
Dirga menyentuh tabung kaca besar itu dan melihatnya. Dia menata mentalnya dan beberapa saat kemudian dia melompat masuk ke tabung kaca itu.
Seperti yang di ucapkan gadis itu sebelumnya, dia hanya perlu menahan nafas selama mungkin di bawah air itu sekuat yang dia bisa. Rheva berdiri di sebelah tabung itu untuk mengawasi Dirga selama terapi berlangsung.
Satu jam berlalu dan dia melihat Dirga masih sadar dan aktif bergerak di bawah air itu. Dua jam berlalu dan hal yang sama seperti sebelumnya masih terjadi, tak ada perubahan yang berarti. Anak itu masih tampak kuat dalam air itu.
Tiga jam berlalu namun gadis itu masih melihat Dirga yang baik-baik saja.
“Sebenarnya perlu waktu berapa jam agar anak itu tak sadarkan diri ? Orang biasa bisa bertahan di bawah air dalam batas maksimal dua jam, sedangkan orang yang punya kekuatan bisa bertahan selama empat jam. Bagaimana dengan anak itu, kenapa sudah empat jam berlalu dan dia masih kuat berada di bawah air selama itu.” batinnya yang berdiri lalu mengitari tabung itu. Dia melihat Dirga masih bergerak aktif dan menempelkan tangannya ke dinding tabung menatap setiap langkahnya.
“Nanti jika sudah selesai aku beritahu. Tetaplah di dalam sini.” ucap gadis itu pada Dirga yang menangkap maksudnya bahwa ia mau keluar dari tabung itu.
Karena sudah menunggu lama dan dia mulai merasa bosan, dia duduk tak jauh dari tabung itu. Gadis itu bersandar pada dinding dan tiba-tiba hawa ngantuk menyerang dirinya. Tak berapa lama kemudian, gadis itu tertidur.
Dirga yang melihat Rheva tertidur, merapat ke dinding tabung dan mengetuk tabung dari dalam untuk memanggil gadis itu.
“Ah... dia tak mendengar panggilanku. Bisa-bisanya dia tertidur di saat proses terapi masih berlangsung seperti ini. Dan tabung ini... sampai kapan, sampai kapan aku harus berada di sini? Apakah terapi ini se-simple ini? Aku tidak merasakan perubahan apapun pada tubuhku...” batinnya kesal melihat Rheva yang ketiduran saat menunggunya.
Dirga merasa kesal dan ingin keluar saja dari tabung itu, rasanya dia seperti melakukan hal konyol dan bodoh saja, namun Evony melarangnya melakukan hal itu. Sehingga dia pun masuk kembali ke bawah air.
Enam jam berlalu dan Dirga merasa nafasnya sudah sedikit sesak ,namun dia masih kuat menahannya dan masih bisa bergerak bebas.
__ADS_1
Tujuh jam berlalu dan sekarang dia mulai merasakan nafasnya semakin berat, namun dia masih bisa menahannya serta masih bisa bergerak.
Delapan jam berlalu dan dia merasakan nafasnya tersengal. Dia mulai merasakan tak ada aliran oksigen lagi yang masuk ke paru-parunya. Pandangannya mulai kabur namun dia masih bisa bergerak. Hingga di satu titik dia sudah merasakan lumpuh. Dia benar-benar sudah tidak kuat dan ingin naik ke atas sekedar untuk menghirup oksigen.
Dia berenang ke atas dengan sisa-sisa kekuatannya. Dan ketika dia sampai di atas, nafasnya sudah terhenti. Dia tak sadarkan diri dan tubuhnya jatuh ke dasar tabung. Matanya masih terbuka dan samar ia masih bisa melihat Rheva yang masih belum bangun juga.
“Rheva aku sudah tidak kuat... aku tidak kuat lagi. Bangunlah, tolong keluarkan aku dar sini.” ucapnya dalam hati lalu matanya tertutup dan kesadarannya hilang.
