Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 23 Penglihatan Baru


__ADS_3

Pagi hari saat bangun tidur, Dirga membuka matanya dan duduk. Ia melihat ke meja tempat dimana ia meletakkan buah blue berry semalam. Namun buah itu sudah tak ada di sana.


“Kemana ya, apakah jatuh ? Pasti jatuh...” turun dari tempat tidur untuk mencari buah itu.


Dirga mencari di bawah karena kemungkinan besar buah itu jatuh ke bawah, di sekitar meja itu. Ia mencari ke bawah meja dan tidak menemukan. Ia lalu mencari di kolong tempat tidur dan masih tidak menemukan.


Ia kembali berdiri dan berjalan menuju ke pintu. Baru dua langkah berjalan ia merasa kedua matanya perih. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba kedua matanya terasa sangat perih. Padahal tidak ada debu atau benda lain yang masuk ke matanya saat itu.


Ia berjalan menuju ke cermin untuk melihatnya.


“Kenapa ini... kenapa aku ?”


Dirga melihat jika iris kedua matanya yang awalnya berwarna coklat sekarang berubah warna menjadi ungu.


“Apakah blue berry yang menghilang itu masuk ke mata ku ? Tapi kenapa masuk ke mata ku ? Aduh...” memegang matanya yang mulai terasa perih.


Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Dunia apakah yang ia masuki semalam ? Dan apa sebenarnya blue berry itu bukanlah sekedar buah ? Semua pertanyaan itu bagaikan puzzle untuknya.


Ia merasakan matanya menjadi panas. Ia menatap ke atas untuk menahan rasa perih di matanya. Saat ia melihat ke atas, yang terlihat di matanya bukanlah plafond, melainkan langit.


Ia melihat langit dan jutaan bintang yang bertebaran di langit. Seolah penglihatan matanya dapat menembus langit-langit kamarnya. Ia memejamkan mata kembali karena tak percaya pada apa yang ia lihat.


Dirga lalu membuka mata kembali, mencoba melihat lainnya untuk membuktikan apakah ia berhalusinasi atau memang kejadian itu nyata adanya.


Ia melihat pintu kamarnya dan ia mampu melihat lorong di depan kamarnya, menembus pintu kamar tanpa harus membukanya terlebih dulu.


Ia mencoba menatap lantai dan penglihatannya mampu menembus keramik dan melihat tanah beserta hewan-hewan yang hidup di dalamnya.


Ia merasakan matanya semakin perih dan tak kuat menahan lagi. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju ke ruang tengah untuk mencari siapa saja yang bisa membantunya, Ayah, Mama atau Kakek-Neneknya.

__ADS_1


“Ayah... Kakek... tolong Dirga. Kakek, Ayah...” berhenti merapat ke dinding di ruang tengah dengan satu tangan menyentuh tembok dan satu tangan lagi memegang mata.


Hadwan yang saat itu baru keluar dari dapur sambil membawa secangkir moccacino langsung menaruh cangkir ke meja dekat sofa dan menghampiri Dirga yang kelihatan kesakitan.


“Ada apa dengan mu, Nak ?” menghampiri Dirga dan melihat area mata yang tertutupi oleh tangan Dirga.


Hadwan lalu membuka tangan yang menutupi kedua mata Dirga. Ia sangat terkejut melihat warna iris mata anaknya itu berubah menjadi violet, seperti yang ia lihat di televisi.


Ia tak tahu apa yang terjadi pada Dirga. Apa yang membuat iris matanya berubah warna. Ia segera membawa anak itu kembali ke kamarnya agar Elsa dan mertuanya tidak melihat keanehan itu. Karena jika mereka sampai tahu, pasti Dirga akan


“Bagaimana rasanya ?” melihat warna Dirga yang semakin berwarna ungu gelap.


“Perih Yah... rasanya perih sekali...” kembali memegang matanya.


Hadwan segera keluar dari kamar Dirga untuk mengambil tetes mata dan sebaskom air hangat.


“Sebenarnya kena apa mata kamu bisa seperti itu ? Atau habis ngapain ?” membersihkan mata Dirga menggunakan air hangat di baskom.


