
Suatu ketika Dirga sembuh dari insomnia. Setelah beberapa lama waktunya ia selalu terjaga di saat malam hari. Para anak autis memang cenderung mengalami gangguan tidur di malam hari.
Mayoritas para anak autis sering terjaga di malam hari. Mereka sangat sensitif terhadap suara. Oleh karena itu jika ada kebisingan sedikit saja di malam hari, mereka akan langsung terjaga.
Beberapa ada yang marah saat terganggu waktu tidurnya, beberapa ada yang melukai diri mereka sendiri saat terjaga. Ada yang melukai dirinya sendiri, dengan membenturkan kepalanya ke dinding. Ada juga yang mencubiti keluarga yang saat itu ada di dekatnya.
Awal-awal dulu Dirga juga seperti itu. Hampir setiap malam dia terjaga sampai lewat tengah malam dan baru tertidur jam 03.00 dini hari, kemudian di pagi harinya emosinya akan meledak-ledak. Sedikit hal saja yang membuatnya tak merasa nyaman, emosinya akan langsung tersulut.
Mungkin jika tidak terapi, dia akan masih seperti itu sampai sekarang. Malam ini jam 20:00 dia sudah tertidur. Ia tidur di kamarnya seorang diri. Elsa dan Hadwan melatihnya untuk berani tidur sendiri. Karena menurut mereka sudah masuk usia sekolah, berarti sudah waktunya juga untuk lebih mandiri, di mulai dengan tidur sendiri. Ia memperlakukan Dirga layaknya anak normal. Karena mereka menganggapnya normal. Dan agar ia terbiasa menjalani kehidupan normal.
Tengah malam Dirga bermimpi aneh. Ia seperti berada di sebuah kerajaan tua dan kuno. Bangunan istana kerajaan itu pun tampak gelap dan tak terawat, bahkan sebagian ada yang retak dan hampir hancur.
Dirga berjalan menyusuri istana yang kosong, tak ada satu pun penghuni di dalamnya. Ia melanjutkan berjalan untuk mencari jalan keluar, karena ia merasakan hawa di dalam bangunan itu aneh. Hening dan dingin.
Tiba-tiba angin bertiup kencang dan masuk ke dalam bangunan istana melalui jendela yang terbuka di sepanjang bangunan yang tinggi itu.
Baru beberapa langkah ia berjalan, ia di kejutkan dengan kedatangan seorang wanita berpakaian seperti seorang putri yang berparas anggun. Di sekeliling tubuh wanita itu tampak bersinar. Ia juga membawa sebuah tombak kerajaan yang berbentuk unik. Terdapat hiasan dari batu ruby di tengah bagian tombak itu yang membentuk sebuah sayap kecil, yang berhiaskan berlian di tiap ujung sayap itu.
“Tunggu... !!!” wanita itu menghadang Dirga dan membuatnya berhenti tepat tiga langkah di depannya.
“Pergi dari hadapan Dirga, jangan ganggu Dirga.” berusaha berjalan lagi, namun di hentikan oleh wanita itu.
Mau tidak mau, Dirga pun akhirnya berhenti tanpa rasa takut. Karena memang anak autis tidak mempunyai rasa takut pada apapun. Tidak ada hal yang bisa membuatnya takut, sekalipun itu adalah hantu. Bahkan saat dulu jarinya ******* oleh pisau yang baru di beli Elsa dan darahnya mengalir cukup banyak karena tergores cukup dalam pun, ia tak merasakan sakit sama sekali. Hal itu karena memang ada beberapa sel sarafnya yang tidak berfungsi dengan sempurna.
“Aku adalah seorang putri dari kerajaan Bornu. Aku ingin ikut dengan mu.” menjelaskan tujuan dan maksudnya.
__ADS_1
“Dirga tidak mau. Dirga tidak bisa memelihara mu.” menolak permintaan putri itu.
“Aku akan melindungi mu, di saat kau kesulitan atau dalam bahaya aku akan selalu menjaga mu.” tetap memaksa.
“Dirga tidak bisa.” kembali menolak permintaan putri itu.
“Kau tidak perlu merawat atau menjaga ku. Terimalah tombak Angevin ini.”menyerahkan tombak yang di pegangnya pada Dirga.
