Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 46 Orang Berjubah


__ADS_3

“Apa yang terjadi, kenapa kau jalan ke arah sana? Bukannya tadi kita masuk dari arah itu?” tanya Nathan bingung setelah Dirga mengambil jalan yang menurutnya salah.


“Lihat... lihat ini... kompasnya tidak berfungsi. Jarumnya berputar tidak menentu.” menunjukkan kompas itu pada Nathan. Tomy dan Rheva pun ikutan melihat kompas itu yang ternyata memang benar tidak berfungsi, entah apa sebabnya.


“Lalu bagaimana kita akan kembali, apa kita tidak akan tersesat ?” tanya Tomy menatap ketiga temannya bergantian dengan raut muka panik.


“Tenang saja, aku ingat jalan kembalinya. Ikuti aku.” ucap Nathan melangkah dan menunjuk ke arah timur.


Di saat bersamaan Rheva melihat ke sekitar lalu berpikir sejenak. “Menurutku itu jalan kembalinya.” menunjuk ke arah selatan.


“Bukan... kalau menurutku ke arah sana aku yakin itu jalan kembalinya.” ucap Dirga memunjuk ke arah barat.


“Apa...?! Tidak...kita benar-benar sudah terseasat !!” teriak tomy lantang yang membuat ketiga temannya berkumpul lagi.


“Jadi bagaimana kita harus kembali ? Kita harus kembali sebelum malam tiba...” tambah Tomy yang semakin bingung karena harus memilih usulan siapa.


“Ikuti aku saja. Aku yakin itu jalan kembalinya. Kita pasti akan sampai sebelum malam kalau kita bergegas sekarang.” tunjuk Rheva lagi ke arah selatan.


“Hei... atas dasar apa kita harus mengikuti usulan mu ? Bagaimana jika ternyata itu salah ?” tanya Tomy dan Nathan yang masih ragu.


“Karena aku yang paling berbeda di antara kalian bertiga. Aku seorang wanita. Dan feeling ku mengatakan itu jalannya dan pasti tepat.” bersi keras dengan pendapatnya. Sementara Dirga masih mencoba memperbaiki kompasnya dan tidak menggubris ketiga temannya.


“Jika mengambil keputusan itu jangan berdasarkan feeling tapi berdasarkan nalar, realita pasti akurat.” timpal tomy sok menggurui.


“Kalian bertiga berisik. Berisik...! Kita harus segera berangkat sekarang. Atau kita akan benar-benar tersesat.” Dirga berjalan ke arah selatan seperti yang di tunjukkan Rheva sambil menunjukkan kompas yang telah ia otak-atik dan berfungsi kembali yang menunjuk ke arah itu pada temannya.


“Kau yakin kompas itu sudah berfungsi normal ?” tanya Tomy yang masih ragu.

__ADS_1


“Yakin... aku yakin sekali. Itu jalannya.” kembali melihat kompas yang di pegangnya. Tomy dan Nathan saling berpandangan.


“Ayo... tunggu apa lagi? Apa kalian mau di mangsa serigala di sini ?” ucap Rheva menakut-nakuti temannya itu lalu berjalan ke arah selatan.


Dirga dan Nathan segera mengikuti Rheva berjalan. Lalu Tomy pun akhirnya berlari menyusul mereka karena takut bertemu dengan serigala.


Di tengah perjalanan, Dirga berhenti sejenak lalu melihat kembali kompasnya yang ternyata kembali tidak berfungsi, kacau dan jarumnya terus berputar seperti tadi.


“Kenapa berhenti... jangan bilang...” Tomy mengambil kompas dari tangan Dirga dan mukanya langsung berubah pucat. Kedua temannya pun akhirnya kembali mendekat untuk melihat.


“Kita sudah separuh jalan. Tak ada waktu lagi untuk berdiskusi menentukan jalan mana yang tepat. Ayo teruskan berjalan.” ucap Rheva yang kembali berjalan dan yakin akan jalan yang di lewatinya. Mereka pun akhirnya kembali berjalan mengikuti Rheva.


Mereka berjalan menyusuri hutan namun masih di tengah jalan hari semakin gelap dan tak ada penerangan disana, sehingga mereka kesulitan melihat di tengah hutan itu.


“Kita harus membuat penerangan. bagiamana kita bisa melihat dan tahu kalau ada hewan buas yang mengincar kita?” ucap Tomy yang berjalan palin belakang lalu maju mendekati Nathan.


