Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 123 Membebaskan Rheva


__ADS_3

Meskipun sudah menjadi tak kasat mata mereka tetap berjalan pelan agar tak menimbulkan suara dan membuat para pengawal yang ada di sana mengetahuinya.


Tampak Dirga bernafas lega setelah mereka berhasil melewati para pengawal yang berjumlah banyak tadi dengan aman.


Beberapa saat kemudian Lin Han berhenti tak jauh dari sebuah ruangan yang terletak sangat tersembunyi di antara ruangan tersembunyi lainnya. Namun ada yang aneh dengan ruangan itu. Jika ruangan lainnya dijaga ketat oleh banyak pengawal kalau makan itu hanya dijaga oleh satu penggawa.


“Apa kau yakin ini adalah wingfler ?” tanya Dirga ragu dan tak percaya melihat tahanan khusus itu. Tampak Lin Han mengangguk dengan mantap.


“Jangan salah kira itu memang sel tahanan vvip di sini. meskipun hanya satu pengawal saja yang menjaga tempat itu, tak semua orang punya akses dan bisa masuk ke sana.” jelas Lin Han berbicara diri menjelaskan pada anak itu.


“Ayo kita masuk ke sana sekarang....” ajak Lin Han lagi pada mereka bersua yang masih diam menatap sel itu.


Mereka bertiga kembali berjalan menuju ke sel tahanan khusus itu masih dalam wujud tak kasat mata. Mereka berjalan pelan dan akhirnya sampai di depan sel tahanan khusus.


Setibanya di depan sel mereka melewati pengawas menembus masuk ke dalam sel.


“greb... !” belum sampai menembus masuk ke dalam sel, pengawal yang ada di sana menarik tangannya dan menghalangi mereka bertiga masuk ke dalam sel.


“Apa pengawal ini masih bisa melihat kami walaupun sudah menjadi tak kasat mata ?” batin Dirga sambil menarik tubuhnya mundur. Namun pengawal itu seperti bisa membaca pergerakannya dan mengikuti kemana tubuhnya bergerak.


Hal yang sama jika terjadi pada Lin Han. Lelaki itu mencoba mengetes apakah memang benar pengawal itu bisa melihatnya dalam wujud tak kasat mata ? Dia pun bergerak cepat memutari pengawal itu sambil melancarkan serangan dengan menekan titik vital pada tubuh pengawal itu. Namun ternyata pengawal itu seperti melihat dan mengetahui serangan yang dilancarkan oleh Lin Han dan berhasil menghindari serangan itu.


“tap...” Lin Han menepuk bahu Dirga yang berdiri di sebelahnya memberikan kode agar dia masuk duluan bersama Andrew. sedangkan penjaga itu dia yang akan mengurusnya.


“tap...” Dirga menepuk balik bahu lelaki itu sambil mengangguk sebagai kode jika dia setuju pada usulannya itu dan segera masuk menembus tahanan untuk menemui Rheva.

__ADS_1


“tap...” Dirga menepuk bahu Andrew dan menariknya masuk ke dalam sel itu namun dia menggeleng dan menyingkirkan tangan Dirga dari bahunya. Dia lebih memilih untuk membantu Lin Han melawan penjaga itu.


Dirga pun langsung masuk ke tahanan dengan mudah karena penjaga itu di hadang oleh Andrew dan juga Lin Han.


Sesampainya di dalam sel, dia mengedarkan pandangan ke seluruh isi sel dan mencari keberadaan Rheva.


“Dimana dia... kenapa aku tak melihatnya di sini ? Apa benar tahanan ini sudah kosong atau dia disembunyikan lagi dengan suatu kekuatan agar tak terlihat ?” batinnya sambil berjalan menyisir sel itu dan masih tidak menemukan apapun di sana selain beberapa tikus yang ada di sudut ruangan.


“Apa sebaiknya aku menggunakan kekuatan mataku untuk melihat isi sebenarnya ruangan ini...” batinnya lagi. Dia pun segera mengaktifkan kekuatan matanya.


Matanya seketika berubah warna menjadi violet. Dia kembali menyisir seluruh isi ruangan sel itu hingga akhirnya dia menemukan sesosok gadis yang terantai tangan dan kakinya di sudut ruangan.


“Rheva... !” ucapnya lirih lalu menghampiri gadis itu.


