
Dirga terus berputar dalam ruang yang terasa gelap hingga akhirnya dia keluar dari tempat itu dan muncul kembali di tempatnya berada sebelumnya setelah keluar dari dasar bunga terompet yang memuntahkan tubuhnya.
“byur... !!”
Dirga keluar dari bunga terompet tersebut kembali ke danau tempatnya tadi berendam.
“Jadi tadi aku mengalami delusi setelah meminum setetes embun es abadi ?” gumamnya sambil mengayunkan kakinya berenang ketepian.
“Huft... lalu apakah tadi yang ku temui di sana adalah Rheva sungguhan atau hanya sekedar ilusi ?” gumamnya lagi lirih sambil mengingat semua yang dikatakan oleh gadis itu.
“Anggap saja tadi memang Rheva Kenapa yang dikatakannya benar adanya. Dan tak ada salahnya bagiku untuk mencobanya.” ucap Dirga kembali lalu duduk di tepi danau dan kembali melihat bunga terompet yang ada di sepanjang danau itu.
“Mengambil secara bersamaan... bagaimana caranya ?” ucapnya sambil memikirkan sebuah cara untuk mengambil kantong berisi butiran embun es dari dasar bunga terompet.
“Tunggu... sebelum aku mengambilnya aku harus mencari wadahnya dulu. Apa wadah yang bisa menahan suhunya supaya tidak berubah ?” tanyanya lagi yang semakin tidak mengerti dan bingung harus mencari di mana wadah yang seperti disebutkan oleh Rheva.
Lama anak itu berpikir dan masih juga belum menemukan kan jawaban yang dicarinya. Karena merasa pusing dan sama sekali tak ada ide dia pun menceburkan dirinya kembali ke danau dan perenang sampai ke dasar sekedar untuk melepas penat dan merefresh pikirannya agar mendapatkan inspirasi.
“Aku tak menyangka pemandangan di bawah laut ini juga terlihat menakjubkan.” batinnya saat melihat berbagai jenis ikan yang berenang di sana dengan warna dan corak yang tidak pernah dia temui sebelumnya.
Semakin ke dalam pemandangan yang dia lihat pun semakin menakjubkan. Dirga terus mengayunkan kakinya untuk melihat apa yang ada di dasar danau itu hingga dia berhenti dan menemukan sebuah guci kecil yang terbuat dari perunggu.
“Apa itu bisa di jadikan wadah... tepat sekali di saat aku membutuhkan sebuah wadah aku menemukan ini.” Dirga berenang menuju ke tempat guci perunggu itu berada. Dia mengambilnya dan tanpa pikir panjang segera berenang kembali ke atas.
Sesampainya di tepi danau, dia menaruh guci perunggu yang ditemukan nya tadi ke bebatuan yang ada di sepanjang danau di dekat bunga terompet.
“Huft...beruntung sekali aku menemukan ini.” ucapnya sambil menghembuskan nafas dalam-dalam dan melihat guci perunggu yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
“Aku sudah menemukan wadahnya. Lalu aku harus memikirkan cara untuk mengeluarkan kesepuluh kantong berisi butiran embun itu secara bersamaan dan juga cara membuatnya beku.” ucapnya lagi kembali berpikir.
Setelah lama berpikir tiba-tiba dia teringat pada sosok Evony di mana Sudah lama sekali dia tak pernah meminta bantuan padanya ataupun bertemu dengannya sekedar untuk mengobrol.
“Semoga saja aku masih bisa memanggil Evony setelah lama tidak melakukan kontak dengannya karena aku koma.” batin Dirga yang merasa ragu jika Evony masih ada di tubuhnya.
Dirga lalu menyentuh tanda Sisi yang ada di dadanya.
“Evony... apa kau masih bisa mendengar ku ?” panggil Dirga pada roh wanita yang ada di tubuhnya itu.
Karena lama tidak ada jawaban, dia pun mengulangi panggilannya lagi. Namun tetap tak ada jawaban dari iPhone dan membuatnya merasa putus asa.
