Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 78 Keluar Dari Lembah Salju


__ADS_3

Dirga menahan nafas saat melihat kaki seorang pengawal di depan kursi itu. Sementara Rheva memejamkan mata dan berdoa dalam hati semoga mereka tidak ketahuan sambil memeluk tubuh Dirga tanpa sadar.


“Di dalam tidak ada siapapun. Bagaimana dengan di sini ?” tanya pengawal yang memeriksa ke ruangan lainnya dan kembali menghampiri temannya.


“Disini juga tidak ada. Jejak di depan masih baru. Mungkin saja mereka baru tiba disini dan langsung pergi dengan cepat.” ucap salah satu pengawal.


“Mungkin saja mereka masih ada di sini dan bersembunyi di sekitar sini. Kau yakin sudah memeriksa semua bagian ruangan ini? Aku bantu kau memeriksanya lagi.” ucap pengawal itu pada temannya lalu dia melihat di balik lemari yang ternyata tidak ada. Kemudian dia beralih memeriksa di bawah kolong kursi, dimana Dirga dan Rheva ada di situ. Tanpa sadar Dirga juga memeluk tubuh Rheva erat saat merasa tegang sambil tetap menahan nafasnya.


“Di sini tidak ada juga.” ucap pasukan itu pada temannya. Mereka kembali menyisir rumah itu sekali lagi dan kembali dengan tangan hampa. Setelah bercakap-cakap beberapa saat mereka kemudian memutuskan untuk pergi dan melakukan pencarian di tempat lain.


“Hah... hah... hah...” Dirga dan Rheva menghela nafas bersama setelah pasukan itu keluar dari rumah.


Mereka menunggu beberapa saat sampai kondisi aman.


“Sepertinya sudah aman sekarang. Tapi apa pasukan itu benar-benar tidak melihat kita tadi ?” tanyanya pada gadis itu.


“Jika menurut mu sudah aman, turunkan tangan mu dari pinggang ku, aku tidak bisa turun, baru nanti ku jelaskan pada mu.” ucap gadis itu berbicara di telinga Dirga lalu menahan tubuhnya dengan dua tangannya di lantai. Dirga segera melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu. Namun setelah beberapa saat gadis itu tak kunjung turun juga dan terus menatapnya.


“Siapa tadi yang bilang mau turun ?” ucap Dirga yang membuat gadis itu salah tingkah.


“Ah....” ucap gadis itu yang baru menyadari kalau dirinya memeluk erat tubuh Dirga. Dia segera melepaskan pelukannya dan segera turun dari atas tubuh anak itu lalu keluar dari kolong, setelah itu Dirga ikut keluar dan mereka duduk di kursi.

__ADS_1


“Apa menurut mu ini sudah aman ?” tanya Dirga yang melihat Rheva berjalan ke jendela.


Gadis itu membuka sedikit tirainya dan melihat ke luar untuk memantau keadaan. Dia merasakan ada energi kekuatan yang bergerak menjauh dari daerah itu.


“Ssts.... sementara keadaan belum aman. Jangan melakukan apapun sebelum aku menyatakan keadaan telah aman. Aku merasakan energi mereka menjauh dari sini. Tapi aku belum yakin juga. Diam dan ikuti aku.” ucap gadis itu kembali lalu duduk di sebelah Dirga.


Dirga tidak tahu apa yang di lakukan gadis itu. Dia melihat gadis itu mengucapkan sebuah kata yang menurutnya itu adalah suatu mantra. Sesaat kemudian muncul asap tipis berwarna biru terang menyelimuti tubuh gadis itu dan membuatnya terlihat samar lalu menghilang. Asap itu juga menyelimuti tubuh Dirga dan dia melihat tubuhnya yang mulai menghilang dari ujung kaki.


Sementara itu di luar. Para pasukan Infinix yang telah melakukan pencarian berkumpul lagi. Mereka melaporkan hasil pencarian mereka pada pimpinan pasukan mereka.


“Apa ??? Kalian tak menemukan adanya siapa pun di tempat ini ?Lalu bagaimana dengan jejak kaki yang kita lihat di jalanan depan lembah ini ?” tanya pemimpin pasukan itu marah pada anggota pasukannya.