“Apa kau membawa korek api? Bagaimana caranya kau membuat api tanpa adanya korek?” tanya Nathan yang menatap Rheva menggelengkan kepalanya.


Gadis itu meminta ketiga temannya untuk menunggunya sebentar. Ia kemudian berjalam ke arah sebuah pohon. Ia mencari batu dan mengambilnya lalu pura-pura menggosoknya agar tercipta percikan api. Ia mengambil sebatang kayu dari tanah lalu lalu mengeluarkan kekuatannya dan membuat kayu itu terbakar tanpa sepengetahuan temannya.


Setelah obor menyala, ia kembali ke tempat ketiga temannya menunggunya. Dirga yang melihat Rheva membawa obor, megambil tiga kayu dan menyulutnya dengan obor yang di bawa Rheva lalu memberikan itu ke Nathan dan Tomy.


Mereka kembali berjalan menyusuri hutan. Dengan adanya obor, setidaknya mereka tahu jika ada ranting pohon yang menghalangi jalan mereka atau kehadiran hewan buas. Tomy yang berjalan paling belakang beringsut maju ke depan, ia tak mau hilang di tengah hutan.


“buk...” Suara Dirga yang jatuh karena kakinya tersangkut oleh akar pohon yang mencuat di permukaan tanah.


“Kau tak apa ?” tanya Nathan yang berjalan di depan Dirga berhenti sebentar.

__ADS_1


“Aku tak apa, aku baik-baik saja. Kau jalanlah duluan. Kakiku hanya tersangkut. Aku bisa melepasnya sendiri.” ucapnya saat Nathan akan membantunya. Dan Nathan pun akhirnya berjalan pelan.


Beberapa saat kemudian Dirga bisa melepaskan kakinya dari akar yang membelitnya lalu segera bergabung dan berjalan di belakang Nathan.


“Kaki mu terluka tidak?” tanya Rheva menoleh ke Dirga yang di ikuti dua temannya.


“Tidak terluka sama sekali. Hanya sedikit kotor. Entah apa rasanya sedikit lengket di kaki. Tak apa, lanjutkan saja jalannya.” ketiga teman Dirga merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan karena dia tak terluka dan kembali berjalan.


Selama berjalan Dirga merasa kotoran lengket di kakinya semakin mengganngu. Ia berhenti sebentar untuk membersihkannya tanpa sepengetahuan temannya.


Ia mengambil daun di tanah untuk membersihkan kotoran di bekas pergelangan kakinya tadi, namun kotoran itu tidak berkurang malah semakin beetambah banyak hingga akhirnya membungkus tubuhnya.


“Apa ini... kotoran apa ini... kenapa bisa lengket dan semakin banyak ?” terus membersihkan kotoran itu namun malah semakin bertambah banyak. Hingga akhirnya dia tak sanggup lagi membersihkan kotoran yang mirip dengan lendir itu dan akhirnya membungkus total tubuhnya.


Sesaat kemudian muncullah lima sosok orang berjubah hitam yang mendatanginya. Mereka tertawa menyeringai dan membawanya pergi. Dia melawan tapi tak bisa melepasakan dirinya karena pengaruh lendir lengket tadi.


“Nathan... Rheva... Tomy... tolong aku ! Tolong !” berteriak memanggil ketiga temannya agar menyelamatkan dirinya namun ketiga temannya tak mendengar suaranya dan akhirnya mereka tak terlihat lagi.


Ketua pelaksana penyelenggara kegiatan itu merasa cemas setelah ada satu kelompok yang belum kembali dari hutan karena hari sudah gelap mencari ke hutan bersama beberapa kelompok lainnya.


Kelompok Dirga melihat sorot lampu di kejauhan. Dan mereka mengira itu adalah tim penyelamat, maka mereka meberikan petunjuk keberadaan mereka.


Ketua pelaksana dan yang lainnya melihat tanda dari kejauhan dan langsung menuju ke tempat itu. Tak beberapa lama kemudian, mereka menemukan mereka bertiga.


“Syukurlah... kita di temukan dan bisa kembali...” ucap Tomy merasa lega lalu bergabung dengan tim penyelamat.


Rheva tidak melihat keberadaan Dirga saat itu dan bertanya pada Nathan. “Dimana Dirga... kenapa aku tidak melihatnya ?” Nathan tidak menjawab dan langsung melihat ke arah kerumunan mencari sosoknya, namum tidak menemukan juga. Lalu ia bertanya pada Tomy juga yang ternyata sama-sama tidak mengetahui keberadaan temannya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2