Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 42 Pertemuan Kembali


__ADS_3

Setelah semua berkas yang di butuhkan untuk pindah sekokah lengkap, akhirnya Dirga pun pindah sekolah ke sekolah lain yang lebih dekat dengan rumahnya dan bisa di tempuh dengan jalan kaki saja.


Karena letaknya yang tidak terlalu jauh, Dirga memilih untuk jalan kaki. Sekolah baru, teman baru. Di jalanan dia bertemu banyak teman baru, namun dia malah diam dan cenderung menarik diri dari lingkungannya yang baru karena dia tak mau mendapatkan bully-an sama seperti sebelumnya.


Dia berjalan melewati sekelompok anak yang melihatnya karena baru pertama kali bertemu. Ada juga beberapa teman yang sudah mengenal dia karena bertetangga. Dia terus berjalan kaki sendirian sampai tiba di sekolah baru. Beberapa anak yang mengenalnya menyapanya, dan dia membalasnya dengan senyuman.


Di kelas guru memperkenalkan murid pindahan baru pada yang lainnya. Setelah perkenalan selesai Dirga kembali ke tempat duduknya, dimana dia duduk sendiri seperti sebelumnya.


Saat jam istirahat semua murid keluar dari kelas dan melakukan aktivitasnya masing-masing.


“Dirga... ayo bergabung bersama kami...” ajak salah satu anak untuk bermain petak umpet, namun dia menolak. Ia heran kenapa teman-temannya yang baru memperlakukannya sedikit berbeda dari teman-temannya di sekolah lama.


Satu hari sebelum Dirga masuk ke sekolah baru. Elsa datang ke sekolah itu. Sebelumnya dia sudah berbicara empat mata dengan wali kelasnya mengenai kondisi anaknya yang autis dan mendapatkan bully-an dari teman-teman di sekolah sebelumnya. Lalu dia minta waktu sebentar pada Pak Abel untuk bicara sepatah-dua patah kata pada teman sekelas anaknya.


“Maaf semuanya mengganggu waktunya sebentar. Aku adalah tante Elsa, ibunya Dirga. Mohon bantuan dari adik-adik semua agar bisa menerima kondisi Dirga seorang anak autis dan tolong jangan sampai ada yang mem-bully-nya.” Ucap Elsa langsung ke pokok permasalahan. Dia juga menambahkan akan ada hari jumat berkah dimana di hari itu dia akan mentraktir semua teman sekelas anaknya.


Hari-hari berikutnya semuanya berjalan lancar. Di sekolah Dirga sudah tidak pernah mengalami pusing hebat dan pingsan karena dia sudah tidak memikirkan teman masa kecilnya lagi. Ia tak mau terganggu lagi dengan suatu hal yang tidak jelas.


“Kring... kring... kring...” bunyi bel sepeda Dirga yang melewati temannya yang berjalan kaki menuju ke sekolah. Beberapa temannya minggir untuk memberinya jalan.


“Aku ikut naik di belakang mu ya...” teriak salah satu teman yang berlari mengejarnya dan ingin ia bonceng. Namun Dirga mempercepat laju sepedanya sehingga Marco tak bisa mengejarnya. Dirga menoleh sebentar ke belakang sambil tersenyum kecil dan meneruskan mengayuh sepedanya sampai ke sekolah.

__ADS_1


Tiga tahun berlalu dan semuanya berjalan lancar seperti biasa. Dirga masih berada di sekolah yang sama dan sudah naik kelas. Suatu hari di sore hari yang mendung. Awan yang semula cerah berubah menjadi semakin gelap. Angin kencang berhembus menerpa dedaunan. Udara semakin dingin. Terlihat beberapa anak lelaki sedang bermain layangan di suatu tanah yang lapang. Beberapa dari mereka ada yang duduk di pipa besar mendongak ke atas, melihat layang-layang terbang membumbung tinggi di angkasa.


