
Pasukan Infinix tiba di lembah salju tepat saat Rheva meninggalkan tempat itu. Asap hitam pekat yang dibawanya hilang saat memasuki Lembah Salju dikarenakan kekuatan itu tak bisa bekerja di wilayah Lembah Salju.
Satu pasukan infinix itu langsung bergerak menyusuri wilayah itu dan mencari sosok Ighist yang telah diincarnya selama beberapa pekan.
“Kemana lalat itu pergi ? Dasar lalat pengganggu ! Dia pasti ada di sini !” ucapnya geram merasa dipermainkan oleh Ighist.
Tiba-tiba pasukan Infinix itu mengeluarkan kekuatan angin.
“Brak.... !” angin kencang seketika berhembus dan membuka semua pintu rumah yang ada di daerah lembah salju saat itu. Dia bisa melihat dengan mudah tanpa harus masuk ke rumah satu persatu hanya dengan mengayunkan tangannya.
Setelah beberapa lama mencari di tempat itu pasukan Infinix itu terlihat kembali dengan wajah kesal bercampur marah.
“Sialan lagi-lagi aku dikerjai oleh lalat kecil itu. Dia tak ada di sini. Awas saja kau kalau nanti kita bertemu aku pasti tak akan pernah mengampuni mu meskipun kau memohon belas kasihan padaku.” teriaknya meluapkan kekesalan dengan mengayunkan tangan lagi dan seketika muncul angin dengan arah berlawanan yang membuat semua pintu rumah itu tertutup dengan kasar dan sebagian pintu rumah itu menjadi rusak.
Rencana Dirga untuk mengecoh pasukan infinix itu berhasil dan untuk sementara waktu mengalihkan perhatian pasukan itu yang sekarang sibuk mencari di tempat lain. Dan kota Atlanta sekarang bebas dari bencana kabut hitam.
Sementara itu Dirga dan Rheva saat ini ada di perpustakaan kampus mereka. Mereka berjalan masuk menuju ke ruang perpustakaan untuk membahas apa yang harus dilakukan selanjutnya.
“Kau tahu tidak kau benar-benar gila dan membuatku....” ucap gadis itu kesal sambil duduk di kursi dengan membanting keras tubuhnya.
“Ssts.... pelankan suaramu atau kau akan menarik perhatian yang lainnya.” ucap Dirga mengatupkan bibir gadis itu dengan jari telunjuknya.
“Sekarang kita aman, setidaknya tak ada lagi pasukan infinix atau kabut hitam di sini.” menarik kembali jari telunjuknya dan duduk di kursi di sebelah gadis itu.
“Aku mau mencari dia yang kau cari itu sekarang. Ayo kita bahas sebelum aku berubah pikiran.” ucapnya berbisik lirih di telinga gadis itu yang membuatnya luluh dan tidak jadi marah.
“Hmm...” jawabnya sambil berpikir
__ADS_1
mencari petunjuk pertama dan mengetukkan jari-jarinya kemeja.
Sayang sekali saat itu Rheva tak membawa buku itu bersamanya. Sedangkan dia juga tidak hafal pada karakteristik kekuatan atau ciri-ciri dia yang dicari. Tetapi satu yang dia ingat diluar kepala, tempat kelahiran sang Infinix.
“Ya benar... kita bisa mencarinya dimulai dari tempat kelahiran sang Infinix.” ucap gadis itu tersenyum lebar pada Dirga tanpa sadar menggenggam tangan anak itu.
Sementara Dirga hanya diam saja dan memperhatikan Gadis itu dari dekat melihat perubahan mood Rheva yang cenderung berubah-rubah dari waktu ke waktu.
“Mungkin ada benarnya juga jika kami singgah di tempat kelahiran dia. Mungkin dari sana ada satu petunjuk lainnya yang bisa mengungkap petunjuk lainnya yang tersembunyi.” batin itu setelah memikirkannya.
“Lalu apa kau tahu di mana tempat kelahiran dia itu ?”
