
“Dirga....!!!” teriak Paman Tantrayana melihat tubuh Dirga yang kini terbujur kaku di tempat tidur.
Lelaki itu mencoba membantu menstabilkan luapan energi kacau di tubuh anak itu.
“Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk mu. Sisanya harus kau sendiri yang berjuang untuk menakhlukkan energi itu dan menguasainya.” menyalurkan tenaga dalam untuk mengurangi hawa dingin yang membekukan tubuhnya yang seperti balok es.
Di alam bawah sadarnya, Dirga bertemu kembali dengan Evony.
“Sudah kubilang padamu, aku tidak mau. Tidak mau ya tidak mau... kenapa kau masih terus menggoda ku ?!” ucap Dirga mundur dan menampik tangan wanita itu yang kini tubuhnya memeluk tubuhnya.
“Jangan paksa aku untuk...” ucapnya emosi karena sudah tak bisa menahan amarahnya.
“Kau yang memintanya... kau yang memaksaku...” mundur dan mendorong tubuh wanita itu.
Dirga mulai serius dan mengeluarkan kekuatannya untuk melawan Evony. Sebenarnya pantang baginya melukai seorang wanita. Namun dia terus menyulut emosinya.
Karena Dirga serius mau melawan, Evony pun akhirnya memasang kuda-kuda bersiap menerima serangan dari anak muda di depannya. Pertarungan pun terjadi.
“bak... buk...”
Saling pukul terjadi di antara mereka berdua. Di awal Evony unggul, dia bisa memojokkan Dirga yang hanya mengeluarkan setengah tenaganya, entah apa sebabnya anak itu tidak mengeluarkan kekuatan penuhnya dan membuat anak itu terdesak.
“Aku tidak bisa terus-terusan mengalah padanya. Hanya karena dia wanita. Jika aku terus mengalah padanya... apa yang akan terjadi pada ku, apa aku haris menuruti permintaannya...” membayangkan hal yang tidak-tidak.
“Kalau begitu... aku tak akan menganggap mu sebagai seorang wanita. Aku tidak mau jika sampai kalah aku harus.. ” Dirga menelan ludah kembali membayangkan hal yang tidak-tidak.
__ADS_1
Akhirnya dia pun membalik keadaan. Dia menyerang Evony dan berhasil membuatnya tersudut.
“Baiklah... aku mengaku kalah dan aku mengakui mu sebagai tuan ku. Kau bisa menggunakan kekuatan aku, atau aku juga akan membantu mu di saat kau kesulitan.” ucap Evony yang terpojok dan tak bisa bergerak lagi.
Mendengar yang di ucapkan Evony barusan membuat amarah Dirga mereda. Ia pun segera melepaskan kuncian tangan pada tubuh wanita itu.
Tak lama kemudian muncullah sebuah cahaya terang yang menyilaukan mata. Dirga memejamkan mata karena silau. Saat dia kembali membuka matanya, dia sudah kembali ke alam nyata dan melihat Paman Tantrayana yang berkeringat.
“Paman....” melihat lelaki itu masih menyalurkan tenaga untuknya. “Terima kasih Paman sudah menolong ku untuk kesekian kalinya. Sudah paman, sudah... hentikan. Aku baik-baik saja sekarang.”
Paman Tantrayana merasakan tubuh Dirga yang sudah tidak sedingin es lagi. Ia lalu menghentikan menyalurkan tenaganya. Sesaat kemudian ada seberkas sinar jingga terang yang memancar keluar dari tubuh Dirga. Kemudian sinar itu berkumpul ke satu titik, di leher bagian bawah yang membentuk simbol sisik kecil.
“Selamat mustika itu sudah menyatu dan mengakui mu, nak. Besok akan aku ajarkan cara menguasai mustika itu. Sekarang beristirahatlah.” ucap lelaki itu meninggalkan Dirga dan kembali ke kamarnya lalu memulihkan tenaganya.
Sementara itu di lain sisi,
“Zras....”
Hujan turun di tengah pekatnya malam. Membuat luka di tubuh gadis itu terasa perih saat terkena air hujan.
