Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 55 Belut Raksasa


__ADS_3

Dalam sekejap mata saja ikan paus besar itu sudah ada di depan mereka. Dirga melihat ikan besar itu kemudian ia menatap paman Tantryana kembali. Ia bingung apa teman yang di maksud pamannya adalah ikan besar itu? Apa yang bisa dia lakukan dengan ikan yang merupakan predator itu ? Dia memundurkan langkahnya karena merinding jika ikan itu akan memangsanya hidup-hidup.


“Ha ha ha...” paman Tantrayana tertawa melihat tingkah Dirga yang ketakutan.


“Kau tak perlu khawatir, Bul-bul akan mengantar mu sampai ke ujung laut ini. Hutan Hamakua ada di balik lautan ini.” berjalan mendekati Bul-bul dan menyentuh kepala ikan itu.


Lelaki itu lalu terlihat seperti berkomunikasi dengan paus itu. Karena binatang itu terlihat memperhatikannya dengan sesama.


“Nah Dirga sekarang sudah saatnya bagimu untuk berangkat. Kita berpisah sampai di sini. Mungkin suatu saat kita akan bertemu lagi.”


Dirga mendekati lelaki itu. Dan untuk terakhir kalinya dia mengucapkan terima kasih pada orang yang telah menolongnya itu.


“Jaga diri mu baik-baik, nak.” ucap Paman Tantrayana sambil tersenyum dan menepuk bahunya.


“Paman juga... jaga diri paman. Semoga kita bisa bertemu lagi.” memeluk lelaki itu karena sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri.


Dia lalu mendekati ikan paus itu kemudian mengelus kepalanya.


“Aku Dirga... aku tahu kau bisa mengerti yang ku ucapkan. Kau bisa mengerti ucapan ku... meski kau tak bisa bicara padaku. Aku minta bantuan mu untuk mengantar ku keluar dari laut ini, kawan... ” mengelus kepala ikan paus itu sekali lagi.


Dan ikan itu seolah mengerti dengan apa yang di ucapkan Dirga padanya. Dia lalu mendekatkan mulutnya ke tubuh anak itu seolah mencium atau tanda perkenalan sambil mengibaskan ekornya.


Dirga pun segera melompat ke atas punggung ikan itu. Sesaat kemudian ikan itu meluncur ke laut dan menyemburkan air dari atas punggungnya.

__ADS_1


“Hwa... byur...hei bul-bul.”


Dirga terjatuh dari atas tubuh ikan itu dan berenang agar tidak tenggelam. Namun Bul-bul segera menghampirinya dan membuka mulutnya lebar-lebar.


“Apa... aku tidak tahu...” ucap Dirga berenang mendekat ke paus itu. Binatang itu terus menyundulnya seolah menyuruhnya untuk masuk.


“Jangan bilang kau ingin menyuruhku masuk... atau...” tanyanya bingung. Dia tidak tahu apakah yang di maksud paus itu adalah menyuruhnya masuk ke dalam mulutnya ? Tapi bagaimana dia bisa bertahan dalam tubuh ikan itu. Bukankah artinya dia menjadi santapannya ? Tapi binatang itu adalah temannya paman, jadi tidak mungkin juga dia akan menjadikannya pengganjal perut.


“Masuklah ke dalam mulutnya Bul-bul. Disana aman, kau tak usah khawatir.” teriak Paman Tantrayana dari kejauhan yang melihat itu.


“Baik paman... baik aku akan masuk...” teriaknya lalu masuk ke mulut binatang itu. Tak berapa lama kemudian setelah Dirga masuk, paus itu langsung berenang di lautan bebas itu dan menghilang dari permukaan.


Setelah Dirga dan Bul-bul tidak nampak lagi. Lelaki yang menunggu mereka di tepi laut itu kembali berjalan masuk ke rumahnya. Penampilannya berubah dari yang awalnya memakai baju sederhana kini berubah mengenakan pakaian seperti yang di kenakan raja dan rumah yang sebelumnya tampak sebagai rumah biasa kini berubah menjadi sebuah istana.


