Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 8 Melihat Makhluk Tak Kasat Mata


__ADS_3

Sejak bermimpi di ikuti oleh seorang putri, sejak saat itu Dirga sering melihat penampakan makhluk lain yang tidak bisa di lihat oleh orang lain.


Hari berikutnya saat bermain di belakang rumah, di bawah pohon mangga yang besar. Kebetulan memang pohon mangga itu adalah pohon yang berumur sudah tua. Pohon itu sudah ada saat mereka baru membeli rumah itu.


Pohon itu selain terlihat besar dan tinggi, juga terlihat agak seram di siang hari. Hawanya pun berbeda saat berada di bawahnya. Hawa di bawah pohon itu terasa aneh, terasa lebih panas dari suhu di sekitar pohon mangga itu.


Saat itu Dirga sedang bermain bola seorang diri di sana. Karena teman sebayanya tidak ada yang mau ia ajak main. Mereka yang sebaya dan tinggal berdekatan dengan rumah Dirga menganggap Dirga aneh, tidak sama dengan mereka. Bahkan ada beberapa orang tua yang juga terkadang melayangkan komplain pada Elsa karena tingkah laku Dirga yang masih hiper aktif.


Para tetangga juga menilai jika Dirga itu adalah anak idiot. Mereka sungguh tidak tahu perbedaan antara autis dan idiot. Dan memandang rendah padanya.


Elsa dan Hadwan pun sering meminta maaf pada para tetangga atas ulah yang di perbuat Dirga. Pernah suatu waktu Dirga masuk ke rumah tetangga sebelahnya dengan memanjat pagar, lalu masuk ke dalam rumah. Dan apa yang di katakan oleh tetangganya itu ? Mereka bilang jika Dirga adalah anak yang tidak punya sopan santun, anak liar, dan orang tuanya tidak pernah mengajarinya sopan santun.


Hadwan dan Elsa hanya bisa terus bersabar dan berharap suatu saat mereka mengerti dan bisa menerima keadaannya yang memang berbeda jika di bandingkan anak normal seusianya. Namun mereka tidak berkecil hati dan menganggap perkataan dari para tetangganya sebagai angin lalu, karena mereka tidak mengalaminya, jadi tentu saja mereka tidak akan tahu bagaimana rasanya membesarkan seorang anak yang autis.


Ada beberapa anak tetangga yang mau bermain dengan Dirga. Itupun jika mereka mau bermain, Dirga hanya akan di bully saja. Dan sayangnya Dirga tak pernah membalas sama sekali perbuatan dari mereka. Itulah sebabnya Elsa dan Hadwan lebih menyarankan anak itu menghabiskan waktu dengan bermain di rumah atau menyibukkan diri dengan berbagai kursus.


“Duk... duk... duk...” suara pantulan bola yang di pantulkan ke batang pohon mangga dan berbalik ke kakinya.


Sekarang Dirga berlari menggiring bola mengitari pohon itu. Ternyata dia sudah mulai menguasai teknik bermain sepak bola. Ia menendang bola ke atas lalu menahan dengan paha dan kembali menendang nya melesat ke gawang.


Saat ia berjalan ke arah gawang untuk mengambil bola, ia tidak menemukan bola itu. Padahal ia yakin bola itu tadi bersarang di dalam gawang dan tidak keluar gawang.


Ia kemudian mencoba mencari di sekitar gawang dan tidak menemukannya. Kemudian ia berdiri menatap ke arah lain dimana kemungkinan bola itu berada.


Dirga lalu melihat semak-semak di sisi timur gawang. Ia berjalan ke sana. Belum sampai ia masuk ke dalam semak dan masih berada dua meter di depan semak itu, muncul seorang anak lelaki seusianya membawa bola berwarna kuning dengan kombinasi biru di tengahnya.


Anak kecil itu memakai baju biasa dan mengenakan sandal jepit berwarna hitam yang agak usang. Kaos dan celana pendeknya pun juga berwarna hitam. Rambut dan warna iris matanya juga hitam. Namun kulit tubuhnya terlihat putih dan cenderung tampak pucat yang terlihat kontras dengan semuanya yang ada pada dirinya dan serba hitam itu. Sepertinya anak itu bukanlah tetangga nya, karena ia tak pernah melihatnya sebelumnya.

__ADS_1


“Kau mencari bola mu ?” berbicara menatap Dirga tanpa menggerakkan bibirnya.


