
Mereka terus berjalan menyusuri terowongan yang penuh dengan tikus itu. Beberapa kali banyak tikus berjatuhan ke tubuh mereka. Dirga segera mengambil tikus-tikus yang jatuh di tubuh Rheva dan melemparnya ke tanah. Setelah beberapa lama berjalan mereka merasa jika jumlah tikus yang ada semakin meningkat dan benar saja ada segerombolan tikus yang di belakang mereka solah tikus itu seperti di kejar sesuatu dan mereka semua berlari ingin segera keluar dari terowongan itu.
“Lebih cepat lagi jalannya. Aku tidak tahu ada apa dengan para tikus itu dan siapa yang mengejar mereka !” ucap Rheva menoleh ke belakang melihat gerombolan tikus yang kalang kabut ingin keluar dari terowongan itu dan menunjuk ke tempat di depan mereka.
Mereka mempercepat jalan karena mereka kini merasa di kejar oleh para tikus itu. Namun para tikus itu semakin cepat dan hampir dekat dengan mereka. Rheva yang merasa geli bercampur jijik dengan tikus itu mendorong tubuh Dirga.
“Bruk...” mereka jatuh tepat di ujung lorong itu. Rheva menimpa dan menubruk tubuh Dirga. Ini kedua kalinya dia melihat lelaki itu dari dekat dan pipinya memerah.
“Rheva...awas !!!” teriak Dirga melihat segerombolan tikus keluar dari terowongan itu dan hampir menerjang tubuh mereka. Rheva seketika menoleh ke belakang. Karena tidak mungkin bagi mereka untuk menghindar dan dia pun menundukkan kepalanya menyandarkannya pada dada Dirga sambil memeluknya dan menutup mata. Segerombolan tikus itu melompat melewati tubuh mereka.
“Tikusnya sudah pergi semua. Mereka sudah hilang. Ayo kita kembali jalan.” ucap Dirga melihat Rheva yang yang masih di atas tubuhnya. Gadis itu salah tingkah dan segera duduk lalu turun dari tubuh anak itu.
“Ah... maaf... aku tidak sengaja. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita.” ucapnya canggung sambil menjaga jarak. Entah kenapa dia jadi malu dengan Dirga setelah beberapa kejadian itu. Padahal sebelumnya dia tak pernah secanggung itu pada temannya itu.
Baru beberapa langkah berjalan muncul seekor ular cobra raksasa sebesar terowongan yang tadi mereka lewati di belakang mereka. Tanpa bisa mengindar ular itu dengan cepat membelit tubuh Rheva dan Dirga.
“Bagaimana ini...” gumam Rheva bingung. Gadis itu mau mengeluarkan kekuatannya untuk menebas ular cobra itu namun ia tak mau temannya itu mengetahui identitas aslinya. Begitu juga dengan Dirga mudah baginya merobohkan ular itu namun sama seperti Rheva, dia juga tidak mau temannya itu mengetahui kekuatannya, karena belum siap. Jadi dia memutar otak bagaimana caranya menjatuhkan ular itu tanpa ketahuan oleh gadis itu.
Ular itu semakin mengeratkan belitannya. Dirga dan Rheva memukul tubuh ular itu dengan tangan kosong dan tanpa menggunakan kekuatan mereka. Pukulan kosong mereka tak melukai tubuh ular cobra sedikit pun. Malahan sekarang ular itu mendekatkan kepalanya dan membuka mulutnya lebar, terlihat taring tajamnya yang siap mengoyak tubuh mereka.
“Aku tak bisa diam seperti ini... atau kami akan benar-benar di lahap ular ini...” batin Dirga.
__ADS_1
“Rheva tutup mata mu, tutup matamu sekarang !” perintah Dirga saat jarak mereka semakin dekat, namun gadis itu tetap membuka matanya. Maka Dirga segera menutup mata gadis itu dengan kedua tangannya.
Sekaranglah kesempatannya. Dirga mengaktifkan kekuatan matanya. Sinar violet pekat memancar dari matanya. Ia mengarahkan sinar itu ke tubuh ular cobra itu seperti laser yang memotong besi, dan dalam sekejap kepala ular itu sudah tertebas.
