
Raneea terus menatapi Dirga yang tengah duduk di sebelahnya dengan keringat yang mengucur dari keningnya di suhu normal, yang tidak terlalu panas. Hal itu semakin membuatnya bertambah penasaran pada teman sekelasnya itu.
“Kau baik-baik saja? Tapi kenapa sekarang kau berkeringat?” tanya Raneea menatap lekat-lekat wajah Dirga.
“Ya, aku tidak apa-apa. Hanya gerah saja. Gerah yang membuat ku berkeringat.” jawab Dirga mencoba menyembunyikan yang terjadi, masih dengan logat khas anak autis yang suka mengulangi kalimat atau kata.
Tak berselang lama dia merasakan tubuhnya terasa panas dan sakit di area mata yang terasa perih. Karena penggunaan kekuatan yang berlebihan membuat matanya terasa di tusuk ribuan jarum, ia menutup mata kirinya dengan jari tangan kiri yang terasa semakin sakit karena dia yakin warna iris bola matanya kembali ke warna ungu saat keadaannya belum stabil dan tak ingin ada yang mengetahuinya.
Raneea yang melihat keadaan Dirga tidak baik-baik saja membuka tangan yang menutupi mata kiri temannya itu. Dia penasaran karena sebelumnya mata itu berwarna ungu, untuk membuktikan apakah pengluhatannya tadi memang salah?
Betapa shock nya dia saat tangan temannya itu sudah tidak menutupi bagian mata kiri, yang terlihat iris mata berwarna ungu muda.
“Aku tidak salah lihat tadi, yang ku lihat tadi memang benar.” sambil memegang pipi kiri Dirga.
Dirga sedikit menggeser tempat duduknya menjauh. Dia tak bisa lagi mengelak dan menyembunyikan dirinya dari temannya itu. Rasanya dia ingin kabur saja seketika itu juga dari berbagai pertanyaan yang mungkin tak berujung dari temannya itu, tapi dia tak bisa.
“Kau... ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi padamu. Apa kau...” menurunkan tangan dari wajah pipi Dirga dengan dengan raut wajah yang siap meluncurkan banyak pertanyaan.
“Seperti yang kau lihat teman. Aku mungkin berbeda. Bahkan mungkin sangat berbeda jauh dengan kebanyakan teman lainnya.”
Raneea melihat warna iris Dirga yang berubah kembali ke warna hitam. Jika dugaannya benar, berarti teman barunya itu bukan teman biasa. Melainkan anak indigo dengan kekuatan super atau keanehan lainnya. Banyak hal yang ingin dia tanyakan padanya, namun seketika Dirga bangkit dari duduknya.
“Terima kasih sudah membantu ku, terima kasih.”
Dirga segera berjalan keluar dari kelas, untuk menghindari pertanyaan lagi dari teman yang belum ia ketahui namanya. Dia berjalan cepat jeluar dari kelas dan segera berlari ke gerbang sekolah, berharap mama sudah menjemputnya.
__ADS_1
“Iya sama-sama. Tunggu, aku belum tahu siapa nama mu.”
Raneea berdiri dan mengejarnya. Namun dia harus kecewa saat tiba di pintu gerbang dan mendapati teman barunya tadi sudah tidak ada.
Di dalam mobil, Dirga yang masih berdebar dan berkeringat karena takut ada teman yang mengetahui jati dirinya terlihat tampak tidak tenang dalam mobil.
“Ada apa nak, kenapa kau tampak gelisah dan ketakutan. Apa ada teman mu yang mengganggu atau jahil pada mu selama di sekolah?” menoleh ke kiri melihat wajah anaknya sambil memelankan laju mobil.
“Tidak ada Ma, tidak ada yang nakal padaku tadi.”
Dirga balas menoleh ke mama dan mengatur emosinya agat stabil dan tidak membuat khawatir mama.
“Syukurlah jika memang tidak ada anak yang mem-bully mu di sekolah. Semoga kau dapat banyak teman yang bisa menerima mu apa adanya.”