Dirga menerimanya dan memegangnya dengan tangan kanannya. Kemudian tombak itu berubah menjadi kecil, sepanjang 10 senti meter di telapak tangannya. Tiba-tiba putri yang ia tidak tahu namanya tadi menjadi bersinar berwarna jingga terang, lalu masuk ke dalam tombak itu.
Setelah putri itu menghilang, saat itu juga tombak Angevin tadi ikut menghilang, masuk ke tubuhnya menembus telapak tangannya.
“Aghh...tidak mau... !!!”
Dirga berteriak kencang untuk menolaknya.
“Hii... apa itu tadi ?” menoleh ke samping yang tidak ada siapa-siapa. Lalu melihat tangannya yang menjadi merinding. Ia merasa ada seseorang di ruangan itu selain dirinya.
Dirga merasa tengkuknya merinding setelah bermimpi barusan. Ia masih ingat dalam mimpinya itu, putri tadi masuk ke raganya dan bergabung dengan dirinya yang membuatnya bertambah merinding.
Ia lalu mengusap tengkuk belakangnya, karena merasa ada yang berada di belakangnya dan meniup tengkuknya sehingga ia merasakan dingin. Ia turun dari tempat tidurnya, berjalan ke jendela, melihat ke luar jendela untuk mencari seseorang yang mungkin sedang bersembunyi. Namun ternyata tak ada.
Ia juga berjalan ke arah lemari dan membukanya. Ia mendengarkan ada suara dari balik lemari itu.
“Tidak ada apa-apa... Dirga yakin mendengar suara dari sini.” mengacak isi lemari untuk melihat dan mencari sesuatu yang bersembunyi di dalamnya, namun tak ada.
__ADS_1
Dirga menutup kembali pintu lemari. Ia lalu berdiri di dekat tempat tidurnya, kemudian berjongkok, melihat ke bawah kolong tempat tidurnya. Ia juga tidak menemukan siapa-siapa di sana. Walaupun ia merasakan hawa di bawah kolong itu terasa sangat aneh.
Ia pun kembali berdiri, lalu duduk di kursi dekat pintu. Ia terlihat seperti menunggu seseorang untuk datang, namun sudah satu jam dia menunggu. Tak ada kejadian aneh ataupun seseorang yang muncul di hadapannya.
Dirga kembali ke tempat tidurnya. Ia memejamkan mata, namun tetap tidak bisa tidur karena masih gelisah, merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata di ruangannya. Satu jam berikutnya akhirnya ia tertidur.
Pagi hari saat ia bangun, ia kembali mengecek seluruh ruangan nya, namun tak ada apa-apa. Dan ia pun merasa lega karena tidak ada sesuatu yang mengikutinya lagi seperti yang putri itu bilang dalam mimpinya.
Dirga beraktivitas seperti biasa. Ia mandi lalu sarapan pagi. Setelah ia memakai sepatu sekolah, Hadwan mengantarnya masuk ke sekolah.
Selama di jalanan, Dirga merasa aneh.
Jalanan menuju ke sekolah yang biasanya sepi di pagi hari, hanya ada pepohonan rimbun di kiri jalan sebelum melewati beberapa rumah, kini nampak ada beberapa rumah baru di dekat rerimbunan pohon tadi.
Ia juga melihat ada beberapa anak kecil bermain di sekitar jalanan itu, yang ia tak pernah lihat sebelumnya. Ia Juga melihat ada sebuah toko yang menjual makanan ringan anak-anak di seberang anak-anak kecil tadi bermain.
“Ayah... Dirga mau beli es krim di sana.” melihat box freezer es krim di depan toko tadi.
Ayahnya menoleh dan melihat ke toko yang di tunjuk oleh Dirga. Namun ia tak melihat apapun di sana. Dan hal itu malah membuatnya merinding.
“Tidak ada toko es krim di sana Nak, jangan bicara yang aneh-aneh. Di sini masih daerah kosong, belum ada satu penghuni baru.” menoleh pada Dirga.
Dirga kembali melihat jalanan tadi, dan ia masih melihat beberapa anak kecil yang sedang bermain, juga toko es krimnya. Memang bangunan yang di lihatnya itu tidak seperti bangunan pada dunia nyata, bangunan dan anak kecil tadi terlihat lebih samar.
Karena Ayahnya bilang tidak ada, ia menurut saja pada perkataan Ayahnya itu dan tak jadi membeli es krim kesukaannya. Mereka pun meneruskan kembali perjalanan menuju ke sekolah Dirga.
__ADS_1
BERSAMBUNG...