Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 84 Kabut Hitam


__ADS_3

Seorang gadis kecil sedang berlatih bermain pedang dengan seorang lelaki di suatu tempat.


Tampak gadis itu masih berusia sekitar lima tahun-an. Dengan tubuhnya yang kecil itu dia berusaha mengangkat pedang yang beratnya separuh dari berat badannya.


“Argh... berat sekali !” ucap gadis itu mengangkat pedang itu dengan keringat yang bercucuran membasahi bajunya.


“Kau harus bisa mengayunkan pedang itu dengan mudah, nak. Karena kau adalah yang terpilih sebagai pelindung satu-satunya keturunan Infinix yang di sembunyikan keberadaannya itu. Karena kau akan selalu di kejar oleh pasukan Infinix.” ucap lelaki itu memberikan semangat pada gadis kecil itu.


“Ayah... kenapa aku harus melindungi dia dari tuan Athur ?” tanya gadis kecil itu lagi yang merasa tak terima dengan perintah itu. Di usianya sekarang, para temannya tak ada yang di bebani tugas seperti dia dan mereka bisa bermain sepuasnya. Sedangkan dirinya harus latihan berpedang, memanah dan sebagainya. Tak ada waktu bermain untuknya.


“hmm... itu memang sudah takdir mu, nak. Sejak lahir kau ditakdirkan menjadi yang terpilih untuk melindungi dia yang akan melenyapkan Arthur. Maka dari itu kau harus kuat. Kau harus bisa melindungi diri mu sendiri dulu.” jelas sang ayah panjang lebar pada putrinya itu sambil memegang tangan kecilnya dan mengajari cara memegang pedang dengan benar.


Gadis itu akhirnya bisa mengangkat pedang yang di berikan oleh ayahnya itu dan dia mulai mengayunkan pedang yang baginya mengangkat saja seperti mengangkat sebuah batu besar. Dia mencoba mengayunkan menilang dan menusuk.


“Anggap saja pedang itu adalah pedang kayu yang biasa kau pakai setiap hari, nak. Sekarang serang ayah !” perintahnya sambil memasang kuda-kuda.


“trang...” gadis itu mengayunkan pedang yang dia pegang dan menusuk ke arah ayahnya. Namun dengan mudah sang ayah menahan serangan pedang darinya dan membuat pedang itu terlepas dari tangannya dan berbalik akan menusuknya.


Gadis kecil itu seketika terkejut saat pedangnya berbalik akan menyerangnya.


“Slash....” gadis kecil itu bisa menghindarinya meski pedang itu telah memotong beberapa helai rambutnya.


“Arghhh...hosh... hosh... ” Rheva bangun dengan keringat dingin keluar. Rasanya dia seolah mau tertusuk oleh pedang itu sungguhan.


“Ya benar... ayah kau kembali mengingatkan ku pada misi awal ku. Aku harus melindungi dia. Tapi sampai sekarang aku belum menemukan dia yang harus ku lindungi itu. Maaf aku sejenak melupakan tugasku dan teralihkan karena suatu hal...” duduk dan merasa kacau karena dirinya telah menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang seharusnya tidak dia lakukan. Gadis itu mengingat senyum Dirga yang membuatnya semakin merasa bersalah dan mengambil bantal yang ada di dekatnya lalu memukulkan ke wajahnya dan kembali berbaring ke tempat tidurnya.


Sementara itu di lain sisi.


Dirga yang merasa cuaca hari ini sangat tidak nyaman dan tidak bersahabat bangun dari tempat tidurnya. Dia lalu berjalan ke jendela yang masih terbuka dan melompat ke luar.

__ADS_1


Suasana di luar juga terasa aneh. Tak ada udara yang bergerak sama sekali dan menambah suasana pagi itu semakin mencekam.


Dia berjalan menyusuri jalanan di perumahan itu menuju ke jalan raya.


“Apa itu...?” tanyanya melihat ke angkasa. Gumpalan kabut hitam berkumpul di langit nampak membentuk sosok raksasa jika di lihat dari kejauhan.


Dirga mendekat ke arah kabut hitam itu berada. Namun sebelum dia sampai, kabut hitam itu seperti terkena tembakan dan akhirnya hancur menyisakan asap hitam yang sekarang menyebar ke seluruh penjuru.


“swoosh.....” asap hitam berpencar menyebar ke segala arah.


“ups...!” Dirga menghindari asap hitam yang hampir mengenai tubuhnya itu. Dia bersalto ke belakang.


