
Dirga masih menunggu jawaban dari wanita tadi yang nampak gelisah bercampur takut raut wajahnya.
“Ibu... boleh aku tahu dimana rumah Amy? Dimana rumah gadis itu?” mengulangi pertanyaan karena belum adanya jawaban yang keluar sampai detik ini.
“Dia... dia tinggal di sebelah rumah ini.” menoleh ke kiri dan menunjuk sebuah rumah beraksen Eropa dengan cerobong asap di sisi kanan.
Dirga segera berjalan ke rumah bercat coklat muda yang di tunjuk oleh wanita tadi setelah mengucapkan terima kasih.
“Tunggu...! Jangan kesana. Jangan cari dia.” Keluar dari pagar rumah sambil berteriak. Dirga yang sudah baru berjalan beberapa langkah akhirnya berhenti dan berbalik.
“Kenapa tidak boleh? Kenapa, apa ada sesuatu?” tanyanya yang semakin penasaran setelah ada orang yang juga melarang untuk mencari gadis itu selain Bu Lily.
“Dia... gadis itu... maksud ku Amy dia sudah kembali bersama Ayahnya ke Perancis karena kakeknya sakit keras. Mungkin dia tak akan pernah kembali.” namun Dirga tak percaya pada apa yang di ucapkan wanita tadi lalu berjalan menuju rumah berlantai dua itu dan berhenti di depan pagar.
“Sudah ku bilang jangan cari dia. Dia tidak ada. Rumah itu kosong. Pergilah jika kau tak ingin mendapatkan masalah.” tambah wanita itu dengan raut muka yang berubah menjadi gusar.
Karena larangan keras dari wanita itu, Dirga pun pergi meninggalkan rumah itu dan masuk ke mobil dengan lesu. Elsa yang melihat wajah anaknya tak ceria yakin jika teman yang di cari anaknya tidak ketemu. Karena tak ingin mendapatkan cecaran pertanyaan dari mamanya, dia memilih duduk di kursi belakang.
Mobil melaju ke jalanan menuju rumah. Elsa sesekali menoleh ke belakang setelah melihat Dirga dari kaca di atasnya.
“Ya sudah kalau tidak ada lain kali kita bisa kesana lagi mencari teman mu itu.” hibur Elsa.
“Iya ma...” jawab Dirga sambil mengangguk.
Di tengah perjalanan karena merasa sedih, Dirga menghadap ke belakang dan melihat pemandangan di jalanan yang mereka lalui untuk meredakan kekecewaannya karena tak berhasil menemukan Raneea.
__ADS_1
Laju mobil menjadi pelan karena jalanan ramai seperti ada festival atau kegiatan semacamnya di sana. Banyak orang berlalu lalang sambil mengikuti suatu rombongan di depannya yang entah rombongan apa itu. Banyak juga layangan yang di terbangkan ke angkasa. Ada juga penjual kerajinan di sepanjang jalan. Tanpa sengaja ia melihat seorang gadis kecil di tengah keramaian yang berjalan membawa layangan. Gadis itu tersenyum, dari samping dia hafal pada sosok gadis yang tersenyum dengan lesung pipit di kedua pipinya itu.
“Ma... tolong berhenti sebentar. Tolong berhenti. Aku mau turun sebentar.” pinta Dirga dengan terus menatap gadis tadi agar tidak kehilangan jejak.
“Jangan... disana ramai ! Nanti kau bisa hilang di tengah kerumunan orang. Atau biar mama temani saja agar kau tak tersesat.” Elsa menoleh ke belakang setelah menghentikan mobil. Namun Dirga langsung membuka pintu mobil dan berlari ke tengah kerumunan dan mengejar gadis tadi.
Dia berlari dengan cepat dan akhirnya bisa mengejar gadis itu.
“Raneea berhenti... berhenti ku bilang.” teriak Dirga sambil meraih pundak gadis di depannya itu. Karena berlari dan kehabisan nafas untuk sejenak dia menarik nafas dalam-dalam sekedar mengisi rongga dadanya yang sesak.
“Siapa kau ?” gadis berambut panjang itu berbalik dan menatap Dirga yang tidak dia kenal.
