
Sepulang dari sekolah, Dirga bermain di rumah seperti biasanya. Karena di rumah sepi, hanya ada Nenek dan Kakek yang biasanya repot dengan aktivitas mereka, ia bermain dengan Firoz di teras rumah. Ia melepas tali pengikat yang mengikat kaki burung itu.
Ia membiarkan elang putih itu terbang bebas di udara. Karena jika di ikat terus pastilah hewan peliharaan akan menjadi stres. Dan stres pada hewan bisa menyebabkan hewan kehilangan nafsu makan, dan paling parah akan menyebabkan kematian.
Ia melihat Firoz terbang dari satu dahan berpindah ke dahan lainnya. Dirga hanya menunggu sambil duduk di teras, menunggu burung itu kembali terbang ke dirinya seperti biasanya.
Ia menatap ke atas melihat langit. Tiba-tiba ia merasakan matanya kembali terasa panas dan perih, seketika matanya berubah warna menjadi ungu.
Ia bisa melihat jalan yang jauhnya ratusan meter di depan rumah menjadi terlihat dekat di depannya. Ia melihat ke arah lain, menatap tembok di sisi barat rumah dan mampu melihat menembus tembok itu serta bisa melihat rumah yang ada di balik tembok itu, beserta seluruh isi rumah.
Ia kemudian menundukkan pandangan menatap ke tanah dan melihat banyak bebatuan dan juga berbagai serangga seperti lipan dan kalajengking. Ia melihat lebih dalam lagi dan mendapati ada sumber air di kedalaman 300 meter.
“Auu... perih...” merasakan matanya semakin bertambah perih.
Semakin lama ia memandang suatu objek, semakin matanya bertambah perih, bahkan rasanya seolah terbakar.
Karena tak tahan, ia menutup mata dan kembali memegang kedua matanya. Ia teringat jika dia mempunyai kemampuan reiki. Ia kemudian mencoba mengalirkan energi penyembuhan ke area mata.
Agak lama, baru ia merasakan matanya kembali normal lagi. Ia membuka mata saat ia merasa tak sakit lagi. Pandangannya sudah kembali normal seperti sebelumnya. Untunglah tak ada yang melihat saat iris matanya berubah tadi.
Ia berpikir untuk sesaat, mencari apa saja penyebab matanya bisa berubah warna menjadi violet. Karena tadi ia melihat sinar matahari saat menatap ke atas, ia mengulangi lagi untuk mengecek dan memastikan apakah matanya akan kembali berubah atau tidak.
Ia merasakan matanya mulai perih saat ia menatap cahaya menyilaukan dari matahari yang langsung tepat mengenai mata. Ia segera memejamkan mata dan kembali menunduk sebelum ia merasakan matanya lebih perih dan akhirnya berubah sepenuhnya.
Ia kembali mengalirkan energi reiki ke area mata sampai ia merasa matanya menjadi dingin, tidak panas lagi, barulah ia menghentikan aliran energi reiki.
__ADS_1
Ia mencoba lagi mengaktifkan Penglihatan mata dengan mencoba berbagai cara. Jika tadi penglihatannya aktif karena cahaya yang menyilaukan, kini ia mencoba mengaktifkan dengan pikiran, apakah melalui pikiran ia bisa mengendalikan pengaktifan penglihatan itu.
Ia mencoba fokus dan memejamkan mata. Ia memusatkan seluruh kendali mata itu pada pikirannya. Ia mulai mencoba menjalankan perintah ke pikirannya untuk membuka penglihatannya.
“Apakah sudah terbuka ?” membuka mata dan tidak merasakan apa-apa.
Ia melihat ke sekeliling masih tampak normal. Selain itu matanya tidak terasa perih atau panas sama sekali.
Ia kemudian mengulangi lagi dengan melakukan banyak percobaan selama satu jam lamanya dan sia-sia, tak ada hasil. Namun ia tidak menyerah.
Dirga terus mencoba dan mengulangi lagi dengan menggunakan teknik yang berbeda dari sebelumnya.