Di tengah keputusasaannya, tiba-tiba muncullah Seberkas Sinar berwarna kuning muda di depannya yang kemudian berubah menjadi sosok wanita yang di kenalnya.
“Evony... ? Kau kah itu ?” ucap Dirga memanggil nama roh wanita itu dengan tak percaya. Wanita itu tampak tersenyum menatapnya lalu menghampirinya.
“Aku senang sekali ternyata kau masih di sini dan mau membantuku. Yah.. ada beberapa kendala sebelumnya dan kurasa kau tahu itu.” balas Dirga menatap wanita itu dan sangat mengharapkan bantuan darinya.
“Ada masalah apa tuan ?” tanya balik Evony yang tak sabar dengan apa yang harus dilakukannya.
“Begini Evony aku kesulitan....” Dirga menceritakan panjang lebar masalahnya pada wanita itu. Evony tersenyum mendengarkan Dirga bercerita.
“Jadi begitu... itu gampang saja. Serahkan semuanya padaku, tuan.” jawab Evony setelah selesai mendengarkan kesulitan yang di alami Dirga.
Evony kemudian berjalan menuju dimana terdapat banyak bunga terompet berada. Sebelum Evony mengambil kantung embun es abadi dari dasar bunga itu Dirga menyerahkan guci perunggu yang ditemukan nya tadi pada wanita itu.
“Ku rasa aku tak memerlukan itu.” ucap Evony menggeleng dan menolak menerima pemberian Dirga.
__ADS_1
Wanita itu lalu melangkah semakin mendekat dengan bunga terompet. Dia mengayunkan tangannya di atas bunga terompet. terlihat sebuah cahaya keluar dari tangannya. Cahaya itu kemudian masuk ke bunga terompet sampai ke dasarnya.
“Wuus...” cahaya itu keluar kembali dan membawa dua puluh kantung yang berisi butiran embun lalu memasukkan ke dalam sebuah botol kaca secara bersamaan.
Setelah semua kantong berisi butiran embun masuk ke dalam tabung kaca, Evony membuat tabung kaca beserta isinya itu menjadi sebuah es beku.
“Apakah seperti ini yang tuan maksud ?” tanya wanita itu menunjukkan hasil kerjanya pada Dirga setelah selesai mengambil kantung berisikan butiran embun.
Tampak Dirga tersenyum puas melihat hasil kerja Evony sambil mengangguk menatap nya.
“Ternyata kau memang bisa diandalkan. Seharusnya sejak dari awal aku meminta bantuan padamu.” tambah Dirga memuji Evony. Sementara wanita itu kembali tersenyum membalas perkataan tuannya.
“Jika sudah tak ada yang perlu di lakukan lagi maka aku akan pergi dan menyimpan tabung ini.” ucap Evony kemudian sebelum undur diri.
“Terima kasih Evony sudah membantuku. Oh ya sepertinya aku harus cepat kembali dan sampai ke markas infinix sebelum semua kantong bunga itu mencair. Apa kau bisa membantuku keluar dari sini dan kembali ke markas Infinix ?” tanya Dirga pada wanita itu dan sangat berharap dia bisa membantunya lagi kali ini.
“Aku bisa saja membawamu kembali ke sana secepat mungkin namun hal itu akan membuat tenaga ku tersisa 10% saja mengingat jaraknya yang terlalu jauh.” jawab Evony tidak menolak untuk membantu dan menceritakan apa adanya.
“Jadi begitu ya... menurutku bantuan ini juga sudah lebih dari cukup. Baiklah kau bisa kembali sekarang.” ucap Dirga sebenarnya sedikit kecewa namun dia menutupi rasa kecewanya itu.
Evony seketika menghilang sambil membawa botol kaca yang dititipkan oleh Dirga padanya.
“Jadi sebaiknya aku bergegas keluar dari tempat ini sekarang karena waktunya tak lama.” gumam Dirga tersenyum dan merasa lega setelah Evony membantunya mengatasi masalahnya.
Dirga berjalan dengan cepat keluar dari tempat dimana dia berada sekarang menuju ke tempat dimana dirinya terakhir kali bertemu dengan rusa putih.
BERSAMBUNG....
__ADS_1