Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 109 Goa Es


__ADS_3

Kakek guru berjalan membimbing Dirga ke tempat lain. Karena ruang dimensi yang sekarang sudah retak dan tak nyaman bila dipakai lagi dia meniadakan ruang dimensi itu.


“Zlap...” Kakek Sanca membuka tangannya dan tiba-tiba ruang dimensi yang sekarang yang tersedot kembali ke ruangannya dan berubah bentuk kembali menjadi tasbih. Seketika mereka kembali berada di ladang jagung.


Kakek itu lalu memegang kalung tasbih yang ada di lehernya dan melempar satu manik ke udara yang berputar kemudian membesar dan menjadi kristal.


Melihat Dirga yang diam dan terpukau oleh ruang dimensi buatan kakek Sanca, kakek itu pun berjalan menghampirinya.


“Ayo kita masuk ke ruang dimensi lagi.” ucap kakek guru mengajak anak itu kembali masuk ke ruang dimensi yang baru di buatnya.


“Ah... baik kakek Sanca...” jawab Dirga yang masih bengong melihat begitu mudahnya sang kakek menghilangkan dan membuat ruang dimensi yang baru. Dia pun segera berjalan masuk mengikuti kakek Sanca.


Belum hilang rasa terkejutnya begitu sampai di dalam dia masih terpukau oleh ruang dimensi itu yang berbeda dengan ruang dimensi sebelumnya. Lapisan es tampak menyelimuti seluruh ruangan itu.


Baru saja Dirga masuk dan menapakkan kakinya satu langkah ke depan, dia tergelincir.


“Argh... braak.” Dirga yang terjatuh di atas lapisan es itu segera berdiri. Namun dia kembali terjatuh setelah berdiri.


Melihat anak itu yang terjatuh kakek Sanca berbalik dan kembali menghampiri.


“Ayo berdiri dan mulai latihan.” ucap sang kakek membantunya berdiri sambil mengumbar senyumnya.


Dirga berjalan di belakang kakek Sanca menuju ke sebuah goa yang ada di sana. Di dalam goa itu juga dipenuhi es, bahkan lapisan es di sana lebih pekat dari lapisan es yang ada di luar goa.


Dirga masih memandangi goa itu sambil berkata dalam hati, “latihan apa sebenarnya yang akan dilakukan di tempat ini ?”

__ADS_1


Kakek Sanca mencari posisi yang nyaman untuk duduk. Dia melihat ada lempengan batu besar dengan permukaan yang rata dan bisa dijadikan tempat duduk, lalu duduk bersila di sana.


Sementara itu Dirga yang tidak jelas pada apa yang mau mereka lakukan mengikuti sang kakek dan duduk pada lempengan batu yang ada di belakangnya.


“Kakek guru sebenarnya kita mau latihan apa di sini ?” tanya Dirga yang mulai tak sabar karena sedari tadi gurunya itu sama sekali tak memberikan penjelasan apapun padanya.


Kakek Sanca berbalik dan menghadap Dirga mendengar pertanyaan darinya.


“Baiklah kali ini kita akan latihan menyerap kekuatan alam. Es merupakan elemen terkuat dari elemen lainnya. Jika kau bisa menyerap elemen es maka dengan mudah kau akan bisa menyerap elemen lainnya.” ucapnya menjelaskan sesi latihan kali ini.


Belum sempat Dirga bertanya dan masih kurang jelas, kakek Sanca kembali berbalik dan menghadap ke depan. Dia lalu memejamkan mata dan mengatupkan Kedua telapak tangannya lalu menempelkannya pada dadanya.


“Dasar Kakek Sanca ini... pada latihan sebelumnya dia sama sekali tidak memberikan penjelasan padaku. Dan pada latihan kali ini dia hanya memberi penjelasan sedikit padaku. Aku sama sekali tak memahami hal ini.” batinnya yang menggerutu kesal pada sikap gurunya yang menurutnya misterius dan selalu menyuruhnya memecahkan masalah sendiri.


Karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, dia memutus kan untuk melihat latihan yang dilakukan oleh kakek Sanca dulu.


Udara di dalam goa yang tadinya sangat dingin sekali tiba-tiba semakin lama semakin terasa hangat.


