
Tubuh Dirga masuk ke dalam sungai yang panjang dan kedalamannya tak diketahui. Air di sungai itu berwarna biru cerah dan terasa segar sekali, tak seperti kebanyakan air sungai yang ada di dunia nyata.
“Enaknya berenang di sungai ini. seperti tak ada lelahnya dan tak ingin pergi dari tempat ini.” batinnya sambil menikmati berenang kesana-kemari tanpa rasa lelah sedikitpun.
Dirga yang penasaran dengan sungai yang berwarna jernih itu namun sama sekali tidak ada penghuninya mencoba berenang semakin ke dalam untuk mencari penghuni sungai itu dan melihat pemandangan yang indah di bawah sana.
Namun setelah lama dia menyelam ke bawah, dia sama sekali tak menemukan apapun dan rasanya sungai itu seperti tak berdasar.
“Sungai apa ini sebenarnya... kenapa aku tak menemukan dasar sungai ini ?” batinnya berhenti di tengah sungai dan menatap ke sekeliling.
Dia yang masih penasaran dengan sungai itu mencoba naik kembali ke atas kemudian berenang maju untuk menuju ke hilir sungai. Setelah sekian lama dia berenang namun tak kunjung juga dia menemukan hilir sungai itu.
“Benar-benar aneh sekali rasanya aku seperti berenang di sungai yang tak berujung...” batinnya lalu berhenti daripada menghabiskan tenaga dengan sia-sia.
Dia pun mencoba bersantai dan menikmati suasana tenang saat itu. Dia merentangkan tubuhnya dan menghadap ke atas serta menjadikan kedua tangannya sebagai alas dari kepalanya. Tubuhnya terasa ringan sekali dan bisa mengapung di sungai itu seperti sebuah perahu.
Untuk beberapa saat dia menikmati suasana hening di sana sampai dia melihat sosok burung camar terbang melintas di atasnya.
“Ada burung di sini... ?” tanyanya yang merasa heran setelah melihat keberadaan burung yang terbang melintas jauh di atasnya. Belum Hilang Rasa herannya tiba-tiba dia merasakan air sungai itu mulai beriak. Ada arus kecil yang bergerak jauh dari tubuhnya dan semakin lama semakin mendekat dengan dirinya.
Entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak dengan adanya arus yang mendekat kearahnya. Dia pun berniat untuk segera menepi dari sungai itu. Baru saja Dia berenang menggerakkan tubuhnya beberapa inci tiba-tiba saja arusnya semakin kuat.
Terlihat dari air yang jernih itu muncul sesosok ular yang panjang sekali. Ular itu keluar dari sungai dan ternyata adalah seekor ular naga berwarna putih dengan kedua tanduk emas di atas kepalanya.
“Argh....” Dirga yang ternyata berada di atas tubuh ular naga itu terpeleset meluncur ke bawah melewati tubuh ular naga yang terasa licin.
__ADS_1
Ular naga itu terus naik ke atas permukaan sungai dan terbang ke udara. Dirga yang masih ada di atas tubuh ular itu dan tak ingin terjatuh dari sana, dia mencengkram erat tubuh sang ular naga untuk menjaga keseimbangan tubuhnya mengimbangi gerakan sang naga yang berputar-putar di udara.
Ular naga itu menolehkan kepalanya ke belakang karena merasa ada yang menarik bagian tubuhnya. Dia melihat ada seseorang yang menarik sisiknya.
Karena merasa risih dia pun mengibaskan tubuhnya semakin keras.
“Naga gila kenapa kau mengibaskan tubuh mu keras ? Berhenti... aku bisa jatuh ! ” teriaknya meminta naga itu untuk tenang sambil mengeratkan cengkraman nya. Namun naga itu tak mengerti perintahnya dan malah semakin keras mengibaskan tubuhnya sehingga membuat anak itu terlempar jauh sekali dari tempat itu.
“Woosh....” tubuhnya terlempar jauh entah ke mana.
“Argh..... !!!” teriak Dirga yang terhempas dan tak bisa menahan tubuhnya yang terus terpental bermil-mil jauhnya dari tempat tadi.
