Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 110 Terjebak Di Aliran Waktu


__ADS_3

Dirga mulai konsentrasi dalam melakukan meditasi. Kali ini dia mulai serius berlatih setelah teringat kembali pada sosok Rheva.


Dia mengira-ngira sendiri langkah apa yang harus di ambilnya. Dia melakukan secara acak dan mencoba berbagai metode yang di ketahuinya.


Pertama dia mencoba menghirup nafas biasa sambil membayangkan seolah dia menghisap udara yang ada di goa itu. Kemudian dia menghembuskan nafas perlahan dan merasakan tubuhnya masih hangat. Tak ada udara dingin sedikitpun yang berhasil dia serap.


“Cara ini salah...” ucapnya membuka mata lalu berpikir sejenak mencari metode lain dan kembali bermeditasi. Dia kembali menghirup nafas lalu kembali mengalirkan tenaga yang lebih besar saat menghirup udara di sekitarnya.


“whoop...” Dia berhasil menyerang sedikit udara dingin di sekitarnya dalam tubuhnya. Namun sayang udara itu tidak bertahan lama di tubuhnya dan kembali terlepas yang membuat tubuhnya terasa hangat lagi.


“Ah... hampir benar... kira-kira kurang apa ya...” ucap anak itu membuka mata sambil berpikir kembali untuk menyempurnakan tekniknya yang menurutnya sedikit lagi akan berhasil.


Dirga kembali memejamkan mata dan melanjutkan meditasinya. Kali ini dia mencoba mengalirkan semua seluruh tenaga ke tubuhnya. Dia mulai bernafas dan menghirup udara di sekitarnya. Pelan tapi pasti dia mulai merasakan udara dingin memasuki rongga dadanya dan dia juga merasakan tubuhnya mulai merasa dingin seperti es. Namun lagi-lagi energi yang diserapnya itu tak bertahan lama di tubuhnya dan kembali terlepas ke udara setelah sepuluh menit.


“Argh... hampir saja... aku akan mengulanginya lagi.” ucapnya setelah membuka mata dan dan merasakan tubuhnya kembali hangat seperti sebelumnya.


Dia pun kembali memejamkan matanya dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Kali ini dia mencoba menyatukan dirinya dengan alam. Dia menganggap dirinya adalah bagian dari udara yang ada dalam goa itu dan merupakan partikel udara yang bisa bergerak bebas. Dia mulai menghirup nafas pelan dan mengalirkan energi ke seluruh tubuhnya lalu mulai menghisap udara yang ada di sekitarnya.


“whoosh...” Angin di sekitar tubuh Dirga tampak mulai membentuk partikel padat lalu berkumpul di satu titik dan mulai bergerak berputar di sekitar tubuhnya.


Dia merasakan angin dingin masuk melalui hidungnya dan mengisi rongga dadanya. Dia juga merasakan kini tubuhnya menjadi sedingin es.


Dirga terus menghisap udara di sekitarnya sampai pada batas kemampuannya. Namun setelah menghisap begitu banyak udara dalam tubuhnya dia pun malah terpental dan menabrak dinding goa. Seketika energi yang diserap nya itu terlepas lagi dari tubuhnya.

__ADS_1


“Apa yang salah ya dari teknik ku kali ini... kukira aku berhasil.” ucapnya sedikit kecewa karena masih saja gagal setelah sekian kali mencoba.


Dirga langsung berdiri lalu kembali ke tempatnya bermeditasi tadi dan mulai memejamkan matanya. Dia mengulangi hal yang dilakukan sebelumnya namun mengurangi jumlah udara yang hisabnya.


Seketika udara dalam goa itu bergerak dan berputar cepat mengelilingi tubuhnya. Meskipun dia tidak menghisap semua energi yang ada di sana namun entah kenapa udara dalam gua itu terisap semua ke tubuhnya dan membuatnya terpental kebelakang membentur dinding goa.