Dirga saat itu berlari ke luar ke jalanan untuk mencari Firoz yang belum kembali setelah lama tidak ia lepas. Ia khawatir elang putihnya itu hilang karena sudah lama menunggunya dan masih belum pulang. Ia berjalan menyusuri jalanan di sekitar rumahnya dengan masuk ke gang-gang yang ia temui, namun tak menemukan burung itu.


“Kemana Firoz pergi... dimana dia, tak biasanya dia pergi lama seperti ini.” menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok burung kesayangannya.


“Kaak... kaaak....” suara burung dari kejauhan. Dirga berlari mengejar suara burung itu. Terlihat burung berwarna putih terbang dari sebuah dahan pohon ke udara.


“Firoz... pulang... Firoz kembali...” teriak Dirga berlari mengejar burung yang terbang dengan cepat itu. Ia melewati tanah kosong dan terus berlari. Untuk beberapa saat dia berhenti.


“hosh... hosh... hosh...” karena terengah-engah dia pun berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya di dekat tanah kosong sambil terus melihat ke langit.


“Dirga... hei Dirga... kemarilah. Ayo bermain layangan bersama kami.” panggil salah satu anak lelaki yang sedang bermain layang-layang.


“whoosh...” suara angin yang bertambah kencang.


“jeder...” suara kilat petir menyambar yang di sertai kilatan di langit. Seketika hujan turun dengan lebat. Ketika Dirga tiba di tempat anak-anak tadi, semuanya berlarian pulang dengan membawa gulungan benang saja karena layangan milik mereka sudah hancur terkena hujan.


Dirga melihat anak-anak itu keluar dari tanah kosong. Ia mentap layangan yang berserakan di tanah yang tinggal kerangkanya saja. Ia pun teringat kembali kalau tadi dia pergi mencari elangnya dan kembali menyusuri jalanan di tengah lebatnya hujan.


“Kemana sebenarnya Firoz pergi ? Kemana dia... hujan-hujan begini apa dia baik-baik saja ?” terus berjalan mencari elangnya.

__ADS_1


Tiba-tiba di tengah jalan ada seseorang yang berlari ke arahnya dan menabraknya.


“buk...” Seorang gadis menabraknya. Mereka berdua jatuh ke tanah. Dirga segera berdiri dan membantu gadis itu berdiri.


“Maaf...” ucap gadis berambut panjang itu. Sejenak dia menatap lekat-lekat anak yang menolongnya barusan.


Dirga menatap balik gadis itu. Dia tidak mengenal gadis itu. Tapi entah kenapa saat melihat gadis itu, dia seperti pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya.


“Dimana aku pernah bertemu gadis ini sebelumnya ? Kenapa aku merasa familiar dengannya... aneh... padahal aku baru bertemu dengannya hari ini...” mencoba mengingat kembali dan masih tidak bisa mengingatnya.


Ada seseuatu yang berkilau jatuh di dekat kakinya. Dirga mengambil barang itu. Sebuah bros berbentuk pedang yang terliliti daun berwarna emas. Saat dia mengambilnya dan mengamati benda itu ada perasaan yang muncul lagi seperti perasaanya saat bertemu gadis itu. Barang itu terasa familiar baginya. Tapi entah dimana dia pernah melihat barang itu.


“Itu punya ku...” ucap gadis itu menatap bros miliknya di tangan Dirga.


“Ini ambillah...” Dirga menyerahkan bros itu pada pemiliknya.


“Terima kasih...” jawabnya mengambil bros tadi dan memasukkan ke dalam sakunya. Dia kemudian segera berlari pergi meminggalkan Dirga.


“Hei... tunggu...! Apa aku pernah beetemu dengan mu sebelumnya? Apa aku mengenal mu ?” tanya Dirga namun gadis itu sudah tidak kelihatan di tengah lebatnya hujan, bagai hilang tertelan derasnya hujan.


Dia lalu berjalan kembali mencari Firoz yang masih belum ketemu. Dari kejauhan gadis tadi berbalik dan melihat Dirga sambil tersenyum.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2