
Sesampainya di luar Dirga berhenti sebentar untuk mencari rusa putih yang sebelumnya sudah mengantarnya.
“Hey rusa putih keluarlah... kau ada dimana ?” tanya Dirga memanggil-manggil rusa putih itu sambil mencarinya di sekitar sana.
“Ternyata kau memang sudah pergi entah kemana. Padahal aku hanya ingin berpamitan saja padamu.” gumamnya yang masih mencari dan melihat ke atas, barangkali saja rusa itu ads di atasnya. Setelah tak menemukan rusa itu dia pun memutuskan untuk segera pergi dari sana.
Baru saja melangkahkan kaki, tiba-tiba susah putih itu muncul di atasnya dan turun lalu berhenti di depan Dirga.
“Kau mencari ku ? Kau sudah keluar, apa kau sudah mendapatkan embun es abadi itu?” tanya rusa putih itu sambil menatapnya. Dirga mengangguk sambil tersenyum lebar menatapnya.
“Jadi benar kau sudah mendapatkannya ?” tanya kembali rusa itu yang tak percaya pada apa yang dikatakannya. Karena selama ini tak ada yang bisa mengambil embun es abadi itu. Dirga kembali mengangguk membalasnya.
“Lalu di mana embun es abadi itu sekarang ?” tanya rusa putih itu lagi karena tak melihat Dirga membawa apapun.
“Ada... ada seseorang yang membawakan nya untukku.” jawabnya singkat.
“Jika kau sudah mendapatkannya maka kau harus cepat meminumnya setelah empat jam sejak kau petik. Lewat dari waktu itu embun itu sudah tak berkhasiat lagi meski pun masih dalam kondisi beku.” ucap rusa putih itu menjelaskan panjang lebar pada Dirga. Dirga seketika melihat waktu melalui jam tangannya.
“Berarti sebelum malam tiba aku harus sudah sampai ke sana dan memberikan ini pada Rheva.” gumamnya lalu segera mengakhiri obrolan mereka dan mulai berjalan.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Sampai ketemu lagi !” ucapnya terus berjalan dan melambaikan tangan pada rusa putih yang menatapnya dari kejauhan.
Rusa putih itu terus menatap Dirga yang berjalan meninggalkannya. Tanpa sepengetahuan Dirga terus aku di itu mengikutinya dari belakang dalam wujud tak kasat mata setelah membuat dirinya tak nampak.
Dirga berjalan dengan cepat dan tak lama kemudian dia sudah sampai di depan jembatan di antara sungai api yang kini sudah hancur. Dia Berhenti sejenak di sana sambil melihat ke sekitar. Tampak banyak roh berdatangan di ujung jembatan.
“Bagaimana ini... aku tidak tahu cara menyeberangi sungai api ini. belum lagi di ujung sana banyak loh yang sudah menunggu ku.” gumamnya mencari cara untuk melewati sungai itu dengan aman.
“Apa aku coba meloncat sekuat tenaga dari sini... mungkin aku akan sampai di ujung sana. Tapi Bagaimana jika ternyata lompatan ku hanya sampai di tengah sungai ?” ucapnya lagi yang terlihat merinding saat menatap kembali sungai api yang ada di depannya dan membayangkan dirinya terlahap oleh api panas.
Dirga memutuskan untuk mencoba meskipun tidak tahu hasilnya. Dia mulai memijakkan kakinya bersiap untuk melompat.
__ADS_1
“Aku kembali sekarang... !” teriaknya yang mulai melompat dan melintasi sungai api di bawahnya. Baru sampai di tengah sungai tubuhnya turun dan akan jatuh ke api yang bersiap melahapnya. Dia memejamkan mata sambil terus mengayunkan kakinya agar tubuhnya bisa sampai di ujung sungai.
Namun sepertinya usahanya sia-sia. Tubuhnya tak bergerak maju tapi malah turun ke bawah semakin jauh.
Di tengah keputusasaannya tiba-tiba rusa putih itu kembali datang dan melesat dengan cepat menangkap tubuh dari Dirga yang hampir jatuh masuk ke sungai api dan melesat membawanya ke atas.
“Ah.... hampir saja...! Rusa putih untung saja kau datang saat yang tepat. Terimakasih kau kemarin menyelamatkanku lagi kali ini.” ucapnya tersenyum lebar sambil memegang rusa itu dengan kuat agar tidak jatuh ke bawah.