“Argh...” ucapnya saat membuka mata dan mencoba bangkit berdiri. tanpa udara tadi masih berputar di sekitar tubuhnya dan membuatnya terdorong ke atas dan membentur langit-langit goa yang menyebabkan langit-langit itu retak.


“crack...” tiba-tiba retakan di langit-langit goa itu bertambah besar retakannya dan jatuh ke tanah.


“Swoosh...” energi udara yang masih berputar di dalam goa kini kembali mendorong tubuhnya keluar dari goa itu.


Dirga berusaha turun dan melawan energi udara yang menolongnya namun dia gagal dan tubuhnya terus terseret oleh energi udara itu dan membawa tubuhnya melesat jauh ke atas menembus langit.


Setelah beberapa lama energi itu menyeret tubuhnya, energi itu pun semakin lama semakin menurun dan akhirnya berhenti di suatu tempat.


“buk...” Dirga terjatuh setelah energi udara itu menghilang. Dia melangkahkan kakinya dan berjalan di tempat yang baru di pijaknya itu. Tempat itu tampak sangat sunyi sama sekali tak ada penghuni di sana. Hanya gumpalan awan putih yang terlihat saat dia menapakkan kakinya.


“Halo... apa ada orang di sini ?” ucapnya mencari keberadaan seseorang yang mungkin ada di sana. Tak ada jawaban, bahkan dia mendengar pantulan suaranya sendiri yang menggema.


“Tempat apa ini sebenarnya... apakah aku ada di surga ?” batinnya mengira-ngira keberadaannya saat ini. dia pun terus berjalan menyusuri tempat itu.


Sementara itu di lain tempat, kakek Sanca yang mendengar suara Dirga memanggilnya segera masuk ke ruang dimensi buatannya itu. Betapa terkejutnya dia saat memasuki goa tempat Dirga berlatih. Dia melihat goa dalam keadaan kosong dan langit-langit goa itu sudah hancur.

__ADS_1


“Kemana perginya anak itu... ?” ucapnya sambil mencari keberadaannya dalam goa itu, namun tidak menemukannya.


“Apa mungkin dia terlalu banyak menyerap energi es ini sampai terhempas keluar dari ruang dimensi ?! Mungkin sebentar lagi dia akan kembali ke ruang dimensi ini. Kalau begitu lebih baik aku pergi dulu saja.” ucap kakek Sanca sambil melihat ke langit-langit yang kini tampak jelas terlihat awan biru di atas sana dan berlalu pergi dari ruang dimensi itu.


Dirga melanjutkan berjalan. Dia berjalan di atas awan yang permukaannya lembut sambil melihat ke atas. Tanpa sadar dia menginjak suatu lubang yang ada di depannya.


“Wuuss....” Dirga terperosok dan jatuh ke bawah.


“Argh....” dia mencoba berpegangan pada awan yang bisa diraihnya namun tetap saja dia terjatuh terjun bebas me bawah.


Selama jatuh dia melihat keberadaan banyak roh yang ada di sana. Para roh di sana terlihat berkumpul dan berjalan seperti mengantri di depan sebuah lubang besar, entah apa itu.


“Auw....” Dia juga melihat seorang lelaki yang berteriak kesakitan setelah terkena gada besi berduri yang menyebabkan roh pelangi itu hancur meskipun akhirnya menutup kembali.


“Tempat apa sebenarnya ini...” tanyanya heran setelah melihat ada roh lain yang menjerit kesakitan saat memasuki sebuah api berwarna merah membara.


Meskipun hanya sebuah roh saja, namun saat melihat mereka disiksa membuat anak itu ikut miris juga menyaksikannya. Dia mencoba memejamkan matanya dan menutup telinganya supaya tidak mendengar jeritan kesakitan yang memilukan.


Saat dia membuka matanya kembali, suara jeritan tadi sudah tak terdengar lagi. Dan kini dia melihat ada sebuah sungai panjang dan indah yang berkelok-kelok berada di tengah awan tepat di bawah kakinya.


“Splash...” Tanpa bisa menahan tubuhnya dia pun terjatuh masuk ke dalam sungai itu.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2