Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 83 Kemunculan Pasukan Infinix


__ADS_3

Karena kata sayang yang di ucapkan oleh Rheva barusan padanya membuatnya duduk kembali dan membuatnya bertahan di depan gadis itu meski sekedar untuk memandangi wajahnya dan mendengar penjelasan panjang lebar mengenai Infinix dan Pixy yang baginya tetap tak masuk akal sama sekali.


“Bolehkah aku pinjam buku mu itu ?” ucapnya pada gadis itu sekedar untuk membuat kekasihnya itu senang dengan meminjam buku itu yang dia pun tak tahu akan membacanya atau tidak nanti saat di rumah.


“Ah ya... bawa saja buku ini. Kalau sudah selesai tolong segera kembalikan pada ku.” ucapnya dengan mata berbinar sambil menyerahkan dua buku itu pada Dirga.


“Satu saja dulu...” ucapnya kembali menyerahkan satu buku yang di ambilnya secara acak pada gadis itu.


Malam hari di rumah Dirga.


Sepulang dari kampus dia meletakkan buku tebal yang di pinjamnya tadi ke meja belajar di kamarnya. Dia sama sekali belum membuka halaman buku itu.


Dirga duduk di depan meja belajarnya mengerjakan tugas dari kampus. Setelah dua jam mengerjakan tugasnya, dia pun merasa ngantuk dan tanpa sadar saat ini kepalanya sudah ada di meja. Dia ketiduran dan tak sengaja dia membuka buku milik Rheva saat tangannya di meja menyentuh buku itu. Tiga puluh menit kemudian dia terbangun.


“Ah... aku ketiduran rupanya. Lebih baik aku pindah ke tempat tidur sekarang.” dia berdiri dan merapikan buku-buku yang ada di meja dan menumpuknya. Matanya terpaku saat melihat buku kuno milik kekasihnya yang terbuka itu menunjukkan berbagai simbol yang di carinya.


“Simbol ini...” dia segera meraih buku itu dan membawanya ke tempat tidur karena tertarik membacanya. Sambil duduk bersandar ke dinding dia membaca buku itu.


Dia membaca karakter empat kelompok kuat di zaman dulu yaitu Ighist, Infinix Excogryf dan Pixy. Dia membaca karateristik tiap kelompok itu beserta simbol khas tiap kelompok itu.


Dia teringat pada perkataan yang di ucapkan Rheva tadi siang saat di perpustakaan yang menyatakan bahwa dirinya kemungkinan adalah keturunan Infinix atau Pixy.


Dia lalu menemukan salah satu karateristik kekuatan Infinix yang mudah di kenali ada pada kekuatan matanya, yaitu kekuatan sinar violet.


“Kenapa karakter kekuatan mata Infinix itu hampir sama dengan kekuatan mata ku ya ? Ini aneh sekali...” ucapnya lirih saat membaca buku itu.

__ADS_1


Dia melanjutkan membaca tentang karakteristik Pixy. Dimana di buku itu di sebutkan bahwa Pixy merupakan kelompok terkuat di masanya. Kaum Pixy merupakan kumpulan orang yang punya multi talent dan punya kekuatan misterius. Mereka bisa menguasai berbagai ilmu atau kemampuan dengan mudah.


“Mungkin semua ini hanya kebetulan saja...” ucapnya yang mulai mengantuk lagi. Dia segera menutup buku itu dan menaruhnya ke meja. Setelah itu dia memejamkan matanya.


Semetara itu di suatu tempat.


Setelah mendengar laporan dari pasukan Infinix yang menyatakan ada Ighist yang kembali ke Lembah Salju beberapa waktu yang lalu, Arthur meminta pasukan Infinix itu melacak keberadaan Ighist.


Sekarang pasukan Infinix itu bergerak dan melacak jejak Rheva dan Dirga. Tal hanya di Lembah Salju saja, mereka sekarang juga melacaknya sampai ke belahan dunia lain. Aroma Ighist yang Rheva tinggalkan menuntun mereka ke tempat mereka berada sekarang.


