Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 56 Goa Kelelawar


__ADS_3

Dirga jatuh semakin dalam ke lautan. Ingatannya tertuju pada hal yang telah di ucapkan Paman Tantrayana.


“Kau bisa menggunakan kekuatan mustika mutiara duyung itu secara otomatis saat kau terdesak. Atau kau juga bisa mengaktifkan kekuatan itu dengan cara yang telah ku ajarkan pada mu...” Dirga teringat pada apa yang di katakan oleh lelaki itu sebelumnya.


“Oh ya... aku punya mustika mutiara duyung... aku punya mustika hebat itu, kenapa aku bisa lupa...” batinnya sembari menyentuh tanda sisik di lehernya sambil berkata dalam hati memanggil nama Evony agar membantunya.


Saat matanya terpejam dan tubuhnya semakin jatuh ke dalam, sebuah sinar terang memancar dari tubuhnya. Sinar itu menyelimuti seluruh tubuhnya. Ketika sinar itu menghilang tampaklah tubuh Dirga yang kini berubah. Kedua ujung kakinya menjadi lebar seperti kaki bebek, begitu juga dengan kedua tangannya yang juga berubah bentuk menyerupai kaki bebek.


“Haah... haah...”


Tiba-tiba Dirga merasakan ada aliran oksigen yang kembali mengaliri paru-parunya sehingga dia bisa kembali bernafas. Lalu dia membuka matanya.


“Apa ini... apa yang terjadi pada tubuh ku ?” melihat kedua tangan dan kakinya yang berubah bentuk dan merasakan sudah tidak kesulitan bernafas dalam air. Bahkan dia bisa bicara dalam air.


Anak itu berenang dan menuju ke Bul-bul yang sedang terluka. Paus itu terluka di bagian ekor dan punggunya. Terdapat bekas gigitan dalam di sana.


“Tenang Bul-bul ini aku... ini aku Dirga. Apa kau tidak mengenali ku dalam perubahan bentuk baruku.” ucapnya melihat Bul-bul yang kelihatan takut dan mengira dirinya merupakan komplotan belut raksasa tadi dan akan kabur.


Paus itu pun tak jadi kabur dan malah mendekat ke Dirga setelah mendengar pengakuan barusan. Tanpa menunggu, anak itu pun menyentuh bagian tubuh paus yang terluka itu lalu mengalirkan reiki.


Beberapa saat kemudian luka di tubuh Bul-bul bekas gigitan dan goresan tadi sembuh. Paus itu merasakan tubuhnya yang sudah membaik. Ia lalu mengitari tubuh Dirga dan menyundul tubuhnya sebagai ungkapan terima kasih.


“Aku senang kau sudah baikan...” ucap Dirga mengusap kepala paus itu.


Setelah keadaan membaik mereka kan kembali meneruskan perjalanan mereka.

__ADS_1


Sudah satu jam mereka mengarungi luasnya lautan, melewati berbagai terumbu karang beraneka warna yang indah serta ikan berwarna-warni yang membuat mata takjub melihatnya. Sesekali Dirga berhenti sekedar menikamati pesona bawah laut itu.


Tanpa dia sadari semakin lama dia merasa nafasnya semakin berat.


“Ada apa... kenapa rasanya nafasku mau habis... dan juga... dan juga....” melihat kedua tangan dan kedua kakinya yang sekarang kembali berubah ke wujudnya semula.


Dia baru menyadari kalau ternyata kekuatan itu tak bisa bertahan lama. Dan batas maksimal penggunaanya adalah 60 menit.


Bul-bul yang melihat itu segera membuka mulutnya agar anak itu masuk kembali ke mulutnya. Dan Dirga pun akhirnya kembali masuk ke tubuh paus besar itu.


Bul-bul bergerak cepat mengarungi lautan lepas. Dengan lincah dia menghindari batu karang yang menghadang jalannya.


Setelah bermil-mil jauhnya mengarungi lautan itu. Sampai lah mereka di ujung lautan. Bul-bul membuka mulutnya dan Dirga keluar dari dalam tubuh paus itu. Dia melihat sekitar yang sekarang sudah sore.


