Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 30 Hari Pertama Masuk


__ADS_3

Dua minggu berlalu setelah pendaftaran di sekolah umum dekat rumah itu. Hari ini adalah hari pertama Dirga masuk ke sekolah baru.


Elsa sengaja izin kerja lagi untuk mengantar Dirga dan menunggunya selama di sekolah. Ia hanya akan menunggunya hari ini saja, besok dia akan kembali masuk kerja. Semua itu ia lakukan karena khawatir pada Dirga. Khawatir jika anaknya itu mendapat bully-an dari anak-anak di sekolah itu.


Elsa dan Dirga segera masuk ke mobil lalu berangkat menuju ke sekolah.


Selama perjalanan Elsa ingin bertanya pada Dirga, apa yang sebenarnya terjadi padanya saat pendaftaran waktu itu. Kenapa dia menghilang tiba-tiba ? Pergi kemanakah dia ? Lalu kenapa tiba-tiba muncul di tempat yang ia lewati sebelumnya namun tidak melihat keberadaan Dirga di sana saat itu. Lalu kenapa juga ia bisa sakit mata ? Padahal sebelumnya baik-baik saja.


“Nak... saat dulu waktu pendaftaran sekolah kamu menghilang kemana ?” sesekali menatap Dirga sambil fokus mengendarai.


“Dirga melihat anak kecil jatuh dan terluka, lalu Dirga menolong anak itu. Dirga kasihan padanya...” melihat Mama dengan ketakutan.


Ia takut di marahi serta takut jika Mama bertanya lebih banyak lagi padanya tentang kejadian itu. Karena ia tak bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Mama, dan ia tak bisa mengarang cerita juga seperti yang di lakukan kebanyakan anak kecil lainnya.


“Lain kali kalau pergi, pamit sama Mama ya. Biar Mama tidak bingung mencari mu.”


Meskipun Elsa tidak nampak marah, namun Dirga takut. Karena nada bicara Mama sedikit tinggi saat itu. Dan ia hanya mengangguk pelan menyetujui perintah dari Mama.


“Tapi Mama merasa ada yang aneh, saat Mama mencari mu kemana-mana dan tidak menemukan mu. Lalu tiba-tiba Mama melihat mu di tempat yang Mama lewati berkali-kali namun tidak melihat mu sebelumnya.” meminta penjelasan dari Dirga.


Dirga bingung harus menjawab apa. Ia diam dan berpikir cepat untuk mencari alasan yang masuk akal, agar Mama tak curiga pada kemampuan indigo nya.


“Itu Ma... Dirga...” ucapannya terhenti karena mobil berhenti di depan gerbang sekolah.


Ia selamat kali itu karena Mama terlihat sibuk mencari tempat parkir yang terlihat penuh.

__ADS_1


Elsa melihat satu tempat parkir yang penuh. Ia kemudian mencari tempat parkir lain yang ada di sekolah itu. Ia memutar untuk menuju tempat parkir yang yang terletak agak jauh dari tempat parkir yang pertama tadi. Sehingga ia tidak terlalu perhatian dengan ucapan Dirga.


Setelah memarkir mobil, mereka segera menuju ke kelas.


“teng... teng... teng...” bel berbunyi.


Dirga masuk ke kelas dan duduk di kursi depan agar bisa melihat dan mendengar dengan jelas materi yang di sampaikan oleh guru. Karena menurutnya kalau duduk di belakang pasti akan ramai. Seperti yang sudah terjadi di sekolah sebelumnya. Semua temannya yang ada di bangku belakang lebih sering ngobrol sendiri dan bikin suasana gaduh, jadi materi dari guru tidak tersampaikan dengan jelas.


Guru di kelas mulai mengabsen dan memanggil satu per satu nama murid, termasuk murid kelas inklusi yang di gabung dalam satu kelas. Di kelas Dirga hanya dia saja murid dari kelas inklusi, sehingga guru mudah mengingat dirinya.


Pelajaran pun berlangsung. Selama pelajaran berlangsung, Elsa menunggu di luar kelas. Ia berdiri di dekat jendela dan sesekali melihat ke dalam kelas dari luar jendela untuk melihat Dirga.