Tim penyelamat datang bersama Nathan dan Tomy yang bersikeras ikut mencari meski sudah di larang bersama setelah kekuatan menghentikan waktu Rheva berakhir setelah empat jam di aktifkan. Mereka menyisir hutan dengan membawa senter mencari Dirga dan Rheva yang tiba-tiba ikut menghilang.
“Dirga... Rheva...” teriak Nathan yang saat itu berhenti di tepi jurang. Dia memanggil kembali nama dua temannya itu, namun tak ada balasan. Ia pun mengarahkan senternya ke bawah jurang dan tak melihat apapun. Kemudian mereka pun menyisir ke area lainnya.
“Tolong....” ucap gadis itu meminta tolong setelah mendengar suara Nathan dan melihat berkas cahaya di dekatnya, namun tak ada suara yang keluar dari bibirnya yang semakin memucat. Tak ada yang mendengar suaranya saat itu. Dia berteriak kembali namun sama sekali tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Dia pun akhirnya pasrah setelah Nathan dan tim penyelamat itu pergi.
__ADS_1
“Sebelum hujan semakin deras... lebih baik kita kembali ke tenda dulu. Besok pagi kita lanjutkan pencarian.” ucap ketua tim penyelamat. Namun Tomy dan Nathan tidak setuju dan mereka bermaksud meneruskan pencarian sendiri.
“Bekerja samalah dengan baik. Kalian tahu, jika kalian nekat maka kalian akan. Menambah masalah saja.” ucap tim penyelamat lainnya.
Tomy dan Natahan diam sejenak dan berpikir. Mereka pun akhirnya membatalkan pencarian itu dan mengikuti tim penyelamat kembali ke tenda setelah mempertimbangkannya matang-matang. Untuk saat ini mereka hanya bisa berdoa dalam hati agar kedua temannya itu selamat dan segera di temukan. Dengan berat hati Nathan dan Tomy melangkahkan kaki keluar dari area hutan itu dengan baju yang basah.
Hujan tak kunjung berhenti dan makin bertambah deras. Gadis itu merasakan tubuhnya sakit tidak karuan dan sekarang menggigil kedinginan. Dia menatap air hujan yang terus menghujam tubuhnya sambil tersenyum pilu. Apakah ada seseorang yang akan menolongnya. Di tengah keputus asaannya, dia melihat kumpulan kupu-kupu putih terbang mengitari tubuhnya.
“Kenapa bisa ada kupu-kupu di tengah lebatnya hujan seperti ini ?” batinnya melihat hewan itu terbang mendekatinya.
Beberapa ekor kupu-kupu itu terbang di atas mukanya. Dia masih bisa melihat walaupun tak bisa bicara. Hewan yang dia lihat itu bukanlah kupu-kupu biasa. Melainkan seorang peri. Sayup-sayup dia mendengarkan percakapan mereka.
“Kalian lihat manusia ini...dia terluka parah, namun dia masih bernafas. Mungkin kita masih bisa menyelamatkan dia.” ucap salah satu gadis berambut panjang bersayap kupu-kupu pada temannya.
“Apa yang bisa kita lakukan ?” tanya peri yang lainnya.
“Kita bawa saja dia...”
“Jangan ! Kita tidak tahu gadis ini jahat atau baik. Kalau setelah kita menolongnya lalu dia malah menyakiti kita bagaimana ?” ucap peri lainnya.
Satu ekor peri memegang mata Rheva, entah apa yang di lakukannya. Setelah itu dia kembali menghampiri peri lainnya.
“Dia bukan orang jahat. Dan sepertinya gadis itu bukan manusia biasa walaupun aku tidak tahu darimana dia berasal. Dia terkena luka gigitan dan juga tergores benda tajam. Namun dia masih bisa bertahan dalam kondisi separah ini.” jelas peri itu meyakinkan teman-temannya.
Merekapun akhirnya bekerja sama membawa tubuh gadis itu.
__ADS_1
“Apa aku mimpi bertemu dengan sosok peri... pasti aku bermimpi. Mimpi yang indah di tengah keterpurukan yang ku alami saat ini.” batinnya lalu kembali tersenyum dan setelah nya dia tak sadarkan diri.
BERSAMBUNG....