“Jadi hutan Hamakua ada balik sini...” menatap ke sekeliling untuk mencari jalan keluar di tengah hamparan pasir.


Karena sudah sore dan sebentar lagi gelap, maka ia memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanannya. Di tengah batu karang yang mengelilingi laut itu ada satu sebuah batu karang yang berlubang seperti goa. Tanpa pikir panjang anak itu langsung berjalan ke sana dan memasuki goa itu.


Tenyata jalan di goa itu panjang juga. Dia melewati kelelawar yang ada di langit- langit goa. Karena mendengar ada yang memasuki wilayahnya para kelelawar itu bangun. Para kelelawar itu berterbangan dan mengejar Dirga.


“Sial....” ucap Dirga yang berlari karena di kejar kumpulan kelelawar. Beberpaa dari mereka menghantam tubuhnya, beberapa lainnya ada yang menggigit bahunya dan melukai wajahnya.


“Jangan ganggu aku... jangan kemari. Pergi dari sini !!” ucapnya marah.


Secara sadar dia mengaktifkan kekuatan matanya. Cahaya violet memancar dari matanya dan membakar para kelelawar yang mengejarnya. Beberapa kelelawar hangus terbakar namun beberapa kelelawar yang masih hidup dan terluka kembali menyerang Dirga dengan membabi buta.

__ADS_1


Kelelawar yang berjumlah ratusan itu dengan cepat menutupi seluruh tubuh anak itu. Dirga merasakan panas di sekujur tubuhnya saat para kelelawar itu membungkus tubuhnya.


“Setelah menghadapi belut raksasa, sekarang aku harus menghadapi serangan para kelelawar ini. Sebenarmya daerah apa ini, daerah apa yang begitu banyak hewan buas dan tidak bisa di prediksi ini...” batinnya sambil mengibaskan tangannya untuk melempar para kelelawar itu dari tubuhnya.


Dirga kembali mengaktifkan kekuatan matanya. Kembali sinar violet pekat memancar seperti laser dari matanya. Ia menembakkam sinar itu pada kelelawar yang melekat di tubuhnya.


Beberapa kelelawar jatuh dan dia langsung menghancurkannya sebelum menyerang dirinya lagi.


“Aarg...” teriak Dirga kesakitan.


Ada satu kelelawar yang berhasil menggigit lehernya dan rasanya panas sekali. Dia lalu mengibaskan badannya dengan kuat dan membuat kelelawar yang ada di tubuhnya terpental semua jatuh ke tanah. Dengan cepat dia langsung menembakkan sinar violet itu dan tubuh kelelawar itu seketika hangus.


“Selesai sudah... hosh... hosh...” ucapnya melihat tak ada kelelawar lagi yang tersisa. Mereka semua hangus terbakar dan tersisa tulang belulangnya saja. Anak itu lalu melangkah menginjak bangkai kelelawar yang berserakan.


Ada bercak darah bekas gigitan di lehernya, dan sekarang rasanya semakin panas seperti tersengat jutaan lebah. Ia tetap berjalan mencari jalan sambil menahan rasa sakit itu di tengah gelapnya malam.


“Aku harus segera keluar dari tempat ini. Tempat yang seperti neraka atau aku akan bertemu monster lagi disni.” ucapnya berjalan cepat.


Ia kembali mengaktifkan kekuatan matanya untuk melihat di kegelapan. Di depannya ada tumbuhan dan pepohonan lebat. Ia terus berjalan melewati pepohonan itu dan beberapa kali meyibak dedaunan yang menghalangi jalannya.


Hutan itu seperti tak ada ujungnya. Sudah jauh dia berjalan namun tak kunjung keluar juga. Hingga dia memperhatikan dengan seksama ada sebuah bagian hutan yang kelihatan aneh. Dimana disana hanya terdapat tanah kosong tanpa ada satu batang pohon pun.


Dia mempercepat langkahnya menuju tempat itu. Saat dia sampai di sana dan melangkah masuk ke daerah itu, daerah itu tak bisa di masuki seperti ada array atau semacamnya yang menutupinya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2