Ia perhatikan jika Dirga tenang selama di kelas, bisa mengikuti pelajaran yang di sampaikan guru. Elsa berjalan menjauh dari kelas setelah melihat Dirga baik-baik saja di sana.


Ia kemudian duduk di bangku yang ada di luar kelas, duduk bersandar di bawah pohon yang rindang sambil merasakan semilir angin yang berhembus. Karena merasa bosan menunggu lama, ia pun mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mulai memainkan beberapa game yang ada di ponsel untuk menghabiskan waktu.


Meskipun Dirga duduk di bangku depan, namun ia keluar belakangan. Ada beberapa anak lelaki yang terlihat mengajak Dirga untuk main bersama mereka.


Elsa senang melihat ada anak yang mengajak Dirga berinteraksi. Jadi ia tetap duduk di tempatnya untuk menunggu Dirga selesai bermain dengan teman barunya, sambil mengawasi dari kejauhan.


Sebelum bermain bersama, mereka berkenalan. Dua anak lelaki lain itu bernama Eza dan Vinto.


“Dirga ayo main sebentar...” Eza menunjukkan beberapa kelereng pada Dirga.


Dia dan teman lainnya tidak mengetahui jika Dirga adalah anak autis. Sehingga mereka memperlakukan sama.

__ADS_1


“Aku tidak punya kelereng. Dirga tidak punya kelereng.” menatap Eza.


Eza dan Vinto belum menyadari jika autis, namun merasa aneh dengan aksen Dirga yang berbeda saat bicara.


Dirga menatap ke sekeliling untuk mencari Mama, dan ia menemukan jika Mama duduk di dekat pohon menunggunya. Ia menatap Mama, dan mendapat balasan tatapan yang mengisyaratkan agar dia bermain saja dulu dengan kedua teman barunya itu.


Melihat Mama yang memberinya izin, ia pun mau bermain bersama Eza dan Vinto.


“Kita main di sana saja !” Vinto menunjuk tempat kosong di halaman sekolah yang bisa mereka pakai untuk bermain.


Eza menata kelereng lurus di atas tanah. Kemudian mereka bertiga melakukan suit untuk menentukan siapa yang akan bermain duluan. Ternyata Vinto yang menang, dan ia mulai melempar kelereng yang bisa mengenai tiga kelereng keluar dari barisan. Ia menembakkan kelereng lagi, namun kali ini ia tidak mengenai sasaran.


Dirga tidak pernah bermain kelereng sebelumnya, ia mengamati cara Vinto menembakkan kelereng dan menirunya saat gilirannya tiba sekarang.


Ia menembakkan satu kelereng dan bisa menumbuk lima kelereng keluar dari garisnya. Ia lalu menembak lagi dan bisa mengenai 3 kelereng, namun saat ia menembakkan kelereng untuk yang ketiga kalinya, tembakannya meleset dan tak satupun dari kelereng yang keluar dari garis.


“Wah kau lumayan juga ternyata Dirga... sekarang giliran ku.” Eza salut pada Dirga karena bisa mengalahkan Vinto.


Sekarang giliran Eza yang menembakkan kelereng, dan dia berhasil menembak empat kelereng keluar dari garis. Lalu ia menembak lagi dan berhasil menjatuhkan empat kelereng. Ia menembakkan kelereng untuk yang ke tiga kakinya dan hasilnya nihil.


“Wah berarti Eza sama Dirga seri. Pemenang nya kalian berdua.” menata kembali kelereng untuk main di putaran kedua.


Saat mereka akan bermain lagi, ternyata Ibu Eza dan Vinto datang menjemput mereka. Mau tidak mau akhirnya permainan itu mereka akhiri.


Elsa pun ikut menghampiri Dirga dan mengajaknya pulang, setelah dua temannya tadi pulang. Elsa merasa tenang melihat anak-anak tadi rukun saat bermain dengan Dirga. Jadi ia benar-benar tidak perlu izin bekerja lagi untuk esok hari, karena Dirga bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Mereka pun menuju ke tempat parkir dan pulang ke rumah.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2