“Apa yang terjadi di sini... kenapa suhu udara di sini ini tiba-tiba menjadi hangat ?” batinnya sambil terus menatap goa itu. Dia melihat ada udara dingin yang berputar di dalam gua itu lalu berkumpul di tempat di mana kakek Sanca berada.


“Apa benar kakek guru telah menyerap energi es yang ada dalam goa ini sehingga suhunya berubah menjadi hangat ?” tanyanya penasaran dan memegang tahu kakek Sanca yang menjadi sedingin es.


Merasa ada yang menyentuh bahunya, kakek Sanca membuka matanya dan mengakhiri meditasinya. Seketika energi yang telah di serapnya tadi terlepas kembali ke gua itu dan mendadak suhu dalam gua yang tadinya hangat kini kembali sedingin es.


“Sekarang coba kau praktekkan seperti yang kulakukan tadi.” ucap sang kakek berbalik serta menghadap Dirga dan menyuruh anak itu untuk segera memulai latihannya.

__ADS_1


“Baik kakek guru...” jawabnya.


Dirga segera memejamkan matanya dan mengatupkan kedua tangannya lalu menempelkan di dadanya persis seperti yang dilakukan sang guru.


Sudah satu jam lamanya dia duduk di sana. Saat membuka matanya dia melihat keadaan dalam gua itu tetap sama seperti sebelumnya dan udara di sana pun masih terasa dingin sekali.


“Kakek guru... kenapa aku sama sekali tidak bisa menyerap inti kekuatan es di goa ini... ?” tanyanya pada kakek Sanca.


Kakek Sanca tersenyum menatapnya lalu berdiri dan masih menatap Dirga.


“Anak muda... kau harus mencari tahu sendiri cara menyerap inti kekuatan es ini. Sebab jika aku memberitahu maka kau akan kesulitan memahaminya. Berbeda jika kau mencari tahu sendiri maka kau akan benar-benar memahami dan menguasai teknik ini lebih cepat.” ucapnya sambil memegangi jenggot putihnya lalu berjalan keluar dari goa meninggalkannya sendirian di sana.


“Kakek guru... tunggu sebentar. Tolong jangan tinggalkan aku lagi. Bagaimana jika aku mati kedinginan di sini ?” teriak anak itu pada gurunya yang sudah sampai di pintu keluar goa.


“Apa kau lupa... kau sekarang ini dalam wujud roh jadi kau tidak akan mati. Berlatihlah aku akan kembali ke sini setelah kau menguasai teknik ini.” ucapnya berbalik sebentar lalu kembali berjalan dan menghilang dari goa itu.


“Ckk... lagi-lagi kakek guru meninggalkanku berlatih sendiri.” gerutunya yang kesal karena salah mengira jika gurunya kali ini akan menemaninya berlatih sampai tuntas.


Dirga berdiri dan berjalan ke pintu Goa untuk mencari keberadaan kakek guru. Namun dia kembali masuk ke goa setelah mendapati gurunya benar-benar pergi dari goa itu.


“Karena kakek guru tak ada disini lebih baik aku bersantai sebentar di tempat ini. Barangkali aku menemukan ide.” ucapnya lagi lalu merebahkan tubuhnya di atas batu tempatnya duduk tadi sambil menatap langit-langit goa itu.


“wuus...” Angin dingin di ruangan itu menerpa tubuhnya yang membuatnya mulai kedinginan.


“Aneh sekali... dalam wujud roh kenapa aku masih bisa merasakan dingin ?” gumamnya sambil menatap langit-langit goa itu. Merasakan dinginnya udara dalam goa itu dia teringat kembali pada Lembah Salju tempat tinggal Rheva yang mengingatkan dirinya kembali pada kekasihnya itu.

__ADS_1


“Benar.... aku harus segera kembali ke tubuhku dan menyelamatkan Rheva. Aku harus cepat menyelesaikan latihan ini.” ucapnya bersemangat lagi lalu bangkit dan segera duduk. Dia mulai bersila dan melakukan meditasi seperti yang dilakukan oleh kakek guru Sanca.


BERSAMBUNG....


__ADS_2