
Lama mereka bertiga berpelukan dan larut dalam tangis bahagia. Beberapa saat kemudian mereka mengakhiri pelukan.
Dirga yang merasa lama tak melihat wajahnya ingin melihat bagaimana penampilannya sekarang.
“Ibu... apakah ibu bawa cermin? Aku mau pinjam sebentar bu.” tanya anak itu tiba-tiba.
Elsa dan Hadwan saling berpandangan dalam diam. Dalam hati mereka khawatir anak itu akan frustasi jika melihat perubahan yang terjadi pada dirinya setelah bercermin.
Melihat kedua orang tuanya yang diam dia pun mengulangi pertanyaannya lagi.
“Ayah... tolong carikan aku cermin.” ucap anak itu ganti meminta pada ayahnya.
“Sayang... keluarkan cermin mu dan berikan pada Dirga.” ucap Hadwan karena merasa kasihan juga pada putranya itu karena ini merupakan permintaan pertamanya setelah tidur panjang.
“Ya baiklah...” jawab Elsa.
Elsa berdiri dan mengambil tasnya lalu mengeluarkan cermin kecil yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi.
“Ini nak, ambillah...” tambahnya menyerahkan cermin itu pada Dirga.
Dirga menerima cermin itu lalu melihat wajahnya. Dia melihat penampilan dirinya yang tidak. Kembali ke penampilan aslinya sebelum roh nya di murnikan oleh ibu kandungnya.
Sementara itu Elsa dan Hadwan menunggu dengan cemas Apa reaksi putranya setelah melihat penampilannya yang berubah dan bersiap membesarkan hatinya.
“Ayah... ibu aku suka dengan penampilanku yang sekarang.” ucapnya sembari tersenyum melihat dirinya yang sekarang tanpa bertanya pada mereka berdua apa sebab dirinya berubah seperti itu.
Elsa dan Hadwan terlihat menghembuskan nafas dengan lega setelah melihat reaksi putranya yang ternyata tidak terkejut dan malah terlihat senang.
“Ayah... ibu... tubuhku rasanya lengket sekali. Bolehkah aku mandi... ?” tanya Dirga menatap kedua orang tuanya bergantian.
“Tunggu dulu nak, sebentar lagi dokter akan ke sini memeriksa kondisi mu.” ucap Hadwan melarang anak itu karena sebelumnya dia sudah memanggil dokter dan mungkin beberapa saat lagi akan segera datang.
“Ayolah ayah... aku tak akan lama.” ucap Dirga bersikeras yang membuat ayahnya mengizinkan dirinya pergi ke toilet.
Karena khawatir Hadwan mengantarkan dan menunggu Dirga di depan toilet.
Sementara itu Elsa terlihat merenung seorang diri di ruangan itu.
__ADS_1
“Penampilan Dirga yang sekarang benar-benar mirip dengan wanita itu, Biana Roussel. Semoga saja tidak ada hal baru lagi yang terjadi setelah ini.” batinnya yang masih merasa cemas jika sewaktu-waktu terjadi hal yang tak diinginkan lagi.
Beberapa saat kemudian Dirga kembali bersama Hadwan. Baru sebentar anak itu duduk tak berapa lama kemudian dokter masuk ke ruangannya dan memeriksa kondisinya. Betapa terkejutnya sang dokter saat melihat pasien yang sudah sadar dengan penampilan yang berubah.
Dokter meminta Dirga untuk berbaring lalu memeriksa kondisinya dan ternyata kondisinya sudah pulih tak ada yang perlu dikhawatirkan. namun ia masih belum tahu apa penyebab perubahan penampilan pasiennya itu.
Satu hari setelahnya.
Setelah dokter menyatakan kondisi Dirga benar-benar pulih, dia mengizinkan pasien itu boleh keluar dari rumah sakit.
Beberapa jam kemudian Elsa dan Hadwan berkemas untuk pulang ke rumah bersama Dirga.
“Ayah... ibu... ayo kita pulang. Aku sudah tak sabar ingin segera masuk ke rumah kita.” ucap Dirga bersemangat.
Elsa dan Hadwan berjalan bersama Dirga masuk ke mobil setelah mengemasi semua barang dan melaju menuju ke rumah.
Setibanya di rumah semua keluarga datang menyambut kepulangan Dirga.
“Cucu ku... Dirga akhirnya kau pulang juga, nak. Kakek dan nenek rindu sekali pada mu.” ucap kakek dan nenek lalu memeluk anak itu.