“bam....” tiba-tiba tubuhnya menabrak sebuah dinding bangunan berbentuk piramid yang terbuat dari kristal.
Dia segera bangun dan mundur untuk melihat sekitar. Dia menatap bangunan piramid besar yang ada tepat di depannya itu dan tak asing baginya.
“Kenapa aku tiba-tiba berada di sini ?” gumamnya heran. Dirga lalu menembus masuk ke mausoleum itu.
“Jika ini benar mausoleum yang pernah ku kunjungi bersama Rheva beberapa waktu yang lalu pasti di sini ada makam dari orang tua dia yang selama ini di cari oleh gadis itu.” ucapnya lagi lalu berjalan mencari nisan dari Biana Roussel dan Achille Roussel.
Setelah beberapa lama berjalan dan mencari nisan itu dari sekian banyak nisan yang ada, akhirnya dia menemukan nisan yang dicarinya.
“Benar ini dia nisannya....” ucapnya lalu duduk berjongkok di depan nisan itu. Dia melihat makam itu penuh dengan bunga namun saat dia malah tak ada satupun orang bisa.
Lama sekali dia duduk dan memandangi dua nisan itu. Dia tidak tahu kenapa bisa sampai terbawa ke tempat ini lagi. Apa ada sesuatu yang harus dilakukannya di sana ? Atau ada sesuatu hal di sana yang harus dilakukannya ? Belum sempat terjawab semua teka-teki itu tiba-tiba dia melihat cahaya tipis muncul dari dua nisan itu yang semakin lama semakin terang dan menyilaukan.
__ADS_1
“blink...” karena sangat menyilaukan, Dirga sampai menutup matanya. Beberapa saat kemudian dia membuka mata dan tampaklah dua roh dari nisan yang di kunjunginya itu setelah cahaya tadi lenyap.
Dirga berdiri dan menatap kedua roh yang tersenyum menatapnya. Mereka berdua sekarang mendekat dan menghampiri dirinya.
“Nyonya Biana dan Tuan Achille Roussel...” ucapnya menyambut kedatangan roh itu serta membalas senyum mereka.
Wanita berambut panjang pirang itu menata lelaki berambut coklat yang ada di sebelahnya dengan tatapan sedih lalu kembali menatapnya.
“Nak.... Keane... kau adalah anakku dan kami adalah orang tuamu.” ucap wanita itu lalu semakin mendekati Dirga dan memeluknya.
Sedangkan anak itu hanya diam saja. Ingatannya kembali melayang pada momen beberapa waktu lalu saat bersama Rheva di tempat ini yang pernah menyampaikan padanya bahwa dia adalah putra dari Biana dan Achille Roussel. Namun sepertinya dia belum bisa menerima dan mengakui jika dirinya adalah keturunan wanita asing itu.
Belum Biana melepaskan pelukannya, Datanglah Achille Roussel yang juga memeluk dirinya.
“Anak ku.... sudah lama sekali kami berdua ingin bertemu denganmu. Akhirnya kami bisa bertemu denganmu di sini.” ucap lelaki itu memeluk dirinya dan istrinya. Mereka berdua melepas kerinduan yang mendalam pada putra mereka Setelah sekian lama menunggu dan akhirnya bisa bertemu meskipun dalam wujud roh saja.
Setelah mereka berdua melepaskan pelukannya Dirga memundurkan langkahnya.
“Maaf aku adalah Dirga bukan Keane... putra kalian.” ucapnya menyangkal fakta itu karena tak bisa menerimanya. Kedua pasangan suami istri itu saling menatap dengan tatapan sedih lalu kembali menghampiri Dirga yang menjaga jarak dari mereka.
“Ah... Iya kau pasti belum tahu dengan jati diri mu yang asli. pertama kali kau kesini dengan seorang gadis, kami mencoba berkomunikasi denganmu tapi kami tak bisa karena saat itu wujud kita berbeda dan kami hanya bisa berkomunikasi padamu melalui ingatan masa lampau yang kuberikan padamu saat itu.”
“Jadi itu...” ucap Dirga setelah mengingat-ingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu.
Biana Roussel dan Achille Roussel menggangguk menatapnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....