Anak lelaki itu berjalan menghampiri Dirga lalu menyerahkan bolanya sambil tersenyum.


Dirga menerima bola itu tanpa merasa takut, meski melihat anak lelaki itu terlihat aneh, tidak seperti anak pada umumnya.


“Mau ku temani main bola ? Sepertinya kau hanya main seorang diri.” menggerakkan bibirnya berbicara dengan Dirga.


Dirga mengamati cara anak lelaki itu berbicara yang berbeda dengan sebelumnya. Ia yakin jika tadi anak itu berbicara tanpa menggerakkan bibirnya.


“Iya... ayo main sama Dirga...”


Anak lelaki itu itu mengikuti Dirga berjalan ke depan gawang.


“Dirga namaku Peter...” menjabat tangan Dirga.


Mereka berdua bermain dan saling berebut bola sampai sore. Tenaga yang dimiliki Dirga memang tergolong besar jika di bandingkan dengan anak seusianya. Di usianya yang masih 4 tahun itu, ia bisa menarik tangan Mamanya dan membuatnya terjatuh, saat memaksanya tidak main hujan-hujan.


“Dirga waktunya mandi...” Elsa mencari Dirga ke kamar dan menyisir seluruh isi rumah, namun tidak menemukannya.


Ia kemudian mencarinya ke halaman depan, namun tidak ada juga. Terakhir ia mencari di halaman belakang. Dan betul sekali, ia melihat anak itu sedang bermain bola.


Ia menghampiri Dirga yang masih asik bermain bola.


“Sudah dulu main bolanya, mandi dulu Nak. Besok bisa main bila lagi.” berdiri di dekat Dirga yang kini sudah selesai bermain bola.


“Dirga mandi dulu. Besok main bola lagi sama Peter.” ucap Dirga pada Peter yang berdiri satu meter di depannya.

__ADS_1


“Siapa yang kau ajak bicara ?” Elsa menatap ke sekeliling dan tidak melihat siapa-siapa di sana kecuali dirinya dan Dirga.


Elsa merasa ada yang aneh pada Dirga. Anak itu mulai berhalusinasi atau melihat makhluk tak kasat mata ? Setahunya memang anak kecil lebih peka dan bisa melihat makhluk astral. Ia tidak mengira jika anaknya dikaruniai sixth sense dan bisa melihat hal gaib.


Karena setahunya beberapa anak autis juag menunjukkan gejala yang sama. Beberpa dari mereka sering berhalusinasi dan mempunyai dunia sendiri, bermain dengan teman imajinernya. Ia tak tahu masuk kategori manakah Dirga.


“Dimana teman mu ?” tanya Elsa untuk mengetes.


Dirga menunjuk anak yang ada di depannya. Namun Elsa tak bisa melihatnya.


“Tidak ada siapa-siapa di depan mu.” Elsa kembali meyakinkan Dirga.


Namun Dirga bersikeras dan tetap menunjuk anak yang ada di depannya.


“Tendang balik bola ku !” menatap Peter dan melihatnya tersenyum sambil mengangguk.


“Tapi aku tidak akan menanggung akibatnya, setelah Ibu mu melihatnya.” menatap Dirga yang mengangguk.


Dirga menendang bola yang ada di depan kakinya ke depan. Dan Elsa melihat bola itu memantul kembali pada Dirga dalam jarak agak jauh seperti ada yang menendang balik, walaupun bola itu tidak memantul pada gawang atau benda lainnya yang bisa membuatnya melenting kembali ke arahnya.


Elsa menjadi merinding melihat kejadian itu. Dan ia juga merasakan ada seseorang yang menarik bajunya dari belakang, namun saat ia menoleh tidak ada siapapun.


Dirga menatap Peter yang sedang menarik bagian belakang baju Mamanya. Dan ia berkata dalam hati pada Peter untuk melepaskan Mamanya. Anehnya Peter mengerti ucapan Dirga walaupun ia mengucapkannya hanya dalam hati, kemudian Ia melepaskan tangannya dari baju Ibunya Dirga.


Elsa masih merasa merinding. Ia segera masuk ke rumah bersama Dirga. Saat masuk ke dalam, Dirga menoleh ke belakang dan melihat Peter yang tersenyum padanya lalu melompat naik ke pohon mangga besar di belakang rumahnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2