
Dirga seketika terkejut melihat kunci yang melayang di atas tangan Rheva. Dia baru tahu bros itu bisa juga berubah menjadi sebuah kunci.
“Kunci apa ini ?” tanyanya mendekat dan memegang kunci itu.
“Ini kunci rumah ku di Lembah Salju...”balas gadis itu mengambil kembali kunci dalam genggaman tangan Dirga.
“Lalu kenapa kita tak menggunakan kunci ini saja saat kita ada di Lembah Salju tapi kau malah mengajak lewat Pantai Mahakam ?” tanyanya yang merasa di permainkan oleh gadis yang sekarang menjadi kekasihnya itu.
Gadis itu melihat raut wajah Dirga yang kesal karena kunci itu dan menjelaskan agar tak melihat tatapan kesal lagi dari kekasih barunya itu.
“Bukan... tidak seperti yang kau pikirkan. Saat itu ada pasukan Infinix jadi aku tak bisa menggunakan kunci ini, karena mereka pasti akan bisa mendeteksi kekuatan ini dan melacak keberadaan kita.” jelasnya pada anak itu seolah bisa membaca pikirannya.
Rheva kembali melihat ke sekitar ruangan itu dan mendapati ruangan masih sepi, tak ada orang lagi selaim mereka berdua.
“Ayo kita pergi sekarang... !” ucap gadis itu.
Rheva memegang tangan Dirga dan dalam sekejap saja mereka menghilang dari ruang perpustakaan itu kemudian berpindah ke lembah salju, tepatnya di depan pintu rumahnya.
“cklek...” Gadis itu memutar kunci dan pintu rumahnya terbuka. Mereka berdua segera masuk dan menutup kembali pintu itu.
Dirga merasa senang bisa kembali ke tempat itu lagi karena dia bisa bermain salju sepuasnya.
“Rheva aku mau keluar sebentar dan melihat salju dulu. Kau bisa mengambil buku yang kau cari itu atau melakukan hal lainnya kau suka. Mungkin kau mau bergabung dengan ku...” ucapnya sambil membuka pintu dan menahannya terbuka menunggu gadis itu keluar untuk menghabiskan waktu bersamanya.
Gadis itu menarik Dirga dan menutup kembali pintu rumahnya yang membuat nya bingung kenapa gadis itu melarangnya keluar.
“Aku tidak akan lama...tunggu aku. Aku akan segera kembali.” ucap gadis itu berlari masuk ke kamarnya sambil melihat jam di tangannya untuk mengambil buku yang di carinya.
__ADS_1
Hanya beberapa menit gadis itu kembali dengan membawa dua buah buku tebal dan kembali berlari menghampiri Dirga.
“Ayo kita kembali sekarang...” ucap gadis itu memegang tangan Dirga kembali. Namun Dirga malah menarik gadis itu keluar rumah.
“Aku sudah menunggu mu sekarang giliran mu menemaniku bermain salju.” ucapnya tetap memegang tangan kekasihnya itu dan terus berjalan menuju ke tempat yang terdapat tumpukan salju tebal.
“Dirga... kita tak bisa berlama-lama di sini. Karena kunci ini hanya bisa bekerja dalam waktu lima belas menit saja.” ucapnya cemas sambil terus memperhatikan jam tangan nya yang menunjukkan waktu mereka hanya kurang lima menit saja.
“Apa... ?? Kalau begitu cukup lima menit saja temani aku.” ucapnya memohon pada gadis itu. Melihat wajah kekasihnya yang memelas, dia pun akhirnya luluh juga.
“Baik... lima menit saja tidak lebih. Waktu kita tinggal lima menit lagi.” jawab gadis itu.
Mereka berdua kemudian membuat bola-bola salju dan beradu melempar terjauh. Gadis itu kembali melihat jam tangannya.
“Sudah saatnya kita kembali. Atau kau mau melewati Pantai Mahakam lagi ?” tanya gadis itu berhenti main lempar bola salju.