Di tengah perjalanan, dia pun merasa ngantuk dan tertidur. Dia sudah mulai terbiasa dengan goncangan kecil dalam tubuh Bul-bul. Sehingga dia tetap bisa tertidur meski tubuhnya sering oleng dan bergeser.


Tiba-tiba dia terbangun karena merasakan goncangan hebat.


“Ah, ada apa ini...ada apa... ” katanya membuka mata. Ia lalu berjalan dan mengetok dinding mulut paus. Saat itu juga Bul-bul membuka mulutnya.


Ternyata guncangan tadi adalah ulah dari seekor belut raksasa. Ujuran belit itu dua kali lipat lebih besar dari tubuh ikan paus. Bul-bul bersenggolan dengan belut itu. Dan sekarang belut itu malah mengejar Bul-bul.


“Gawat... belut itu tetap mengejar... dia terus mengejar dan semakin cepat gerakannya.” ucap Dirga yang melihat belut raksasa itu sudah semakin dekat di belakang Bul-bul.

__ADS_1


Bul-bul menutup mulutnya kembali dengan maksud agar Dirga bisa segera masuk. Setelah anak itu masuk, paus itu segera bergerak dengan cepat untuk menghindari kejaran belut raksasa itu.


Meskipun Bul-bul bergerak lebih cepat dari sebelumnya, ternyata belut itu lebih lincah dari dirinya dan bisa mengejarnya. Paus itu pun bergerak berkelok-kelok untuk mengecoh belut tadi. Dia menerobos rumput laut yang lebat, juga melewati celah di antara dua batu karang yang sempit agar belut itu tak bisa melewatinya dan tak bisa mengejarnya.


Belut raksasa itu tak kunjung menyerah. Dia mengibaskan ekornya pada karang sempit yang mengahalangi jalannya dan alhasil batu karang itu hancur dan dia bisa masuk mengejar kembali paus di depannya.


Dirga yang ada dalam tubuh Bul-bul merasakan goncangan terus-menerus, semakin lama goncangan itu semakin keras dan membuatnya resah saat dia mendengar suara batu karang yang hancur.


Feelingnya tidak enak saat dia mendengar suara erangan Bul-bul yang seperti suara kesakitan. Dia pun segera mengetok dinding mulut paus itu dan langsung terbuka.


“Ternyata Belut itu menggigit ekor Bul-bul...” batinnya berenang ke dekat Bul-bul dan melihat belut itu akan menggigit bagian tubuh lainnya.


Dirga langsung berenang cepat menuju ke arah belut tadi. Dia memukul belut itu yang membuatnya terpental dan melepaskan tubuh Bul-bul. Namun belut itu ternyata belum tumbang dan dia ganti mengejar dan menyerang Dirga.


“Buk.... pow....”


Baku hantam terjadi antara Dirga dan belut raksasa. Di awal Dirga unggul, dia bisa melukai belut itu. Namun setelah tiga puluh menit lebih mereka bertarung, kini anak itu mulai kewalahan. Keadaan terbalik, sekarang dia terdesak karena merasa tubuhnya melemah akibat kekurangan oksigen. Nafasnya hampir habis dan dia hampir pada batasnya.


“Aku sudah tidak tahan lagi. Aku harus segera mengalahkan belut ini. Aku tidak kuat... dan harus segera ke permukaan untuk menghirup oksigen.” batinnya sambil mencengkeram tubuh belut itu dan menggunakan teknik krav maga.


“Roar...” belut itu kesakitan dan mengibaskan ekornya dengan kencang. Disaat dia mengibaskan ekornya, Dirga terkena sabetan ekornya dan membuatnya terpental.


Belut itu tumbang, di saat bersamaan Dirga juga kehabisan nafas. Dia berenang ke atas, namun baru dua meter dia naik ke atas tubuhnya jatuh dan tenggelam.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2