“Whiz...” satu pasukan Infinix muncul di Pantai Mahakam yang di tandai dengan asap hitam yang terasa menekan.


Rheva yang malam itu sudah tertidur pun tampak gelisah merasakan hawa yang tidak enak itu.


Gadis itu bangun dan melihat jam dinding yang ada di kamarnya lalu kembali tidur setelah mengetahui masih dini hari.


Pasukan Infinix yang ada di sekitar Pantai Mahakam itu memeriksa siapa yang ada di Pantai itu atau orang yang melewati daerah itu.


Daerah sekitar pantai Mahakam tergolong ramai karena merupakan salah satu resort pariwasata. Meskipun pantai di tutup saat malam hari, kawasan lainnya di sekitar resort masih buka sampai pagi.


Dini hari di kawasan hotel di resort Pantai Mahakam. Beberapa orang ada yang beraktivitas di hari itu. Mereka mengadakan pesta barbekyu untuk merayakan kelulusan salah satu keluarga mereka.


“Ambilkan piringnya, tolong...” ucap seorang wanita paruh baya pada seorang lelaki yang tengah duduk santai hanyut dalam dunianya dengan bermain gadget.


“Ah ibu... kau bisa suruh yang lainnya untuk membantu mu.” jawab anak itu kesal karena merasa terganggu saat main game. Anak itu mengambil piring dan memberikan pada ibunya sambil tetap memegang gadget.

__ADS_1


“Tolong buang kaleng daging ini...” ucap ibu tadi kembali menyuruh anaknya. Tanpa menjawab anak tadi menerima bungkusan tas berisikan sampah itu dan berjalan menuju ke tong sampah yang ada di depan dekat pintu masuk hotel.


“klontang... !” anak tadi melempar sampah itu ke tong dengan sebal sambil tetap memegang gadgetnya.


“buk...” tiba-tiba anak itu terjatuh. Dia berdiri lagi dan menoleh ke samping. Tak ada orang atau benda apapun di sana yang bisa membuatnya terjatuh.


Dia berjalan dan melihat ada kabut hitam di sekitarnya yang terasa menekan. Dia menyentuh asap itu yang membuatnya kaget karena tiba-tiba asap itu berubah menjadi sesosok berjubah hitam dengan penampilan mirip assassin.


“Argh...” anak itu berteriak saat sosok berjubah hitam tadi mendekatinya. Sosok itu berubah menjadi kabut kembali yang terhirup masuk ke pernafasannya dan menuju ke otak dan membaca ingatan anak itu. Seketika anak itu pingsan karena merasakan sakit kepala yang hebat dengan gadget yang tergeletak di sebelahnya.


Asap hitam tipis keluar dari tubuh anak itu dan kembali menjadi kabut hitam pekat yang menyebar ke udara yang menyelimuti siapa pun yang melewati daerah itu.


Kejadian itu kembali berulang. Beberapa pejalan kaki tergeletak pingsan di jalanan setelah berteriak.


Beberapa saat kemudian asap hitam itu keluar dari beberapa orang yang tergeletak pingsan di sana. Asap itu berkumpul menjadi kabut hitam pekat yang mengarah kembali ke Pantai Mahakam lalu menghilang di sana. Bersamaan dengan menghilangnya asap itu muncullah angin dingin yang tiba-tiba berhembus kencang dan merobohkan beberapa pohon kelapa di tepi pantai itu. Cuaca yang sebelumnya tenang mendadak berubah mnejadi berangin di sepanjang wilayah resort itu.


Pukul 03.00 dini hari.


Dirga terbangun dari tidurnya karena merasakan hawa di sana tidak enak. Udara di sekitarnya mendadak terasa panas tanpa sebab.


“Apa yang terjadi... ?” ucapnya menarik selimut lalu turun dari tempat tidurnya dan memeriksa keadaan di rumah itu yang ternyata baik-baik saja.


Dia berdiri di dekat jendela dan melihat ke luar dimana hawa di luar juga tiba-tiba berubah panas. Karena tak ada apa-apa di luar setelah dia memeriksa, dia pun kembali tidur dengan jendela kamar terbuka lebar dan tanpa selimut.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2