
Belum sempat mereka pergi dari daerah itu, sekarang sekelompok serigala datang dan mengepung mereka. Mereka adalah para serigala yang sebelumnya menyerang dan melukai Rheva.
Ternyata para serigala itu mencium bau Rheva dan melacaknya sampai ke tempat itu. Mereka juga tak terima karena banyak dari mereka yang terluka akibat serangan gadis itu.
Para serigala itu mulai mengepung meski jumlah mereka tidak sebenyak sebelumnya, namun kekuatan mereka tetap seperti sebelumnya.
Satu serigala yang terlihat seperti pemimpin maju lalu di ikuti oleh para serigala lainnya yang maju menyerang. Beberapa dari mereka menerkam peri.
“Dasar kau serigala kejam ! Beraninya kau cuma main keroyokan.” teriak Rheva yang akhirnya ikut menyerang.
Dia maju membantu melawan para serigala itu. Mungkin saat inilah baginya saat yang tepat untuknya membalas budi para peri itu, selain itu juga menuntut balas atas perbuatan mereka yang membuat dirinya terluka parah sebelumnya.
“Kau baru saja sembuh... jangan bantu kami.” ucap Anna melarang Rheva ikut bertarung melawan serigala karena pasti tenaganya belum sepenuhnya pulih.
“Serahkan saja pada ku. Aku merasa badan ku sudah pulih dan kekuatan ku meski belum pulih total tapi ini sudah lebih dari cukup.” meyakinkan peri itu dan maju.
“Aku adalah keturunan Ighist. Aku tak perlu menutupi kekuatan ku di depan para peri ini, seperti yang biasa ku lakukan di dunia manusia.”
Gadis itu mengambil bros di bajunya lalu merubahnya menjadi sebuah pedang.
“Slash... Slash... Slash...”
Dia melakukan tebasan pada serigala yang menerkam salah satu peri dan menebas lehernya. Lalu peri tadi langsung terbang menuju ke tempat temannya berada.
Kaum peri memang bisa menggunakan sihirnya untuk menolong atau menyembuhkan, namun untuk menyerang, kekuatan mereka tergolong lemah.
“Slash....”
Rheva kembali menebas dan serigala itu tumbang. Dia yang pernah berhadapan dengan serigala itu sebelumnya jadi mengetahui kekuatan lawannya. Separuh serigala tumbang sudah dalam tebasan Rheva. Darah binatang itu mengotori tubuhnya setiap kali menebas.
Melihat banyak temannya yang mati, akhirnya para serigala itu melarikan diri sebelum nyawa mereka melayang seperti teman mereka.
__ADS_1
“Hey... mau kemana kalian ?”
Rheva segera mengejar dan memburu para serigala yang melarikan diri itu. Dia membantai habis para seeigala itu tanpa ampun.
“Blar...”
Rheva mengeluarkan cahaya berwarna jingga yang mengurung para serigala itu sehingga mereka tidak bisa kabur lagi. Setelah itu dia menghampiri array penghancur yang di buatnya dan menancapkan pedangnya ke tengah array itu.
“Swing...”
Para serigala itu berputar cepat dalam array seperti terkena badai lalu hangus oleh kilatan petir yang membakar tubuh mereka dan menjadi abu. Setelah semua serigala itu binasa, ia mencabut lagi pedang itu dan mengembalikannya ke wujud semula. Seketika array yang dibuatnya pun ikut menghilang dan tampaklah abu dari binatang itu.
“Hosh... hosh... hosh...” Rheva terengah-engah dan mengatur nafasnya yang tersengal.
Para peri datang menghampirinya. Beberapa dari mereka terluka namun segera pulih setelah mendapat perawatan dari peri lainnya.
“Aku tidak menyangka kau punya kekuatan hebat seperti itu. Apa kau manusia...” tanya salah satu peri pada Rheva yang di balas dengan senyuman.
“Setahuku tidak ada manusia di dunia ini yang punya kekuatan seperti mu. Apa kau berasal dari dunia lain ?” tanya peri lain yang penasaran.
Karena para peri telah menolongnya dan mereka sudah mengetahui kekuatannya, ia memberi tahu mereka identitasnya. Setelah mempertimbangkan itu matang-matang dan mereka pasti tak akan menceritakan identitasnya pada yang lainnya.
“Aku dari Ighist...” jawabnya singkat.
“Ighist.....bukankah itu kaum maggle di zaman lampau dan sudah musnah...” jawab Anna setelah berhasil mengingat nama yang di sebutkan barusan.