Keesokan harinya di sekolah,
Dirga berangkat sekolah seperti biasanya dengan diantar mama. Dia masuk ke kelas beramai-ramai dengan murid-murid lainnya. Dia melihat tempat duduk di bangku depan yang penuh, lalu dia beralih menatap bangku kosong yang lain. Di bangku bagian tengah ada tangan yang melambai ke arahnya. Tangan itu milik seorang gadis kecil yang kemarin menyelamatkan dia. Sembari tersenyum, Raneea terus melambai kan tangannya dan memberi isyarat agat dia duduk di sampingnya.
Karena tak ada bangku yang kosong lagi, setelah ia lihat ke sekeliling maka Dirga menuruti permintaan gadis kecil itu.
“Aku boleh duduk disini?” tanya Dirga sambil menaruh tas di meja. Raneea menjawabnya dengan sebuah anggukan dan senyuman yang pertanda setuju. Karena memang tempat itu dia cari untuknya.
Kelas berlangsung seperti biasanya dan semua berjalan lancar sampai di tengah pelajaran, tiba-tiba ada sebuah sekelebat bayangan hitam yang masuk ke dalam kelas dan beraura negatif. Bayangan hitam itu ternyata roh penasaran seorang anak kecil yang berumur sebaya dengan dia.
Tampilan anak kecil itu sangat mengerikan. Separuh wajahnya rusak, dan separuh wajahnya berdarah dengan tatapan amarah murka menatap pada Dirga. Seketika bayangan itu mendekat dan mengganggunya. Bayangan itu tanpa sebab yang jelas dengan sorot mata penuh kebencian memegang leher Dirga lalu mencekiknya yang membuatnya susah bernafas.
__ADS_1
“Uhuk... uhuk....”
Dirga terbatuk karena kesulitan bernafas dan membuat teman di sampingnya menoleh ke arahnya dengan heran dan penuh rasa penasaran.
Raneea menepuk-nepuk pundak Dirga dengan maksud agar membuatnya kembali bisa bernafas, jarena dia mengira temannya itu tersedak. Namun usahanya tak membuahkan hasil.
Dirga yang merasa terdesak, dengan terpaksa dia mengeluarkan sedikit kekuatannya untuk membebaskan diri dari roh itu.
“Siapa kau, kenapa mengganggu ku ?”
Dirga berontak dan melakukan perlawanan dengan balas mencekik roh anak kecil di depannya dengan mata yang sedikit berubah warna menjadi ungu muda. Sontak semua teman yang ada di kelas itu termasuk guru yang sedang memberi prlajaran terkejut.
Dalam waktu singkat, semua murid berdiri dan mengerubungi Dirga tepat setelah dia berhasil lepas dari cengkeraman roh anak kecil itu. Karena masih ada di sana, Dirga mengusir roh anak itu dengan berteriak keras.
“Pergi kau dari sini. Pergi dan jangan ganggu aku lagi.” Seketika roh anak kecil yang sudah terdesak dengan kekuatannya tadi segera pergi dari kelas.
Teman-teman sekelas Dirga masih tak percaya akan apa yang mereka lihat barusan. Mereka mengira Dirga kesurupan atau semacamnya karena bicara sendirk yang membuat mereka semua merasa dia aneh, tidak normal.
Dirga yang baru menyadari bahwa dia tak sengaja menunjukkan keunikan dirinya di depan semua temannya bingung mau mengambil langkah apa. Karena berpikir berat, tiba-tiba dia merasakan kepalanya pusing, dan setelah itu tak sadarkan diri.
Tak ada teman yang berani mendekati, mereka semua mundur karena takut. Hanya Raneea yang berani membantu guru membawa Dirga ke ruang UKS.
Sontak berita mengenai peristiwa itu tersebar ke satu penjuru sekolah dan semua murid mengaetahui hal itu yang membuat mereka melihat Dirga dengan aneh, tidak normal, atau berbeda dengan mereka semua.
Bersambung....
__ADS_1