Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 31 Melihat Keanehan


__ADS_3

Beberapa hari setelah Dirga masuk sekolah, banyak dari teman sekelasnya yang tidak menyadari jika salah satu teman sekelasnya ada seorang anak autis. Guru kelas pernah menyampaikan bahwa di kelas 1 itu ada seorang anak yang berasal dari sekolah Anak Berkebutuhan Khusus, namun mereka tidak tahu siapa murid yang di maksud oleh guru kelas itu.


Karena Dirga merasa harus bisa menerima penjelasan dari guru dengan jelas, maka dia memilih untuk duduk di deretan kursi nomor dua dari depan, tepat di tengah kelas. Teman sebangku nya adalah seorang gadis kecil yang bernama Raneea.


Selama pelajaran berlangsung, Dirga mendengarkan penjelasan dari guru dengan serius, meskipun Raneea sering sekali menggodanya di tengah proses pembelajaran. Namun Dirga tidak terlalu menggubris Raneea dan tetap fokus mendengarkan penjelasan dari guru kelas.


“Kenapa sih kamu serius begitu...” ucap Raneea sambil mencolek lengan kiri Dirga.


“Tidak... Tidak... pelajaran masih berlangsung.” menatap Raneea sebentar kemudian kembali fokus ke papan tulis.


Karena Raneea merasa kesal sedari tadi merasa di abaikan oleh Dirga, dia tidak terima begitu saja. Ia ingin di perhatikan oleh teman sebangkunya itu, karena saat di rumah, dia selalu di perhatikan oleh kedua kakak laki-lakinya. Maklum, dia memang anak bungsu dari tiga bersaudara dan merupakan satu-satunya anak cewek di keluarganya. Jadinya dua selalu di elu-elukan oleh kedua kakak lelaki ya serta orang tuanya.


Raneea berpikir sejenak, bagaimana cara mengalihkan perhatian Dirga. Dia kemudian menemukan sebuah ide jahil.


“Hei... hei...” menarik lengan baju Dirga sambil meletakkan pensil di meja.


Dirga menoleh, dia tidak tahu apa maksud dari Raneea kembali mencoba mengganggu konsentrasinya. Ia menatap wajah gadis kecil itu yang tersenyum jahil ke arahnya.


“Apa... ada apa...” menatap Raneea sambil mengernyitkan alisnya.


Gadis itu tidak berucap sepatah kata pun. Dia masih saja tersenyum jahil pada Dirga sambil membuka buku tulis Dirga dan menunjukkannya pada dia.


Dirga secara refleks pun melihat buku tulisnya yang ternyata penuh dengan coretan tulisan tangan nama gadis itu yang memenuhi bukunya.


“Apa... apa ini...? Kenapa kau sembarangan mencoret buku tulis ku ?” mengambil buku tulis miliknya dari tangan Raneea, kemudian menyelipkan buku itu ke buku lainnya agar tidak di ambil oleh gadis kecil itu lagi.


Melihat Dirga yang tidak marah dan kembali fokus menatap papan tulis, Raneea merasa semakin bertambah kesal. Ia menarik lagi buku tulis Dirga dengan maksud akan mencoret-coret lagi buku itu. Namun Dirga segera menarik bukunya.

__ADS_1


“Jangan, jangan coret buku ku lagi. Jika masih bandel mencoreti buku ku, aku akan lapor pada Bu guru, aku akan lapor.” menatap Raneea sambil terus menarik bukunya.


Kedua anak itu saling tarik-menarik buku, yang mengundang perhatian guru kelas.


Bu Iva memperhatikan tingkah kedua murid didiknya itu. Karena masih saja mereka berebut, akhirnya dia menghampiri meja Dirga.


“Raneea... lepaskan buku milik Dirga, kembalikan. Kenapa kamu mengganggu teman mu yang sedang belajar?” menatap tajam ke arah Raneea.


Karena takut dengan tatapan tajam dari Bu Iva, yang seolah menyudutkan dia, dan tak memberinya kesempatan untuk membela diri, serta membuatnya tampak bersalah, ia pun melepaskan buku tulis milik Dirga.