“Iya.... tapi apa kau yakin mau ke sana menemaniku ? Jika kau terpaksa lebih baik aku pergi sendiri saja.” ucap gadis itu yang masih merasa belum yakin akan keputusan Dirga.
“Anggap saja aku menemanimu main ke suatu tempat dan itu adalah waktu untuk kita berdua...” ucapnya menggoda Rheva yang tampak malu-malu dan memerah pipinya.
Beberapa saat kemudian mereka berbicara serius dan membahas tempat kelahiran dia yang di cari oleh Rheva. Gadis itu menjelaskan secara detail tempat kelahiran dia dan itu ada di suatu tempat yang jauh sekali. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk pergi bersama ke tempat kelahiran dia besok pagi.
Satu jam berlalu mereka berdua menunggu di perpustakaan. Namun Perpustakaan masih di penuhi
mahasiswa yang membaca dan mengembalikan buku di perpustakaan.
Dua jam berlalu dan suasana di perpustakaan itu masih ramai seperti sebelumnya.
Tiga jam berlalu dan sekarang Dirga terlihat sudah tidur di samping Rheva dengan menyandarkan kepala di meja. Dia tertidur karena merasa jenuh menunggu terlalu lama.
Karena masih ramai pengunjung, gadis itu pun sekarang menyandarkan kepalanya di meja dekat dan Dirga. Setelah bosan memandangi wajah kekasihnya dari dekat itu pun akhirnya dia tertidur.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian Dirga membuka mata dan dia terkejut saat melihat Rheva juga tertidur di sebelahnya. Dia menoleh ke sekitar dan mendapati di ruangan itu hanya ada mereka berdua.
“Rheva... bangun....” ucapnya sambil menepuk pelan gadis itu. Namun gadis itu tak kunjung bangun juga meski dia berulang kali memanggil namanya.
“Kau pasti bangun dengan ini...” ucapnya tersenyum jahil lalu mencium pipi gadis itu.
Benar saja gadis itu bangun dari tidurnya sambil melihat Dirga dan memukul bahunya.
“Apa yang kau lakukan? Kau mengambil kesempatan saat aku tidur ?!” ucapnya kembali marah pada Dirga yang membangunkannya dengan cara seperti itu.
Dia Lalu melihat sekitar dan ternyata sepi, hanya ada dia dan Dirga. Rheva mengambil bros yang ia sematkan di bajunya.
“Ayo kita berangkat sekarang... kau sudah siap ?”
Beberapa saat kemudian muncullah sebuah kunci emas melayang di atas telapak tangan gadis itu. Kali ini dia tak marah dan menggenggam tangan Dirga. Dalam sekejap mereka menghilang dari ruang perpustakaan itu dan berpindah ke suatu tempat.
“Kita sudah sampai sekarang.” ucap Rheva yang melepaskan tangan Dirga saat berada di tempat yang dipenuhi oleh bunga poppy.
Dan mereka berdua pun berlari ke tengah ladang bunga Poppy itu. Rheva yang sudah lama sekali tidak mengunjungi tempat itu terlihat senang dan duduk di tengah hamparan bunga poppy sambil menikmati angin yang berhembus dan juga sinar matahari yang menerpa tubuhnya.
Dirga merasa gadis itu membohonginya dan membawanya ke tempat itu hanya untuk melihat bunga kesukaan gadis itu mendekatinya.
“Apa kau yakin dia yang kau cari itu lahir di tempat seperti ini ? Bukannya kau sengaja mengajakku ke sini karena ingin kita berkencan ?”
“Tidak... memang disinilah kelahiran dia. Maksudku nanti setelah aku puas menikmati pemandangan di sini, aku akan mengantarmu ke suatu tempat.” ucap gadis itu yang sekarang malah asyik merebahkan diri di tengah ladang bunga.
“Harusnya aku tahu dari awal kalau kau ingin berkencan di tempat romantis seperti ini.” balasnya sambil tersenyum kecil dan ikut berbaring disebelah Rheva.
__ADS_1
Mereka sejenak menikmati waktu kebersamaan mereka sebelum mereka menuju ke lokasi lahirnya sang Infinix itu.
BERSAMBUNG....