Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 44 Penyelamat


__ADS_3

Tujuh hari telah berlalu. Dirga dan kelompoknya sering melakukan peneliatian di luar jam kuliah, sekedar mempraktikan teori yang mereka dapatkan di bangku sekolah untuk mengingatnya.


Pagi hari yang mendung menyelimuti bumi. Matahari bersembunyi di balik pekatnya awan. Hari itu jam kosong. Para mahasiswa bebas melakukan aktivitas. Ada yang tetap di kelas main game, beberapa apa ada yang ke kantin, ada juga yang pergi ke lapangan basket dan lain-lain.


Nathan dan Tomy tampak senang melakukan eksperimen kecil di laboratorium. Sedangkan Dirga ada di perpustakaan. Dia duduk di sebuah kursi dengan tiga tumpuk buku tebal di sampingnya. Dia suka membaca literatur ataupun buku tentang sejarah kuno, meskipun dia kuliah jurusan kimia. Entah kenapa dia jadi suka membaca hal yang berkaitan dengan sejarah kuno. Mungkin karena sejak kecil dia sudah terbiasa membaca buku seperti itu di ruang baca ayahnya.


Awalnya ruanga itu di penuhi oleh mahasiswa namun lama-kelamaan satu-persatu mahasiswa keluar dari sana. Hanya Dirga seorang yang masih ada di ruangan itu.


“Kriet...” sebuah suara kursi di geser yang membuat Dirga terkejut dan menoleh ke samping.


“Rheva...” Dirga menoleh dan melihat gadis itu duduk sambil menaruh buku yang ia pegang ke meja. Dia melihat tangan kiri gadis itu yang masih memakai perban.


“Kebetulan sekali... aku mencari mu kemana-mana, kau tak ada. Dan sekarang kau datang padaku...” merasa bersalah melihat perban yang terbalut di tangannya itu karena dirinya, karena melindunginya. Dia lalu memegang tangannya.


“Bagaimana dengan luka mu ? Bagaimana apa masih sakit ?” melihat Rheva yang menggeleng lalu tersenyum. Namun ia tetap membuka perban itu. Ia ingin melihat dan menyembuhkan luka di tangan temannya itu dengan kemampuan reiki-nya.


“Tidak usah... jangan. Maksud ku aku sudah tidak merasakan sakit lagi.” menolak dan menarik tangannya. Namun sudah terlambat. Perban sudah terbuka. Betapa terkejutnya Dirga saat melihat luka bakar di tangan gadis itu sudah sembuh total, bahkan tak meminggalkan bekas luka sedikitpun. Padahal luka bakar biasanya satu bulan baru kering sedangkan luka di tangan Rheva baru satu minggu sudah sembuh total.


Rheva sedikit salah tingkah setelah Dirga melihat luka di tangannya sembuh. “Ouh... aku juga tak mengira luka ku akan sembuh secepat ini. Kau tahu kan Ayahku seorang ahli medis. Dan dia merawat ku dengan baik di rumah. Dia memberiku... entah aku kurang paham obat apa yang di oles itu...” menarik tangannya dan kembali membalutkan perban di tangannya.


“Ya aku tahu.. aku tahu itu. Beruntung sekali kau punya ayah yang merupakan ahli medis dan perhatian padamu.” melepas tangan gadis itu mencoba menerima penjelasan dari Rheva walaupun sebenarnya itu tetap tak masuk akal baginya dan aneh.

__ADS_1


Gadis itu membuka buku yang tadi dibawanya. Mereka kemudian melanjutkan membaca buku yang mereka pegang dan hanyut dalam lembaran tinta hitam itu.


“daak...” Angin semakin kencang berhembus masuk menerobos jendela yang terbuka. Mereka berdua sama sekali tak terpengaruh dengan angin yang berdesir masuk dan membuat kalender yang ada di dinding dan lukisan yang tergantung disana bergoyang.


“Cring....” sebuah lampu besar bergoyang hebat terkena angin yang dahsyat.


“ting....” ada satu sekrup yang goyah yang terlepas dan jatuh ke lantai karena tak kuat menahan beratnya lampu yang berayun terkena angin.


