengetahuinya apakah sudah stabil atau belum.” ucap Rheva yang akhirnya bicara sambil tersenyum padanya.
“Klang... Klang...” Rheva memutuskan rantai yang mengikat tangan dan kakinya satu persatu sampai semua rantai itu terlepas dan terlempar ke lantai.
__ADS_1
“Dirga terima kasih kau sudah menyelamatkan aku...” ucap gadis itu lalu berjalan menghampiri Dirga.
“Aku senang sekali kau sudah bisa kembali ke tubuh mu. Maaf membuatmu lama menunggu ku disini.” balas Dirga lalu memeluk gadis itu.
Dirga tak merasa ada yang aneh pada kekasih nya itu hingga tiba-tiba gadis itu bertingkah aneh tak seperti biasanya. Rheva mempererat pelukannya pada Dirga sambil mencium lehernya.
“Argh.... ! Rheva apa yang kau lakukan... ciuman mu sakit sekali !” ucap Dirga yang merasa kesakitan dan ternyata gadis itu bukan mencium leher Dirga, melainkan menggigit lehernya dengan giginya yang berubah menjadi taring yang tajam.
Karena merasa ada yang aneh, Dirga pun mendorong tubuh Rheva menjauh darinya.
“Rheva kau... kau...” ucap Dirga yang terbata-bata saat melihat kekasihnya berubah menjadi sosok yang lain. Gadis itu berubah menjadi sesosok iblis dengan dua tanduk yang muncul diatas kepalanya dan ekor panjang di belakang tubuhnya.
“Kau siapa ?” tanya Dirga sambil membentaknya.
“Aku adalah Rheva... hahaha...” balas gadis itu sambil tertawa lebar dan menyeringai lalu menghampiri Dirga dan malah menyerangnya.
“Rheva... !” bentak Dirga sambil memegang erat tangan gadis itu agar tak bisa melukai dirinya. Namun gadis itu masih berontak dalam cengkeraman tangan Dirga.
Dirga pernah teringat kejadian yang dulu pernah terjadi padanya. di mana tadi hilang kesadaran Reva bisa menyadarkannya kembali hanya dengan sebuah ciuman.
Tanpa pikir panjang Dirga langsung memeluk gadis itu dan mencoba mencium bibirnya.
“Emh...” Rheva terlihat menolak ciuman Dirga dan mencoba mengakhirinya namun Dirga tak membiarkan hal itu terjadi. Dia semakin intens mencium Rheva dan tanpa sadar menggigit bibir merah gadis itu, membuatnya berdarah.
Karena merasakan darah, Dirga mengakhiri ciumannya dan tak ingin membuat gadis itu terluka karena dirinya.
“Argh.... !” Rheva berteriak karena merasakan tubuhnya seperti tersetrum yang membuat seluruh tubuhnya gemetar. Dan seketika tanduk di kepala serta ekor di bagian belakang tubuh Rheva menghilang.
“bruk...” Rheva yang baru sadar terlihat shock saat melihat surga yang terluka karena dirinya dan dia tak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, lalu terjatuh.
__ADS_1
“Apa yang telah kulakukan padamu?” ucapnya tersentak. Rheva lalu berdiri dan menghampiri Dirga.
“Maafkan aku...” ucap gadis itu lagi. Dirga hanya mengangguk dan tersenyum sambil meringis menahan rasa sakitnya.
Rheva memeluk Dirga dan merasakan ada yang aneh di antara mereka berdua.
“Sepertinya ini tidak nyata... kami mengalami delusi...” batin Rheva yang merasa seharusnya dia tak berada di sana karena tiba-tiba rohnya seperti terhisap oleh sesuatu yang tidak dia ketahui sebelumnya dan tiba-tiba dia berpindah ada di sana bersama Dirga.
“Dirga... aku baru menyadari ini hanyalah sebuah ilusi. Ini adalah delusi yang ditimbulkan oleh bunga terompet.” bisik gadis itu lirih di telinga Dirga.
Dirga tampak terkejut dan tidak percaya pada apa yang dikatakan oleh gadis itu. Namun dia mencoba berpikir sejenak dan mengingat kejadian sebelumnya, meskipun dia masih belum bisa mengingatnya.
“Dengarkan aku saja. Jika kau mau mengambil embun es abadi kau harus mengambil sepuluh kantung dari dasar bunga terompet secara bersamaan kemudian kau masukkan ke dalam wadah secara bersamaan juga. Kantung berisi butiran embun itu harus dalam kondisi beku semua. Kau akan bisa mengambil embun es abadi itu tepat di saat ke sepuluh kantung itu mencair. Embun es itu akan menguap dan hilang jika ada salah satu saja dari kantung yang yang mencair duluan maka usaha mu akan sia-sia belaka.” ucap Rheva panjang lebar menghilangkan cara mengambil embun es abadi itu pada Dirga.
“Rheva... jadi yang ku bawa ini bukan embun es abadi melainkan hanya ilusi saja ?” tanya Dirga menatap bunga terompet yang ada di tangannya lalu menjatuhkannya setelah mendengar penjelasan dari gadis itu.
Setelah selesai berkata tiba-tiba tubuh Rheva terlihat bercahaya terang dan kemudian semakin lama semakin memudar lalu menghilang menjadi berkas cahaya di udara yang berwarna jingga.
“Rheva jangan pergi... !” teriaknya menatap berkas cahaya yang tersisa di udara sebelum cahaya itu menghilang.
“Nguung... Nguung....” terdengar suara berdengung yang sangat keras dan memekakkan telinga seperti suara terompet yang ditiup.
Suara itu membuat kepala Dirga terasa pusing dan tak tahan mendengarkan suara yang melengking itu. seketika Dia teringat jika sebelumnya dirinya berada di lembah kematian dan sedang memetik sebuah bunga terompet untuk Rheva.
“Wuus...”
Dirga terhisap masuk ke suatu lubang yang menghempaskan tubuhnya dari tempatnya berada sekarang.
BERSAMBUNG...
__ADS_1