Dia kembali berjalan menyusuri jalanan sepi yang biasanya ramai di hari-hari biasa, entah apa sebabnya kini terasa seperti kota mati tak berpenghuni saja dan tak menemukan makhluk lain yang ada di sana selain dirinya.


Di lain tempat jauh dari Dirga berada asap hitam itu masuk ke setiap rumah yang di laluinya. Asap yang seperti bekas asap kebakaran itu kini mulai mengganggu aktivitas warga.


Di jalanan yang ramai dan padat oleh kendaraan bermotor di jam kerja terjadi kecamatan yang panjang dan parah.


Suara klakson kendaraan berbunyi bersahutan dari setiap mobil yang berhenti.


“din...cepat majukan kendaraan mu, aku hampir terlambat... !” teriak seorang pengemudi pada pengendara lain yang ada di depannya.


“brak... !” satu pengemudi keluar dari kendaraanya dengan membanting pintu keras lalu berteriak pada pengemudi yang menyinggungnya barusan.


“Hey... keluarlah ! Lihat sendiri kemacetan ini. Kau bilang kau hampir terlambat ? Aku malah sudah terlambat sepuluh menit !” bentaknya menuju ke pengemudi yang menyinggungnya tadi.


Pengemudi yang di bentak tidak terima, dan dia keluar dari kendaraannya. Dan menghampiri orang yang mengumpatnya itu.


“Apa mau mu ?” teriaknya marah dan langsung melayangkan pukulan ke pengemudi yang menantangnya itu. Dan terjadilah perkelahian di jalanan itu yang membuat keadaan semakin ricuh.

__ADS_1


Sementara di tempat lain yang juga asap hitam. Beberapa hewan yang ada di luar ruangan dan menghirup asap hitam itu sebagian mati dan sebagian pingsan, tergantung dari ketahanan masing-masing.


Sementara di dalam rumah warga yang terkena asap. Mereka berhamburan keluar karena merasakan sesak dan rasa seperti terbakar di dada saat menghirup nya.


“brak....” suara beberapa pintu rumah warga yang terbuka bersamaan. Seisi penghuni rumah berhamburan keluar untuk menghirup udara bersih di luar.


“Cepat pakai masker mu !” teriak salah seorang lelaki yang keluar dari rumah dengan membawa banyak masker.


Orang itu membagikannya pada orang di sekitarnya. Beberapa orang mau mengenakan masker pemberian orang tadi, beberapa lainnya tak mengindahkan sama sekali dan tetap tidak mengenakan masker.


Beberapa saat kemudian beberapa orang yang tidak mengenakan masker berteriak dan seketika mereka tak sadarkan diri. Satu dua orang tak sadarkan diri, namun jumlah itu semakin bertambah dan menjadi lebih banyak korban yang jatuh.


“Telepon ambulans... !” teriak salah satu orang yang panik saat melihat banyaknya korban berjatuhan.


Beberapa hari sebelumnya


Pasukan Infinix melaporkan pada Arthur tentang kedatangan dua orang di Lembah Surga.


“Tuan Arthur apa perintah tuan selanjutnya ?” tanya salah satu pasukan Infinix pada tuannya itu setelah melaporkan kejadian yang mereka temui.


“Kau yakin mereka kembali ke Lembah Surga ?”


“Ya tuan, dan barusan kami juga merasakan penggunaan kekuatan pembuka segel milik Ighist di sana. Namun kami kehilangan jejak mereka.” jawab pasukan Infinix lain melaporkan.


“Bodoh sekali kalian ! Bagaimana bisa kalian kehilangan jejak dan tidak bisa melacak keberadaan mereka ?” ucapnya marah dengan nada tinggi yang membuat pasukan itu gemetar.


“Maaf tuan Arthur. Jejak itu menghilang di Lembah Surga dan kami menemukan jejaknya yang samar di belahan dunia lain.” jawab pasukan Infinix lainnya yang membuat tuan mereka semakin marah.


“Cari jejak itu dan temukan siapa dua orang yang ada di Lembah Surga itu. Bawa mereka ke sini !” bentaknya pada pasukannya semakin murka merasa di permainkan oleh Ighist.

__ADS_1


“Baik, tuan.” jawab para pasukan itu serentak lalu menghilang secara bersamaan dari hadapan Arthur meninggalkan asap hitam.


BERSAMBUNG....


__ADS_2