Mata mereka berdua melihat ke arah lantai dimana sekrup tadi terjatuh. Dirga berdiri dari kursinya dan mengambil sekrup yang jatuh itu. Angin kembali berhembus kencang dan membuat lampu itu kembali bergoyang dan bergemerincing karena sisi-sisinya saling berbenturan.


Rheva ikut berdiri dan berjalan ke arah jendela dan menutupnya agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan. Baru dia berjalan dan belum sampai ke jendela, tiba-tiba beberapa sekrup lampu jatuh dan seketika lampu besar tepat di atas Dirga berdiri itu jatuh.


Lampu itu jatuh begitu cepat dan dia yang tersentak berusaha menghindar namun tidak sempat. Satu-satunya cara adalah mengehentikan pecahan lampu itu agar tidak jatuh mengenai tubuhnya. Tapi dia bimbang mau mengeluarkan kekuatannya di depan Rheva atau tidak, karena selama ini dia menyembunyikan kekuatannya itu dari teman-temannya.


Tidak banyak waktu yang tersisa. Daripada dirinya celaka, lebih baik dia sedikit menggunakan kekuatannya. Matanya berubah warna menjadi ungu muda. Dia menahan laju pergerakan jatunya lampu itu lalu menghindar dan terhempas ke lantai.


Rheva yang saat itu berlari karena melihat masih ada banyak serpihan kepingan kaca yang akan mengarah mengenai mata Dirga melakukan sesuatu.


“Penghenti waktu...!” Seketika waktu berhenti. Angin pun ikut berhenti. Di ruangan itu semua benda yang tadinya bergerak berhenti, yermasuk serpihan kaca lampu yang akan masuk ke mata Dirga pun ikut berhenti.


Dia segera menarik tubuh Dirga menjauh dari serpihan itu lalu menghancurkan serpihan itu menjadi debu. Betapa kagetnya dia saat melihat mata Dirga yang berwarna ungu muda itu.

__ADS_1


“Kau menyembunyikan sesuatu dariku rupanya. Aku baru mengetahuinya. Kenapa selaama ini aku tidak menyadarinya kalau kau punya kekuatan spesial ? ” duduk di dekat Dirga sambil memegangi tubuhnya.


“Aku senang ternyata kau tidak selemah dugaan ku. Tapi maaf aku harus melakukan ini. Kau tak boleh mengetahui identitasku.” Rheva terlihat sedih. Lalu ia memghapus ingatan terakhir Dirga yang sempat melihatnya menggunakan kekuatan untuk menolongnya.


“prang...” suara lampu pecah membentur lantai keramik.


Dirga yang sudah terbebas dari kekuatan Rheva setelah dia mengembalikan waktu berjalan seperti sedia kala tersadar setelah mendengar bunyi keras.


“Kau tak apa?” tanya Rheva membantu Dirga berdiri.


“Tadi itu hampir saja kau terkena pecahan kaca lampu...” Dirga yang baru tersadar jika tadi dia menggunakan keluatan matanya segera menon-aktifkan kekuatan super matanya. Setelah ia merasa matanya kembali normal dan yakin warna matanya sudah kembali normal, barulah dia berani menatap Rheva.


“Aku tak apa... terima kasih kau sudah menyelamatkan ku. Terima kasih, lagi-lagi kau menyelamatkan aku.” ucap Dirga. Baginya Rheva merupakan penyelamatnya. Sudah berkali-kali dia menyelamatkan dirinya sampai dia lupa berapa kali gadis itu telah menyelamatkannya.


“Aku merasa ada yang aneh barusan. Sepertinya ada serpihan kaca tadi yang masih tersisa dan hampir mengenaiku. Tapi kenapa serpihan itu menghilang tanpa aku mengetahuinya ?” batin Dirga mengingat lagi kejadian terakhir yang menimanya. Tiba-tiba kepalanya pusing setelah memikirkan itu dan dia tak sadarkan diri.


“Dirga...!” teriak Rheva yang khawatir dengan kondisinya.


Suara jatuhnya lampu terdengar keras sampai ke ruangan sebelah yang membuat mahasiswa lain berhamburan masuk ke ruangan itu. Mereka melihat lampu yang sudah pecah dan juga Dirga yang tak sadarkan diri.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2