Dia teringat semua memori masa kecilnya bersama keluarganya dan juga temannya. Tiba-tiba dia melihat seorang gadis kecil yang selalu menjadi temannya dan selalu menemaninya.
“Hei... tunggu ! Jangan pergi...” teriaknya memanggil gadis kecil itu yang kemudian berbalik menghadapnya lalu tersenyum dan berlari meninggalkannya.
“Tunggu... ! Kau...siapa kau....aku lupa pada mu. Tapi aku mengingat semua tentang diri mu.” Dirga mengejar gadis kecil itu yang berhenti sebentar dan menoleh ke arahnya sambil melempar senyum kembali dan berlari lagi. Dia tak mau kehilangan gadis kecil itu lagi. Dan kali ini dia berlari cepat hingga dia bisa meraih bahu gadis itu dan menariknya.
“Pedang... sulur daun ini...aku seperti pernah melihatnya... ini sangat familiar bagiku.” mengambil bros milik gadis kecil itu yang terjatuh dan memperhatikan itu sambil mengingat dimana dia pernah melihatnya.
Gadis kecil itu segera mengambil bros miliknya dari tangan Dirga.
“Sampai jumpa lagi...” ucap gadis itu tertawa lebar lalu berlari dan menghilang di udara.
Dirga berusaha keras mengingat nama gadis itu. Ingatannya seolah tersegel saat dia mencoba mengingat nama gadis itu. Tiba-tiba dia merasa kepalanya terasa berat dan berputar-putar. Di saat dia merasakan pusing yang hebat itu muncul sebuah nama dalam pikirannya.
__ADS_1
“R... a... n... e... e... a...” sebuah alfabet yang muncul dalam pikirannya dan membentuk sebuah nama.
“Raneea ? Ya aku ingat pada mu sekarang Raneea, teman masa kecilnya.” Dirga memegang kepalanya yang terasa bertambah berat dan dia tak bisa menahannya.
Sementara itu Rheva yang tertidur kini terbangun.
“Oh Tuhan.... berapa lama aku ketiduran ? Ah... Dirga.” gumamnya membuka mata lalu teringat pada temannya itu dan segera menuju ke tabung kaca tempat Dirga menjalani terapi.
“Celaka... dia sudah tak sadarkan diri. Dan aku tidak tahu sudah berapa lama dia dalam kondisi seperti ini. Apakah aku terlambat ?” ucapnya cemas dan gelisah. Gadis itu lalu berlari ke kamarnya dan mengambil buku panduan terapi itu dan membawanya kembali. Dia kembali ke depan tabung kaca lagi dengan membawa buku dan membuka cepat halamannya untuk mencari langkah selanjutnya yang harus ia lakukan.
Tanpa sengaja dia melihat sebuah sinar keluar dari dada Dirga dan dia melihatnya.
“Simbol... ? Simbol apa itu ? Aku seperti pernah melihatnya... ah, mungkin aku bisa mencarinya di buku ini.” gadis itu membalik halaman dan mencari gambar-gambar simbol di buku itu tapi tak menemukannya.
“Ah tidak... itu tidak penting sekarang. Sekarang apa yang harus ku lakukan ?” kembali membuka halaman dan mencari pedoman langkah terapi hiperbarik.
“Ah ketemu....” ucapnya membaca dan mulai merapal mantera yang tertulis di buku itu.
Saat gadis itu merapalkan mantera, sesuatu terjadi pada tubuh Dirga. Sinar kuning muncul dari ujung kaki anak itu lalu merambat naik ke atas sampai ke ujung kepala. Tubuhnya berputar di dalam air seperti gasing. Sel-sel saraf di otaknya yang sebagian rusak beregenerasi lagi menjadi sel baru. Beberapa saat kemudian tubuhnya berhenti berputar saat sinar berwarna kuning itu menghilang dan berpusat di keningnya.
Beberapa saat kemudian sinar itu menghilang dan mata Dirga terbuka.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....