Setelah buku tulis kembali ke tangan Dirga, Bu Iva kembali ke depan kelas dan melanjutkan pelajaran. Kali ini Raneea berniat mengulangi perbuatannya. Ia menyentuh buku tulis Dirga, namun Bu Iva menatapnya. Sehingga dia menguntungkan niatnya dan menjauhkan tangannya dari buku Dirga. Ia pun ikut menatap papan tulis, karena merasa takut pada Bu Iva yang mengawasinya setelah kejadian tadi.


Tak berapa lama kemudian, bel istirahat berbunyi. Semua murid keluar kelas setelah Bu Iva keluar dari kelas mereka.


Anak-anak berhamburan di halaman sekolah. Beberapa dari mereka ada yang berlari menuju ke kantin untuk membeli snack, salah satu dari rombongan itu adalah Raneea. Beberapa anak lain bermain di halaman sekolah.


“Hei... kesini, ayo gabung dengan kami. Ikutlah main kelereng bersama kami.”ucap salah satu anak lelaki memanggil Dirga.


“Ya, ya... aku akan bergabung dengan mu, tapi aku tidak punya kelereng. Sungguh aku tak punya satu kelereng pun.” berdiri dan memandang teman-temannya, berniat menghampiri sekumpulan anak laki-laki itu.


“Aku punya banyak kelereng, kau bisa meminjamnya dulu.” kata salah satu anak sambil mengangkat satu toples penuh berisi kelereng dan menunjukkan ke Dirga.


Dirga berjalan menuju ke arah teman-temannya, namun baru dua langkah, kakinya terasa berat seperti ada yang menarik. Dia berusaha menarik kakinya, namun usahanya gagal.


“Tolong... tolong... tolong aku. Ada yang menarik kaki ku...” melihat ke arah teman-temannya.


Sekumpulan anak kecil yang tadi mengajak Dirga main bersama, segera berdiri. Mereka tidak menolong Dirga, melainkan lari berjamaah meninggalkannya. Karena mereka pernah mendengar dari kakak kelas jika pohon itu angker, dan ada beberapa anak yang pernah bertemu dengan penunggu pohon itu.

__ADS_1


Ada satu anak lelaki yang tertinggal dari kelompoknya, karena gemetar ketakutan. Dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggerakkan kakinya, dan akhir ya berhasil.


“Maaf, Dirga.... aku tak bisa membantu mu, aku takut.” menatap Dirga dengan rasa bersalah sambil melangkah kan kaki untuk berlari.


Anak lelaki itu berlari jauh, sambil terus melihat ke belakang menatap Dirga. Ia sempat melihat Dirga berbicara sendiri dengan mimik wajah yang kelihatan marah dengan iris mata berwarna ungu seperti anak yang kerasukan. Dalam benaknya ia mengira jika Dirga itu adalah sesosok penunggu pohon murbei.


Dirga berusaha dengan keras melawan penunggu pohon yang mengganggunya itu dengan sekuat tenaga, dan akhirnya dia bisa terlepas dari gangguan penunggu pohon itu.


“bruk...” Dirga terjatuh setelah merasa kehabisan tenaga.


Dari kejauhan Raneea yang kembali dari kantin dengan membawa banyak snack di tangannya, yang kebetulan melihat Dirga jatuh, segera berlari dan mendekatinya. Samar-samar ia melihat iris mata Dirga yang berwarna ungu dari kejauhan. Namun saat dia mendekati dan melihat warna iris mata Dirga, ternyata bukan berwarna ungu, melainkan berwarna normal.


“Ternyata aku hanya salah lihat.” berjongkok sambil melihat Dirga.


“Kau tidak apa-apa?” membantu Dirga berdiri. Dirga hanya mengangguk menatap Raneea.


Raneea kemudian mengajak Dirga untuk duduk di kelas. Dia memberinya es jeruk yang sedang ia bawa, agar anak itu tenang. Setelah beberapa saat, Dirga sudah terlihat tidak lemas lagi. Namun ia merasa ada yang janggal. Banyak pertanyaan yang muncul di benak nya tentang Dirga.


Bersambung.....


_______________________________________


Terima kasih pada reader yang setia dan menunggu kelanjutan cerita novel ini. Maaf sudah lama baru UP, di karenakan ada suatu masalah. Mulai hari ini, kisah ini akan UP seminggu 2 eps. Untuk hari dan waktunya random.


Mohon dukungannya terus untuk kisah ini dengan memberi like, vote dan juga comment...


💐💐💐💐

__ADS_1


__ADS_2