“Ah maaf... maaf aku salah orang.” ucap Dirga setelah melihat bukan Raneea yang dia kejar. Gadis itu pun berlalu dan pergi di tengah keramaian.
Dari kejauhan seorang gadis berhenti di tengah keramain menatap kepergian Dirga. Wajahnya tampak sedih menatap langkahnya yang gontai.
“Maafkan aku...” ucap gadis kecil itu tersenyum lalu berubah menjadi Raneea. Setelah melihat Dirga hilang dari pandangannya. Dia pun kembali berjalan di tengah keramaian dan berubah menjadi sosok gadis berambut panjang lalu menghilang di tengah hiruk pikuknya keramaian.
Elsa yang akhirnya bisa mengejar Dirga meraih tangan anaknya dan segera mengajaknya kembali ke mobil karena takut anaknya tersesat di tengah keramaian.
“Jangan langsung keluar dari mobil lalu langsung lari di tengah keramaian lagi ya! Mama tidak suka dengan sikap mu tadi.” menyetir sambil memarahi Dirga dan memberinya nasihat panjang lebar.
“Iya ma, maaf... Dirga salah. Aku salah, maaf.” hanya itu yang keluar daribibir kecil anak itu. Dia diam mendengarkan omelan dari mamanya karena dia menyadari kesalahannya.
“Sebenarnya tadi siapa yang kau kejar sampai tidak mendengar perintah mama?” selesai memarahi anaknya dan beralih menginterogasi.
__ADS_1
“Dia... dia Raneea Ma...” ucap Dirga sambil menunduk bersiap kembali di marahi mama.
“Apa... Raneea katamu? Bukankah sudah mama bilang anak itu tidak nyata.” menjadi marah setelah mendengar nama itu di sebut.
“Tidak ma... Raneea nyata. Dia nyata bukan ilusi. Mama bisa tanya pada semua orang di sekolah.” meyakinkan mama namun malah membuatnya semakin marah.
“Lalu saat kau turun di depan sebuah rumah tadi, siapa yang kau cari? Jangan bilang...”
“Raneea ma...” jawab Dirga menatap wajah mamanya yang masih marah lalu kembali menundukkan wajah.
“Apa...???” Mama semakin jengkel mendengar nama gadis yang menurutnya tidak nyata itu kembali di sebut. Emosinya meluap tapi dia berusaha menahannya dengan diam tak biacara lagi. Baru kali ini ia melihat anaknya yang biasanya penurut membantah perintahnya.
Dirga yang tahu kalau mama sedang marah padanya dengan mencoba meredam amarahnya. “Mama.... maaf ma... Dirga salah. Aku tak akan mengulanginya lagi.” berkata dengan sungguh-sungguh dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya lagi. Namun mama yang sudah marah tak meresponnya. Tak sepatah katapun meluncur dari bibirnya itu. Dia pun memilih diam selama perjalanan pulang dengan pikiran kacau yang masih memikirkan Raneea.
“Klik...”
Suara pagar di kunci. Wanita berambut coklat itu mengunci pagar setelah melihat ke jalan menatap kepergian Dirga.
“Semoga "dia" tidak mengejar mu. Jika tidak kau akan dalam bahaya...semoga itu tidak terjadi padamu.” segera masuk ke rumah dengan terburu-buru seolah ketakutan di kejar sesuatu setelah melihat bayangan hitam di langit dari kejauhan.
Setibanya di rumah Dirga segera melepas seragamnya dan ganti baju. Lalu dia merebahkan badannya di tempat tidur sekedar meregangkan otot-otot di tubuhnya yang kaku sambil menghembuskan nafas panjang untuk mengosongkan rongga dadanya yang terasa sesak. Dia terus memikirkan apa sebabnya gadis itu pergi secara mendadak dan tanpa pesan juga kenapa Mamanya tidak bisa melihat sosoknya.
Kepalanya terasa pusing setelah memikirkan itu. Dia juga kelelahan setelah mengejar gadis tadi, lalu dia tertidur pulas. Tiba-tiba aura di kamarnya terasa tak enak dan muncul sesosok bayangan hitam yang melayang di atasnya.
BERSAMBUNG......
__ADS_1