Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 25 Terjebak


__ADS_3

Tubuh Dirga jatuh meluncur ke bawah tanpa bisa di kendalikan. Ia melihat laut yang semakin dekat dengan tubuhnya. Ia bersiap untuk memasuki lautan luas di hadapannya. Ia memejamkan mata dan berharap ia tidak membentur batu karang yang keras atau di mangsa oleh makhluk buas yang ada di lautan.


Ia mencoba tenang dan berdoa dalam hati semoga ia selamat dan tidak terjadi apa-apa. Ia berharap ini hanyalah sebuah mimpi atau seperti yang terjadi biasanya, ia hanya mampir di sebuah dunia lain dan setelah itu kembali ke rumah.


Untuk sesaat ia teringat pada Firoz. Jika saja ia pergi dengan elang putih miliknya itu kali ini, tentu ia tidak akan jatuh ke laut. Karena pasti Firoz membantunya.


“byur...”


Dirga terjatuh dan masuk ke dalam lautan luas tak bertepi.


Tubuhnya yang kecil membelah air dan menerobos masuk ke dalam. Ia merasakan dinginnya air laut menembus kulit.


Dia menahan tubuhnya agar tidak jatuh semakin dalam dengan berenang naik ke atas. Ia bergerak terus, mengayunkan kakinya dalam air menuju ke atas. Hingga akhirnya ia sampai di tengah dan kurang sedikit lagi sudah sampai di atas, namun dia kehabisan nafas dan jatuh kembali jatuh ke dalam, tenggelam.


Ia berusaha untuk terus naik, namun ia merasakan tubuhnya semakin lama semakin lemas, karena sudah semakin sedikit oksigen yang ia dapatkan. Hingga akhirnya ia jatuh sampai ke dasar laut.


Ia sempat melihat sekumpulan ikan- ikan yang berenang di lautan melewati tubuhnya dan menyentuh kulitnya. Sayang sekali ia tak bisa menyentuh dan bermain-main dengan sekumpulan ikan cantik yang beraneka warna itu.


Perlahan kesadarannya mulai turun dan sampai akhirnya dia benar-benar tak sadarkan diri.


Saat itu di daratan, angin sedang bertiup kencang dan membuat laut menjadi bergelombang. Ada ombak besar yang menggulung lautan seisinya, seolah terjadi tsunami hebat saat itu.


Dalam sekejap ombak pasang menyapu lautan sampai ke bagian dalam lautan. Ombak itu menyapu tubuh Dirga dan membuat tubuh kecilnya terombang-ambing di dasar lautan.


Tubuh Dirga bergeser tersapu ombak dan membuat tubuh kecil itu terus bergeser. Beberapa saat kemudian ombak berhenti, lautan kembali menjadi tenang dan tubuh Dirga berhenti di sebuah goa yang terletak di kedalaman.


Goa itu terletak di tempat yang tersembunyi dan terletak diantara dua lautan yang berbeda.


Tubuh Dirga terus terseret hingga masuk ke mulut goa. Sungguh tak di sangka jika di dalam goa itu terlihat banyak mata yang bersinar terang. Mereka mencium keberadaan makhluk lain di tempat mereka. Dua orang di antara mereka keluar dari dalam goa dan menghampiri Dirga.


Tampak dua orang manusia berbadan ikan yang mempunyai ekor dan juga tangan, mirip dengan mermaid.


“Siapa anak ini ? Mengapa bisa sampai kesini ?” seorang duyung bertanya pada duyung lainnya.

__ADS_1


Duyung lainnya memegang tubuh Dirga untuk membaca pikirannya dan mencari tahu darimana ia berasal. Ia menyentuh kepala Dirga dan masuk ke dalam pikirin nya.


“Dia manusia biasa, anak ini berasal dari dunia manusia. Tapi aku rasa dia bukan manusia biasa. Ada sesuatu dalam dirinya. Aku tak tahu itu apa...” mengambil informasi dari pikiran Dirga, menyampaikan pada temannya.


“Bukankah para manusia berbahaya ? Mereka selalu berusaha mencari keberadaan kaum kita untuk penelitian mereka.” menatap Dirga dan menyentuh pergelangan tangannya.


“Anak manusia ini masih hidup meskipun denyut nadinya sangat lemah. Sepertinya dia tidak lama masuk kesini.” melepaskan tangan Dirga kembali dan melihat kondisinya.


“Ariel kita tidak boleh mengasihi anak manusia ini. Mungkin saja dia salah satu anak dari golongan manusia yang sering mencari dan memburu kita. Kita ikat saja dia di dalam atau kita kasihkan pada Patrick sebagai makan siangnya.” memberi saran pada Sophia.


