Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 79 Lautan Darah


__ADS_3

Dalam perjalanan kembali ke Pantai Mahakam, Dirga diam seribu bahasa meski Rheva berkali-kali mengajaknya bicara, namun dia sama sekali tidak menanggapi gadis itu. Dia merasa kesal pada Rheva yang tidak mau memberi pengertian sedikit saja padanya, tidak seperti biasanya. Dia semakin tidak mengenal temannya itu yang menurutnya telah berubah belakangan ini.


Hari semakin larut, setelah berjalan satu jam dan melewati tebing serta bebatuan akhirnya mereka tiba di sungai tempat mereka keluar dari Pantai Mahakam.


“Ah... apa tidak ada jalan kembali ke sana selain tempat ini ?” tanya Dirga yang akhirnya bersuara setelah sekian lama diam menahan kesal.


Rheva yang jadi ikut kesal karena anak itu dari tadi menggerutu balas menjawabnya dengan jengkel.


“Dirga aku yang lebih tahu tempat ini. Ada jalan lain tapi aku tidak menjamin itu aman. Karena jalan itu pasti telah di lewati oleh pasukan Infinix. Dan jika melewati jalan yang mereka lalui, sudah pasti mereka akan bisa melacak keberadaan kita. Kau tidak tahu Infinix itu seperti apa...” jawab Rheva panjang lebar.


Gadis itu lalu melompat ke sungai dan melawan arus masuk kembali ke tempat mereka terhisap lagi. Tak ada pilihan lagi bagi Dirga untuk menolaknya. Dia lalu ikut melompat dan membenamkan dirinya dalam sungai itu mengikuti Rheva.


“Bleb... bleb...” suara Dirga mulai kehabisan nafas setelah satu jam berenang. Rheva yang melihatnya lalu kembali menyusul Dirga yang berenang di belakangnya. Gadis itu khawatir jika anak itu tak sadarkan diri lagi seperti sebelumnya. Dia lalu menarik tangannya sambil terus berenang menuju ke atas.


Namun Dirga melepaskan genggaman tangannya dari gadis itu. Rheva tidak tahu kenapa anak itu menolak bantuannya. Apakah dia benar-benar marah padanya ? Apakah dia benar-benar keterlaluan hari ini pada anak itu ?


Rheva merasa bersalah telah menyinggung perasaan anak itu. Dia kembali lagi menyusul Dirga untuk membantunya membawa ke atas. Namun dia sangat terkejut saat melihat Dirga yang berubah wujud menyerupai manusia katak dan berenang dengan lincah dan sekarang mendahului dia.


“Anak itu kenapa dia juga bisa berubah menjadi seperti itu ? Aku curiga dia adalah salah satu keturunan seperti aku. Mungkin dia keturunan dari Pixy atau Excogryf..” batin gadis itu menyusul Dirga berenang ke atas.


Beberapa saat kemudian mereka sampai di tempat saluran yang menghisap mereka sebelumnya. Lagi-lagi saluran itu tersumbat oleh binatang penghisap darah.


Dirga dan Rheva saling menatap memberikan isyarat lalu mereka menarik kencang binatang itu dan ternyata saluran itu tetap tersumbat.


Rheva meminta Dirga mundur. Dia kemudian maju dan mengambil pedang cahaya lalu menebaskan ke tubuh binatang itu yang seketika langsung hancur hanya dengan sekali tebas.


“Crat...!” Binatang itu hancur berkeping-keping dan saluran itu akhirnya terbuka.

__ADS_1


Rheva lalu menonaktifkan fungsi pedangnya dan mengembalikan ke bentuk aslinya.


Dirga baru mengetahui jika pedang milik gadis itu bisa berubah menjadi sebuah bros. Dia melihat bros yang sekarang di kenakan gadis itu yang membuatnya teringat akan sesuatu.


“Bros itu kan... kenapa bentuknya mirip sekali dengan bros yang barusan ku ingat saat aku menjalani terapi... dan bros itu milik seorang gadis kecil bernama Raneea. Kenapa itu bisa ada di tangan Rheva ? Apa hubungan dia dengan teman masa kecil ku itu ?” tanyanya dalam hati terus mengamati bros milik Rheva.