“Bruk....” ular cobra itu jatuh mengantam tanah dan menggeliat. Tubuh mereka berdua pun ikut terhempas ke tanah bersamaan dengan tumbangnya ular itu. Darah ular itu mengotori wajah dan baju mereka.
“Kau tidak apa Rheva ?” tanyanya berdiri sambil menarik tubuh gadis itu membantunya berdiri.
“Bagaimana dengan mu ? Maksud ku bagaimana ular itu bisa langsung tumbang ? Apa yang kau lakukan pada ular itu ?” menunjuk tubuh ular yang tertebas menjadi dua bagian.
“Aku... aku tidak melakukan apa-apa. Ha-hanya memukul titik vitalnya.”ucapnya bohong. Rheva tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Karena sebenarnya dia tahu Dirga menggunakan kekuatan matanya.
“Tidak ada jalan lain selain itu. Mungkin saja itu jalan menuju ke hutan Hamakua.” ucap Rheva setelah sampai di depan dataran tinggi itu sambil mendongak ke atas.
“Ya, kita coba saja. Ayo kita coba dan naik ke sana sekarang !” ajak Dirga.
“Kau bisa naik ?” tanyanya pada Rheva yang belum juga menjawab entah apa sebabnya dan hanya memandangi dataran di depannya. Sekali lagi gadia itu bisa dengan mudah naik melompat ke atas sana dengan sekali lompatan jika tidak asa Dirga bersamanya saat itu.
“Ku kira bisa...” jawabnya ragu.
Ada beberapa batuan besar di sana di samping dataran tinggi itu yang bisa di jadikan pijakan untuk naik ke atas meskipun letak batu-batu itu tidak seperti tangga dan agak sulit melewatinya karena selain besar juga jaraknya antar bebatuan jauh.
__ADS_1
Dirga yang melihat reaksi temannya itu segera melompat ke salah batu besar untuk membantu temannya itu naik.
“Aku akan membantu mu naik, raih tangan ku.” Dirga mengulurkan tangannya. Rheva mendekat dan meraih tangan anak itu sambil memancatkan kakinya di batu. Dirga segera menariknya ke batu tempat dia berpijak dan dia mengulangi hal itu sampai mereka tiba di atas dataran tinggi itu.
“Hah... hah... hah... kita sudah sampai... kita istirahat sebentar dulu ya, kita istirahat di sini lima menit.” ucap Dirga sambil mengatur nafasnnya yang tidak teratur.
Setelah nafasnya stabil dia mengajak Rheva melanjutkan perjalanan. Gadis itu mengikutinya berjalan menyusuri tempat itu. Ia mengamati sekeliling untuk mencari petunjuk. Tiba di tengah area itu ia melihat sesuatu. Dia melihat array dimana dia bertemu dengan segerombolan para serigala yang menyerangn dia sebelumnya.
“Ku kira aku tahu jalan keluarnya dan kita harus bergerak cepat keluar dari tempat ini.” ucapnya berjalan mendahului temannya itu dengan menarik tangannya lalu berjalan cepat.
“Hey... ada apa ? Kenapa kau seperti ini ? Apa kau tahu daerah ini ? Kau yakin menemukan jalan keluarnya ?” tanyanya ragu pada Rheva. Gadis itu tidak menjawab dan semakin cepat berjalan sambil memasang sikap waspada melihat sekitarnya. Ia tak mau bertemu dengan segerombolan serigala yang sudah menyerangnya lagi. Apalagi ada noda darah di tubuh mereka yang akan memancing kedatangan serigala itu.
“Ayo cepat... !” ucap gadis itu mengajak temannya untuk berjalan lebih cepat.
“Tapi... tapi kenapa ?” tanyanya bingung pada apa yang sebenarnya terjadi.
“Sudahlah nanti saja ku jelaskan daerah ini berbahaya. Ada binatang buas yang haus darah. Dan kita sudah dua per tiga perjalanan menuju ke hutan Hamakua.
Sekarang Rheva tidak berlari, malahan dia berlari karena di benar-benar tidak mau kejadian yang sama terjadi lagi padanya untuk ke dua kalinya yang membuatnya terluka parah. Dirga mengikuti gadis itu berlari.
BERSAMBUNG....
__ADS_1