“Dalam sejarah memang tertulis demikian. Kaum kami sudah habis di bantai oleh kaum Infinix. Namun ada nenek moyang kami yang berhasil melarikan diri dan hidup sampai beberapa generasi.”
Merekapun mengobrol untuk beberapa saat. Setelah itu mereka berpisah. Sebelum berpisah mereka saling mengingat kan untuk menjaga diri baik-baik. Beberapa saat kemudian para peri itu menghilang di tengah tumbuhan lalu menjadi bulatan cahaya terang yang terbang ke langit.
Setelah semua peri pergi, Rheva kembali masuk ke goa. Ia membuat array yang melapisi goa itu untuk melindungi dirinya. Lalu dia bersandar ke dinding goa menunggu datangnya pagi untuk mencari jalan keluar dari jurang itu.
__ADS_1
Sementara itu di lain tempat Dirga mendapatkan arahan dari Paman Tantrayana cara mengendalikan dan menggunakan kekuatan mustika mutiara duyung yang baru di dapatnya.
“Sudah hentikan nak. Kau sudah hampir menguasai teknik mengendalikan kekuatan mustika itu. Beristirahatlah, hari sudah semakin larut. Tubuh mu harus prima kalau besok kau ingin melakukan perjalanan kembali ke hutan Hamakua.” ucap Paman Tantrayana mengakhiri sesi latihan saat itu.
“Baik Paman... terima kasih, terima kasih Paman sudah mau mengajari ku meski aku bukan siapa-siapa.” ucap Dirga segera menghentikan latihannnya saat itu.
Dirga kembali ke kamar setelah Paman Tantrayana keluar dari tempat mereka latihan. Dia membayangkan ketiga temannya yang pasti sampai sekarang masih mencari dirinya. Apalagi si Rheva. Entah kenapa gadis itu selalu perhatian padanya bahkan perhatian yang di berikannya itu lebih besar dari dua teman laki-lakinya. Dia pun memejamkan mata dengan perasaan hangat, karena masih ada yang memperhatikan dirinya.
Keesokan paginya, matahari datang menggantikanmalam dingin dengan sinar hangat yang menerobos ke setiap penjuru alam.
Dirga pun bangun, ia keluar dan mencari Pak Tantrayana yang ternyata di luar menyiapkan jaring dan ember untuk melaut.
“Biar aku bantu paman. Paman duduk saja disini. Biar aku yang melakukannya.” ucap Dirga mengangkut ember dari dalam rumah dan membawanya ke perahu yang ada di tepi laut. Ia juga mengambil jaring yang biasa di pakai Paman untuk menangkap ikan ke perahu itu.
“Sudah nak, sekarang kita makan dulu. Kau harus mengisi perut mu yang kosong sebelum kembali pagi ini.”
Paman Tantrayana memanggil Dirga dan mengajaknya untuk makan. Di meja makan sudah terhidang nasin hangat dan berbagai lauk olahan ikan.
“Ayo di makan... makanan ala kadarnya.” Paman Tantrayana mulai mengambil nasi dan lauk yang ada di meja.
Dirga mengikuti lelaki itu mengambil nasi dan lauknya lalu mulai memaknnya. Dia heran dengan rasa masakan yang kelihatan sederhana seperti itu tapi rasanya luar biasa. Bagaiman seorang lelaki bisa memasak seenak itu, bahkan lebih enak masakan paman daripada masakan di restoran yang terkenal di kotanya. Dan dia pun makan dengan lahap. Paman Tantrayana hanya tersenyum melihat Dirga yang kini mengambil nasi lagi.
Setelah mereka selesai makan, mereka pun bersiap untuk berangkat. Paman membawakan makan untuk bekal Dirga di jalan.
“Ayo paman kita berangkat... kita berangkat sekarang.” membawa bekal dari paman.
“Nak hati-hati di jalan. Paman hanya bisa mengantarmu sampai sini ?” menepuk pundak Dirga.
“Maksud paman... aku...” tanyanya bingung mendengar jawaban itu.
“Tak usah khawatir begitu, paman akan panggilkan teman paman untuk mengantar mu. Dia akan tunjukkan jalannya pada mu.”
__ADS_1
Paman Tantrayana bersiul dan tak lama setelah itu muncul seekor ikan paus besar dari kejauhan yang datang ke arah mereka.
BERSAMBUNG.....