Tak berapa lama kemudian setelah saluran itu tak tersumbat, muncul lagi pusaran air yang kini menghisap mereka dan melempar tubuh mereka ke luar dari palung.


“Bleb... bleb...” mereka berdua terseret dalam arus yang kuat dan beberapa saat kemudian mereka keluar dari ngarai. Dan sekarang mereka berenang menuju ke permukaan.


Saat mereka berenang, air di sekitar mereka tidak berwarna bening lagi, namun sedikit keruh dan berwarna sedikit merah. Firasat mereka mengatakan sesuatu yang buruk sedang terjadi.


Benar saja setelah tak lama berenang mereka menemukan bangkai hewan laut lainnya di sana. Hampir 60% penghuni laut lainnya di sana telah mati. Dan mereka tahu sebabnya tak lain karena ulah binatang penghisap darah itu.


Dirga meluncur cepat ke atas dan mendapati polip hirudinae itu memenuhi lautan dan sekarang mereka berkumpul. Sepertinya mereka mau membentuk koloni.


Dirga berubah kembali ke wujud aslinya sesaat setelah mereka sampai ke permukaan laut.


“Rheva kau lihat itu ?” ucap Dirga menunjuk ribuan polip yang berkumpul ke satu tempat.


“Iya aku tahu. Kita harus menghentikannya sebelum mereka berhasil bergabung dan membentuk suatu koloni.” jawab gadis itu.


Mereka berbicara sebentar dan menyusun strategi untuk membinasakan binatang itu sebelum binatang itu bisa membahayakan nyawa manusia.


“Ayo kita mulai sekarang... !” ucap Dirga yang di angguki oleh Rheva.


Mereka kemudian kembali berenang menuju ke tempat binatang penghisap darah itu berkumpul. Sebagian polip tampak sudah berkoloni dan bergabung sehingga ukuran mereka menjadi besar.

__ADS_1


Dirga mulai mengaktifkan kekuatan matanya. Sinar violet keluar dari matanya dan dia mengarahkan pada ribuan polip kecil yang akan bergabung membentuk hirudinae berukuran besar.


“Slash... slash...!” sinar violet itu berhasil membelah polip yang belum bergabung itu.


Semetara itu Rheva mengambil pedang cahaya dan menebaskan tepat ke inti pusat binatang itu dan membuatnya jatuh menjadi ribuan polip kecil yang kini memenuhi lautan.


Kini ribuan polip itu bergerak bergerombol menuju Dirga. Dalam hitungan menit, mereka sudah menutupi tubuh Dirga.


Rheva mengayunkan pedang cahaya sekali lagi dan membuat binatang itu turun dari tubuh Dirga dan beberapa mati. Namun jumlah mereka seakan tak ada habisnya.


Mereka kembali melawan binatang itu dengan menggabungkan kekuatan. Saat Rheva menebaskan pedang cahaya, Dirga meminjam kekuatan Evony dan mengeluarkan kekuatan listrik secara bersamaan.


“Boom.... duar... duar...!” suara ledakan besar beruntun terjadi di lautan itu yang membuat binatang parasit itu hancur berkeping-keping dan hangus terbakar. Lautan itu semakin berwarna merah pekat dengan matinya semua binatang parasit itu.


“Ah... Akhirnya berakhir juga.” ucap gadis itu lalu segera keluar dari lautan darah itu bersama Dirga.


Mereka menghela nafas sekedar mengisi paru-paru mereka dengan oksigen bersih di tempat itu.


“Dirga... em... sebenarnya aku merasa jika sebelumnya aku sudah keterlaluan padamu. Maafkan aku....” ucapnya tulus setelah menyadari sikap kekanakannya.


Tiba-tiba ada satu binatang laut yang melesat dari belakang tubuh Dirga.


“Awas...!” gadis itu mengeluarkan kekuatan apinya untuk membakar binatang itu.


“Ups...” gadis itu menubruk Dirga untuk melindunginya dan tak sengaja mencium bibir anak itu.Dia segera menarik tubuhnya dan menjauh dari Dirga.


“Oh... inikah yang kau maksud sebagai permintaan maaf mu barusan ?” ucapnya sambil berdiri dan tersenyum menatap gadis yang tampak memerah pipinya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2