Karena tak ada reaksi apapun setelah menggunakan air hangat, Hadwan mencoba menetesi mata Dirga dengan tetes mata.


Dirga merasa matanya menjadi dingin setelah terkena tetes mata. Pelan-pelan rasa perih di mata menjadi berkurang.


Ayah melihat jika tetes itu bereaksi pada Dirga. Karena ia melihat jika mata anaknya berubah. Warna violet gelap pada iris mata berangsur-angsur memudar dan warna semakin tampak lebih muda.


“Bagaimana rasanya sekarang ?” membaringkan Dirga di tempat tidur.


Dirga memejamkan mata lalu membuka mata lagi. Ia melihat ke sekeliling. Ia melihat tembok di sisi kamarnya yang kelihatan sedikit transparan.


“Lebih baikan dari yang tadi Ayah. Sudah membaik walau masih sedikit perih.” menatap kembali ke Ayah.

__ADS_1


Hadwan lalu menetesi mata Dirga lagi dengan tetes mata sampai warna iris mata kembali menjadi coklat.


“Warna iris mata mu sudah kembali coklat.” menghentikan menetesi mata Dirga dengan tetes mata lalu menaruhnya di meja yang ada di ruangan itu.


Dirga kemudian duduk dan melihat ke sekeliling lagi. Ia kembali melihat segala sesuatunya tampak normal. Dia tidak lagi melihat benda-benda menjadi tembus pandang.


“Untunglah mata kamu sudah kembali normal. Jangan sampai Mama dan yang lainnya tahu akan hal ini. Jika tidak, mereka akan mengambil tindakan untuk mu. Karena mereka sangat khawatir padamu.” duduk di samping Dirga sambil mengelus rambut.


“Ayah tidak tahu apa yang membuatmu jadi seperti itu, tapi yang Ayah tahu kamu mempunyai kelebihan yang tidak di miliki anak lain seusai mu. Dan itu membuat mu sedikit berbeda dengan mereka.”


Dirga memeluk Ayahnya. Ia merasa lelaki itu yang paling mengerti dan bisa menerima dirinya apa adanya.


“Sekarang cepat mandi, Ayah akan mengantar mu ke sekolah setelah ini.” tersenyum menatap Dirga.


Dirga segera melepas pelukan pada Ayah dan turun dari tempat tidur. Ia segera masuk ke kamar mandi karena jika tidak, Mama pasti akan mencarinya juga, memintanya untuk segera mandi.


Saat mandi ia merasakan matanya kembali terasa panas. Ia melihat dirinya pada cermin yang ada di sana dan terlihat iris matanya mulai berwarna violet lagi. Ia segera menyiram mata dengan banyak air.


Ia kemudian bercermin lagi, dan untungnya warna iris matanya kembali normal. Ia segera keluar dari kamar mandi sambil memegangi matanya. Ia berharap matanya tidak berubah di saat dia sedang berkumpul bersama keluarga atau saat berada di sekolah.


Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan ia di antar Ayah berangkat ke sekolah. Ia duduk di sebelah Ayah dan melihat jalanan.


Ia kembali melihat ada sesosok makhluk, beberapa anak kecil bermain bersama teman-teman nya, menatapnya sambil tersenyum. Namun Dirga tidak mempedulikan nya.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di sekolah. Ayah turun untuk mengantarnya masuk ke gerbang sekolah, namun ia berhenti di tengah jalan.


“Ayah... mata Dirga perih lagi. Apakah mata ku berubah warna lagi ?” menatap Ayah dan meminta untuk melihatnya.


“Syukurlah, mata kamu tidak berubah warna. Ini Ayah bawakan tetes mata. Pakailah saat kau merasakan mata mu perih.” mengeluarkan tetes mata dari saku celana yang sempat ia ambil saat mau berangkat tadi, untuk antisipasi jika mata Dirga terasa perih.

__ADS_1


Dirga menerima tetes mata pemberian Ayah, lalu memasukkan ke dalam tas dan segera masuk ke kelasnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2