Kali ini ia mencoba memejamkan mata. Ia lalu mengalirkan energi reiki, khususnya ia mengalirkan energi panas tanpa di sertai energi penyembuhan.
Ia membuka mata setelahnya dan ia merasakan matanya sedikit perih. Ia melihat ke samping dan bisa melihat menembus dinding lagi, meskipun tidak seperti awalnya tadi.
Ia pun merasa puas dan lega setelah akhirnya ia bisa mengontrol penglihatannya. Namun masih ada satu hal yang tidak ia ketahui saat ini. Ia memang sudah bisa mengambil kendali atas penglihatannya, namun ia tak bisa menghalangi atau menghindari sinar matahari yang entah kapan akan memancar tepat ke matanya dan pasti itu akan merubah warna iris matanya dengan cepat.
Satu lagi yang harus ia kendalikan saat matanya sedang berubah. Ia harus mencari cara agar tidak merasakan sakit dan perih saat matanya berubah warna. Namun ia belum memikirkan hal itu. Mungkin saat sudah kejadian berulang kali barulah ia tersadar dan akan mencari solusinya.
“Haus... Dirga haus.” merasa kehausan setelah banyak menggunakan energi reiki tadi.
Ia berdiri untuk masuk ke dalam dan mengambil air minum. Saat ia berbalik, Firoz terbang ke arahnya dan mendarat di tangannya.
Burung itu kelihatan gelisah dan terus mematuk ujung jari tangan Dirga.
__ADS_1
“Apa kau lapar ? Firoz kau sungguh lapar ?” mengelus kepala burung itu seolah menggelitik.
Firoz bersiul panjang saat Dirga bertanya. Itu berarti burung itu memang lapar.
“Baiklah aku akan mengambilkan makan untuk mu juga.” mengelus kepala Firoz lagi.
Firoz terbang dan pindah ke bahu Dirga. Mereka kemudian masuk ke rumah dan menuju ke dapur.
Dirga mengambil dua gelas besar air mineral dan menghabiskannya. Setelah itu dia menuju ke kulkas untuk mengambil makanan Firoz.
“Kau mau makan apa, pilih apa ?”
Dirga membuka kulkas dan mengambil ikan segar lalu menunjukkan pada Firoz, namun burung itu mematuk kepala Dirga dan artinya dia tidak mau makan itu. Dirga kemudian mengambil semangkuk udang segar dan menunjukkan ke Firoz. Burung itu langsung bersiul sambil mengepakkan sayap.
Dirga mengambil semangkuk udang, menutup kulkas kembali dan membawa udang itu ke teras. Ia meletakkan mangkuk berisi udang ke lantai.
Firoz langsung turun dari bahu Dirga dan menyantap habis udang dalam mangkuk itu.
Malam hari saat Dirga tidur, ia kembali terbangun di tengah malam. Saat ia bangun ia melihat jika dirinya tidak ada di ruangannya. Ia berada di dunia lain, dunia yang tidak ia ketahui sama sekali.
Dunia yang ia lihat berbeda dengan dunia yang sebelumnya ia lihat saat memetik buah blue berry. Sekarang ia berada di suatu tebing yang tinggi.
Ia berjalan pelan menuju ke tepi tebing. Hanya ada lautan dalam di bawahnya yang berwarna biru terang.
Ia tidak tahu, sebenarnya ia ada dimana sekarang. Ia melangkah ke tebing yang rimbun itu. Di sepanjang tebing banyak pohon rimbun yang menutupi jalan berlubang dan jalan yang rapuh. Tanpa sengaja ia menginjak batu yang rapuh dan membuatnya terjatuh.
__ADS_1
Saat jatuh, ia menarik sebuah akar tunggang pohon dan bergelantungan di sana. Namun akar itu ternyata tidak kuat menahan tubuh Dirga dan akhirnya patah juga. Ia jatuh ke laut bersama akar tunggang yang ia pegang.
BERSAMBUNG...