Dirga yang merasa belum puas bermain akhirnya melempar satu bola salju besar ke pohon untuk melampiaskan kekesalannya itu.
“zink....” mereka kembali duduk di kursi tempat mereka tadi duduk.
Untung saja mereka segera kembali karena tanpa sepengetahuan mereka berdua tepat saat mereka menghilang dari Lembah Salju, ada dua orang pasukan Infinix yang kebetulan lewat menyisir tempat itu setelah melakukan penyisiran di tempat lain.
“Apa kau merasakan ada energi dari penggunaan kekuatan di sini ?” tanya salah satu pasukan Infinix pada rekannya dan berhenti karena merasakan energi penggunaan Ighist.
Pasukan Infinix lainnya itu pun ikut berhenti dan dia melihat dengan mata ketiganya yang terletak di dahi dan bersinar violet pekat.
“Benar barusan ada orang yang ke sini.” ucapnya setelah melihat dengan mata ketiganya itu dan menon-aktifkan kekuatan matanya itu.
__ADS_1
Mereka lalu menyisir daerah itu dan menemukan jejak kaki baru di jalanan bersalju itu.
“Kita harus melaporkan hal ini pada tuan Arthur secepatnya...” ucap pasukan itu pada rekannya lalu mereka berdua pergi setelah menelusuri jejak keberadaan manusia yang hilang tanpa bekas itu.
Kembali ke perpustakaan dimana Rheva masih membaca buku yang di ambilnya tadi.
Semetara itu Dirga hanya memandangi gadis itu yang masih serius membaca halaman demi halaman.
“Rheva... tidak bisakah kita seperti pasangan kekasih lainnnya ?” tanyanya yang membuat gadis itu berhenti membaca dan beralih menatapnya.
“Maksud mu... ?” tanya gadis itu tak mengerti.
“Mulai sekarang aku mau kau memanggil ku dengan panggilan sayang...” ucapnya pada Rheva. Seketika gadis itu wajahnya langsung memerah. Dan dia hanya mengangguk saja lalu kembali membaca buku yang di ambilnya tadi.
Tiga puluh menit berlalu, gadis itu terus membalik buku tebal itu dan akhirnya dia menemukan simbol yang mirip dengan simbol yang ada di bahu Dirga.
“Coba lihat ini... ini tanda yang mirip sekali dengan tanda yang ada di punggung mu !” gadis itu menunjukkan simbol matahari separuh yang ada di buku itu pada Dirga.
“Apa... Infinix ? Jangan bilang aku adalah kerurunan Infinix pasukan tak bermoral itu.” ucapnya setelah melihat dan membaca buku itu.
“Aku juga tidak yakin. Simbol di punggung mu itu mirip seperti ini hanya saja simbol yang ada di tubuh mu itu hanya separuh dari simbol ini. Apa maksudnya ya...” tambah Rheva menjelaskan sedikit perbedaan simbol di antara keduanya.
Gadis itu lalu mengambil bukunya lagi dan membalik lagi untuk menemukan informasi lainnya. Lalu dia berhenti pada simbol yang khas yang di miliki Pixy. Gadis itu kembali membalik bukunya dan menunjukkan pada kekasihnya itu.
“Lihat ini... aku juga melihat simbol ini di dada mu.” menunjukkan sebuah simbol yang mirip sekali dengan simbol di dada Dirga.
“Pixy... ?Apa maksudnya ini... apa menurut mu aku adalah keturunan Pixy hanya karena punya simbol serupa ? Tak mungkin aku adalah salah satu keturunan dari Infinix atau Pixy.” ucapnya berdiri karena merasa apa yang di katakan gadis itu tak masuk akal baginya. Mana mungkin dia yang keturunan orang biasa adalah keturunan dari kelompok kuat di masa lampau ? Bagaimana itu bisa terjadi ?
__ADS_1
“Tunggu... sayang... ! Jangan pergi dulu aku serius bicara pada mu.” ucap gadis itu menarik kembali Dirga dan membuatnya kembali duduk di kursinya tadi.
BERSAMBUNG...