“Jangan tersenyum dulu. Lihat para roh itu sekarang yang sudah bersiap menunggumu di ujung sana !” ucap rusa putih itu mengingatkan dirinya agar tidak lelah.
“Ya aku tahu...” jawabnya singkat. Dirga mengaktifkan kembali pedang penghancur jiwanya dan menggenggam nya dengan erat.
Benar saja begitu mereka tiba di ujung sungai, para roh itu langsung mengeroyok nya
“Shatt...!!”
Dirga mengayunkan pedang penghancur jiwanya yang menebas dengan cepat pada roh yang mengerumuninya sambil turun dari tubuh rusa putih itu.
“Baiklah rusa putih aku akan kembali sekarang. Terima kasih sudah mengantarku sampai ke sini.” ucap Dirga lagi sambil terus mengayunkan pedangnya menebas para roh yang mengejarnya.
Rusa putih itu kemudian menghilang setelah melihat Dirga berjalan meninggalkan tempat itu sambil menghancurkan setiap roh yang mengikutinya.
Beberapa saat kemudian Dirga tiba di kaca pelindung yang sebelumnya memisahkan dirinya dengan Andrew di sana. Karena Sebelumnya dia bisa menembus kaca pelindung itu dengan mudah kali ini dia pun menembus pelindung itu.
“Akhirnya... aku aman sekarang.” ucapnya setelah keluar dari pembatas dan melihat tak ada satu pun roh yang mengejarnya.
“Andrew... bagaimana keadaan dia ? Apa dia masih di sini ?” gumam Dirga yang teringat pada lelaki itu dan mencari keberadaannya di sana.
“Andrew... Andrew... kau dimana ?” teriak Dirga terus memanggilnya sambil mencarinya. Setibanya dia di ujung makam, dia melihat Andrew ada di sana.
“Tuan... akhirnya kau kembali juga. Aku khawatir sekali pada mu.” ucap Andrew saat melihat Dirga yang datang menghampirinya.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja aku sudah mendapatkan embun es abadinya. Ayo kita segera kembali sekarang karena sebelum malam tiba aku harus meminum kan embun itu pada Rheva.” ucap Dirga mengajak Andrew untuk segera pergi dari sana.
Mereka berdua pun segera angkat kaki dari tempat itu melewati dua pintu pelangi dan akhirnya mereka keluar dari Lembah Kematian.
Andrew mengikuti Dirga yang berlari dengan cepat menuju ke hutan tempat mereka sebelumnya bersembunyi. Sore hari kemudian mereka baru tiba di sana.
Tak lama kemudian mereka sampai di tempat mereka bersembunyi. Dirga meninggalkan Andrew di sana.
“Andrew kau kembalilah kesana bersama yang lainnya sedangkan aku aku akan langsung ke tempat Rheva berada.” ucap Dirga lalu bergegas pergi karena hari hampir gelap dan melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu kurang 30 menit lagi.
Dirga berjalan dengan cepat dan membuat dirinya menjadi tak nampak. Tak lama kemudian dia tiba di depan markas Infinix. Dia melewati beberapa pengawal yang menjaga tempat tahanan Rheva ditahan dengan mudah dalam wujudnya sekarang.
“buzz...”
Dirga menembus masuk ke tempat Rheva ditahan. Dia segera menghampiri gadis itu yang masih terantai dan memanggil Evony.
“Tuan apa kau sudah siap ?” tanya wanita itu yang di angguki oleh Dirga.
Evony segera mengeluarkan dua puluh kantung berisi butiran embun es abadi. Dia lalu mencairkan bersamaan kedua puluh kantung itu hingga semua kantung tadi terbuka bersamaan lalu keluarlah butiran embun yang menjadi tiga tetes embun es abadi.
“Sekarang tuan buka mulutnya !” ucap Evony sambil mendekat ke Rheva. Dirga segera membuka mulut Rheva lalu Evony dengan cepat meneteskan embun es abadi ke mulut Rheva.
Tubuh Rheva tampak semakin sedingin es setelah meminum tiga tetes embun es abadi bahkan tubuhnya sekarang menjadi beku.
BERSAMBUNG...
__________________________________
Maaf pembaca semua jadi lama update episode barunya di karenakan penulis juga sedang membuat cerita baru berjudul "Pembalasan Sang Gigolo" mohon dukungan pembaca semua pada karya itu ya.
Terima kasih banyak pada dukungan para pembaca semua selama ini. Salam... 🙏🙏☺️
__ADS_1