Dirga begitu miris melihat kondisi Rheva saat ini. Gadis itu terduduk lemas bersandar pada sebuah dinding dengan bekas luka di sekujur tubuhnya. Dia tak tega melihat kondisi kekasihnya itu.


“Rheva... aku datang... aku akan membawamu keluar dari sini.” ucapnya kemudian berbisik di telinga gadis itu, namun sama sekali tidak ada respon darinya. Tubuhnya diam, sama sekali tak bergerak.


Dirga yang khawatir lalu menyentuh leher Rheva dan memeriksa denyut nadinya. Mukanya seketika pucat saat tak ada denyut nadi yang dia temukan.


Tak ada yang bisa dia lakukan selain memeluknya dan merasakan duka yang mendalam. Di tengah kesedihannya tiba-tiba dia dikagetkan oleh suara seseorang yang memanggilnya.


“Dirga jangan bersedih... aku belum mati.” ucap dari suara yang dikenalnya dengan baik yang ternyata itu adalah suara Rheva dalam wujud roh.


Dirga menoleh ke belakang dia melihat roh Rheva melayang di di belakangnya lalu menghampirinya.

__ADS_1


“Rheva apa yang terjadi padamu...?” tanya Dirga yang terkejut sekali melihat gadis itu.


“Arthur telah memisahkan jiwa dari tubuhku dengan air pemisah jiwa sehingga tubuhku terlihat seperti orang mati.” ucapnya menjelaskan.


“Aku sudah bilang padamu jangan mencari ku. Tapi kau tetap saja mencari ku. Apa yang terjadi padamu Apakah ini benar kamu ?” tanya Rheva dalam wujud roh melihat penampilan Dirga yang berbeda dari sebelumnya.


“Ini ceritanya panjang... lain kali aku akan menceritakannya padamu. Yang terpenting sekarang adalah aku akan membawamu keluar dari sini.” ucapnya pada roh Rheva dan mencoba memeluknya meskipun kenyataannya dia tak bisa menyentuh roh itu.


“Jika kau membawa tubuhku keluar dari sini sekarang akan aku akan mati karena berpisah dengan jiwaku.” ucap Rheva menjelaskan sambil tersenyum menatap Dirga karena dia merasa senang sekali bisa bertemu dengannya.


“Bagaimana caranya aku bisa menyatukan kembali roh dan tubuhmu ?” tanyanya.


“Kau harus mencari embun es abadi yang hanya ada di lembah kegelapan. Kau harus keluar dari sini secepatnya karena tubuh mu tak akan kuat berada di tempat ini atau tubuhmu akan berpisah dengan ragamu seperti diriku.” ucap gadis itu memberitahukan solusi untuk menyelamatkan dirinya. Setelah selesai berbicara pada Dirga, roh Rheva pun kembali menghilang entah kemana.


Sementara itu Andrew dan Lin Han yang ada di luar tahanan dan berjibaku dengan penjaga sel akhirnya bisa melumpuhkan penjaga itu dan masuk ke sel menemui Dirga.


“Jadi dia adalah Ighist sang pelindung ? Bagaimana keadaannya ?“ tanya Lin Han saat melihat tubuh Rheva yang terkulai lemas.


“Seperti yang kau lihat keadaannya tidak baik-baik saja. Rheva bilang jika Arthur sudah memisahkan tubuh dan jiwanya. Dia berpesan padaku agar aku mencari embun es abadi yang ada di lembah kegelapan untuk menyatukan kembali tubuh dan jiwanya barulah kita bisa menolongnya.” jelas Dirga panjang lebar pada Lin Han dan Andrew. Tiba-tiba Dirga merasakan tubuhnya seperti tersetrum di ruangan itu dan rasanya salah jiwanya dipaksa keluar dari tubuhnya.


“Argh.... !” Dirga mengerang kesakitan sambil memegang kepalanya yang terasa pusing dan tiba-tiba pandangannya menjadi kabur.


Andrew yang melihat hal itu tampak panik. Dia ingin menolong tuannya, namun seketika dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Dirga.


“Gawat... kenapa kalian berdua kesakitan tanpa sebab ? Apa karena ruangan ini yang membuat karya jadi kesakitan seperti ini ?” tanya Lin Han menghampiri Dirga dan Andre untuk membantunya. Dia melaporkan beberapa mantra untuk meredakan rasa sakit yang mereka rasakan namun sama sekali tak berefek.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2