Sementara itu Luna yang berdiri di depan Dirga hanya diam memandangi kakaknya lekat-lekat. dia merasa lelaki yang berdiri di depannya itu bukanlah kakaknya karena penampilannya berbeda.
Gadis kecil itu pun lalu memeluk kaki Dirga setelah mendengar penjelasan dari ibunya.
“Kakak Dirga kenapa berubah semakin tampan ? Aku hampir tidak mengenali mu kak.” ucapnya yang tak berkedip menatap kakaknya itu.
“Mungkin karena sudah lama terbaring di Rumah Sakit jadinya penampilan ku berubah seperti ini.” jawabnya lalu mengendong Luna.
Mereka pun melepas rindu sampai malam, sampai mereka merasa mengantuk akhirnya memutuskan untuk pergi tidur ke kamar masing-masing, begitu juga dengan Dirga yang ikut masuk ke kamar dan merebahkan dirinya di tempat tidurnya yang nyaman.
Matanya tak bisa terpejam meskipun sudah lewat tengah malam. Karena tak bisa tidur dia pun bangkit dari kasur dan berjalan keluar dari kamarnya.
“Apakah semua sudah tidur ?” batinnya sambil memeriksa keadaan rumah. setelah memastikan semua penghuni rumah lainnya sudah tertidur lelap dia pun berjalan keluar rumah menuju ke tempat dimana Viroz berada.
Di teras rumah burung elang putih miliknya itu sedang memejamkan matanya. Dia pun menghampirinya dan sekarang berdiri tepat di depan kandang burung itu.
“Viroz... sudah lama sekali aku tak bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu ?” ucapnya bertanya pada burung itu yang membuatnya membuka mata.
__ADS_1
“Kaaak... kaaak...” Viroz terbang ke sisi pintu kandang dan terus menatap Dirga seolah ingin bicara sesuatu padanya.
Melihat burung itu ingin lepas dari kandangnya, dia pun membuka pintu dan melepaskan elang putih itu. Seketika burung itu langsung terbang saat pintu terbuka dan langsung hinggap di bahu Dirga.
“Viroz... kau rindu pada ku ya...” ucapnya mengelus kepala burung elang putih itu.
Dirga lalu duduk hujan deras pun ikut turun berpindah ke pangkuannya.
“Viroz... ibu bilang kau adalah utusan kepercayaan dari Pixy yang mereka kirim untuk menjagaku. Apa itu benar ?” ucapnya mulai bertanya dan menatap burung itu.
Elang itu terus menatap dibawa untuk beberapa saat dan tiba-tiba dia terbang serta mendarat ke tanah. Dalam hitungan detik burung elang putih itu kini berubah menjadi sosok lelaki yang mengenakan jubah putih dengan rambut pirang panjang menjuntai melewati bahunya.
“Tuan Dirga... maaf aku baru menampakan wujud ku pada mu sekarang.” ucap lelaki itu sambil memberi hormat pada Dirga.
“Ya tak apa... tak perlu begitu pada ku.” ucapnya pada sosok lelaki itu.
“Terima kasih tuan... panggil saja aku Andrew.” jawab lelaki itu setelah memberi hormat.
Dirga meminta lelaki itu untuk duduk di sebelahnya dan berbicara mengenai Infinix.
“Andrew jadi apa kau tahu semua tentang Infinix ?” tanya Dirga menoleh ke samping menatap lelaki tadi yang menganggukkan kepalanya.
“Tolong ceritakan padaku...” ucap anak itu memintanya menceritakan semua yang dia ketahui tentang infinix.
“Awal mula ceritanya Infinix dulu tak pernah ada masalah dengan yang lainnya. Lalu dia...” Andrew menceritakan semua kejadian yang diketahuinya pada Dirga.
Sedangkan Dirga mendengarkan semua yang diceritakan oleh lelaki itu dengan serius.
“Lalu apa kau tahu di mana sekarang Arthur dan pasukan Infinixnya itu ?” tanya Dirga setelah selesai mendengarkan cerita.
“Ya... tentu saja aku tahu tuan...” jawabnya singkat.
“Jika begitu aku ingin kau segera menemaniku dan mengantarku ke sana.” ucap anak itu menambahkan.
“Ya kapan saja tuan minta, aku akan menemani dan mengantar tuan ke sana.” jawabnya.
beberapa saat kemudian setelah mereka selesai bercakap-cakap Andrew kini kembali ke wujud burung elang putih dan kembali terbang ke bahu Dirga.
__ADS_1
BERSAMBUNG....