Karena memang selama ini manusia adalah makhluk yang mengancam kehidupan mereka, akhirnya Sophia menyetujui saran dari Ariel. Mereka membawa masuk Dirga ke dalam goa lalu mengikat nya dan menjadi tontonan para duyung lainnya yang bergantian melihat Dirga dan ingin melenyapkan saat itu juga.


Para duyung pun kemudian berdiskusi untuk memutuskan akan mengambil tindakan apa pada Dirga.


Sementara itu di rumah Dirga.


Pagi hari semua bangun seperti biasanya. Meskipun hari itu adalah hari Minggu, hari libur tapi keluarga Dirga tidak pernah bangun siang atau bermalas-malasan di rumah.


Pagi itu semua keluarga berkumpul untuk sarapan pagi di ruang makan. Namun hanya Dirga saja yang tidak ada di tempat. Tidak biasanya anak itu terlambat untuk sarapan pagi meski di hari libur. Karena ia menyukai masukan dari Nenek dan tidak pernah melewatkan nya.


“Biar aku periksa saja Ayah.” Elsa berdiri dari kursi.


“Tidak usah sayang, biar aku saja yang memanggil Dirga.” berdiri dan menarik tangan Elsa.


Untunglah Elsa menurut pada Hadwan dan mau duduk kembali. Hadwan segera berjalan ke kamar Dirga. Ia yakin ada sesuatu yang terjadi pada anaknya. Karena itu ia menawarkan diri untuk memanggil Dirga, untuk menghindari dan berjaga saja jika Dirga mungkin sedang mengalami masalah dengan perubahan matanya lagi.


Hadwan membuka pintu dan melihat Dirga masih tidur.


“Nak bangun, sudah pagi.” membangunkan Dirga.


Namun Dirga tidak bangun juga, meski Hadwan menepuk bahunya.


Hadwan melihat wajah Dirga tampak aneh. Karena anak itu tidak terlihat sedang tidur, namun lebih terlihat seperti pingsan. Wajahnya tampak pucat.

__ADS_1


Ia memegang tubuh Dirga yang terasa dingin. Ia kembali mengguncang-guncang tubuh anaknya agar bangun, namun masih belum bangun juga. Ia tak tahu harus berbuat apa kali ini, dan tak tahu apa sebenarnya yang terjadi pada anaknya.


Dia diam sejenak sambil berpikir untuk mencari jalan keluar. Tiba-tiba ia mendengar Dirga mengigau.


“Tolong Dirga... aku bukan pemburu. Aku tidak tahu siapa pemburu yang kalian maksud. Kembalikan aku ke rumah ku...” Dirga menjelaskan pada para duyung yang saat itu sedang mengerumuninya dan bersiap mengangkut tubuhnya untuk di lempar ke mulut seekor hiu macan tutul besar yang bergigi tajam.


“Dirga... apa kau bermimpi buruk ? Bangun Nak... bangun...” mengguncang tubuh Dirga.


Dirga masih belum merespon ucapan Hadwan dan masih tertidur sambil terus mengigau. Badannya tampak bergetar dan berkeringat.


Hadwan duduk di sebelah Dirga dan menegakkan tubuh Dirga lalu menyandarkan ke dadanya. Segala cara ia coba untuk menyadarkannya, dan masih belum ada respon.


Ia kemudian berbisik di telinga kiri Dirga dan memanggil namanya sambil membaca sembarang doa yang dia bisa.


“Dirga... bangun, sadarlah. Ayo kembali pada Ayah.” membisikkan berulang kali.


Dirga yang saat itu sudah berada di ujung mulut ikan hiu macan tutul seperti mendengar suara Ayah yang memanggilnya.


Ia kemudian mengingat kembali kondisi terakhirnya sebelum berada di dunia bawah laut itu. Ia teringat jika saat itu ia sedang terbangun dari tidur saat tengah malam, dan sekarang pasti sudah pagi karena ia mendengar Ayah berusaha membangunkan dirinya.


“Ayah... tolong aku... !!” berteriak keras saat tubuhnya masuk ke mulut ikan hiu.


Ia mencoba tenang dan membuka penglihatannya untuk melihat ke luar.


Beberapa saat kemudian warna matanya berubah warna menjadi violet yang bersinar dalam kegelapan.


Sinar dari mata Dirga seolah melukai tubuh ikan hiu, karena terlihat menggeliat seakan tersayat oleh sinar dari mata Dirga. Dan seketika Dirga merasa ada yang menarik tubuhnya ke atas.


“Ahh...” Dirga membuka mata dan melihat ke sekeliling, ternyata ia sudah kembali ke rumahnya.


“Dirga... akhirnya kau bangun juga Nak, Ayah khawatir pada mu.” melihat mata Dirga berubah warna.


Dirga memegang tangan Ayahnya erat sambil memegang mata dan mengalirkan reiki ke area mata dan tak lama kemudian matanya kembali normal.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2