“Ayo kita segera pergi dari sini. Kita harus mencari lagi keberadaan para Ighist yang berhasil kabur itu. Tunggu saja, jika kita menemukan mereka. Mereka tak akan bisa kabur lagi dari kita kali ini. Tiga hari ke depan kita akan kembali ke daerah ini untuk menangkap para Ighist yang rindu pada tempat ini.” perintah pemimpin pasukan Infinix itu. Beberapa saat kemudian sepuluh pasukan Ighist itu pergi dari Lembah Surga dan meninggalkan kabut hitam pekat yang mengiringi kepergiannya.


Sementara itu Pantai Mahakam yang menjadi tempat penelitian bagi Rheva dan Dirga sebelumnya kini di penuhi oleh binatang dari ordo hirudinae. Tempat itu untuk sementara waktu di tutup dan tak ada yang di perbolehkan berkunjung ke tempat yang saat ini dinyatakan berbahaya itu karena telah memakan tiga korban jiwa meninggal yang di temukan di lokasi itu.


Suasana kota di sekitar Pantai Mahakam itu kini mencekam bagai di teror. Beberapa akses jalan juga ikut di tutup sebagai antisipasi serangan dari binatang yang di nyatakan buas itu.


Beberapa profesor dan ahli sains, dan ahli kimia melakukan penelitian terhadap sampel binatang penghisap darah itu. Namun mereka belum menemukan asal-muasal binatang itu. Dan sampai sekarang mereka masih mencari anti koagulan yang bisa melumpuhkan penyebaran binatang yang menyerupai virus itu.


Di lain sisi para keluarga dan para sahabat turut prihatin atas peristiwa menghilangnya Dirga dan Rheva yang melakukan penelitian di sana yang juga belum di temukan sampai sekarang.

__ADS_1


Di suatu tempat, Elsa dan keluarganya bersedih menerima kenyataan putranya yang hilang tanpa kabar untuk kedua kalinya. Mereka berharap bisa berjumpa lagi dengan Dirga dalam keadaan hidup-hidup.


Kembali lagi ke lembah salju. Dimana di sana sekarang malam hari. Malam di sana selalu bersalju seperti namanya. Butiran salju terlihat menumpuk di malam hari dan keadaan di sana sekarang sudah aman, untuk sementara waktu.


Malam itu di rumah Rheva, tubuh Dirga gemetar menahan dinginnya malam waktu itu. Kali ini Rheva tidak menyalakan pemanas ruangan untuk menghindari datangnya pasukan Infinix yang diam-diam memeriksa tempat itu.


Melihat Dirga yang kedinginan, gadis itu bukannya memberinya selimut atau setidaknya air hangat yang bisa menghangatkan tubuhnya, meski untuk sesaat. Rheva mengajak Dirga keluar dari rumahnya malam itu juga.


“Kau mau mengajak ku kemana ?” tanya Dirga yang berjalan dengan malas mengikuti gadis itu keluar dari rumah di malam bersalju.


“Jalan yang cepat. Kita akan kembali malam ini !” ucap gadis itu yang menoleh ke belakang lalu menarik tangan Dirga yang berjalan pelan.


“Ha ? Malam ini ? Di tengah cuaca bersalju ? Melewati ngarai di Pantai Mahakam ?” tanyanya seolah protes menanggapi gadis itu.


“Apa tidak bisa kita besok pagi saja kembalinya ? Saat cuaca tidak sedingin ini ?” tanya Dirga kembali yang benar-benar tidak ingin pergi malam itu.


“Dengar... kita tak bisa mengulur waktu lagi. Kita bisa lolos kali ini tapi tidak tahu jika besok atau lusa pasukan Infinix kembali ke sini. Ayo cepat...!”


Gadis itu tahu jika Dirga malas untuk kembali di cuaca seperti ini. Namun jika mereka tidak pergi sekarang akan timbul masalah baru. Dengan terpaksa Dirga mempercepat langkahnya mengikuti gadis itu keluar dari lembah salju.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2