Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 68 Pengakuan 2


__ADS_3

Dirga yang melihat Rheva menjauhinya tanpa sebab jadi salah tingkah. Ia kemudian berjalan ke sudut ruangan dan Rheva mengikutinya.


“Ku harap setelah kau mengetahui diri ku yang sebenarnya kau tak akan meninggalkan ku. Maksud ku kau akan tetap mau berteman dengan ku.” menatap Rheva dengan tatapan nanar. Ia menyiapkan dan menguatkan dirinya jika temannya itu akan menjauhinya setelah dia menunjukkan kekuatannya.


“Baiklah... sekarang lihat aku...” ucapnya pada Rheva. Dirga memejamkan mata lalu membukanya. Saat terbuka matanya sinar violet memancar dari dua irisnya. Rheva terkejut dengan perubahan warna mata anak itu.


“Kau... punya kekuatan itu... apa kau keturunan...” tidak melanjutkan kalimatnya. Gadis itu mulai mengingat kekuatan kaum Infinix. Konon katanya kaum itu sangat kuat dan punya banyak kemampuan misterius dan salah satu kekuatan kaum Infinix ada pada matanya.


“Ah tidak mungkin Dirga adalah keturunan Infinix. Tapi kekuatan mata itu...benar-benar mirip...” batinnya masih menatap mata lelaki di depannya. Dia bertanya-tanya dalam hati bagaimana bisa keturunan orang biasa punya kekuatan seperti itu. Pastilah itu hal yang mustahil. Jika dia memang keturunan infinix bagaimana bisa dia di lahirkan oleh orang biasa. Dia merasa ada yang tidak beres dengan hal itu.


“Maka aku harus mencari tahu kebenarannya. Apa dia ada hubungannya dengan Infinix ?” batinnya kembali.


“Rheva... kenapa... kenapa kau diam saja ?” menghilangkan kekuatan matanya dan melihat reaksi temannya itu. Ia takut akan kehilangan teman baiknya itu.


“Ah tidak... ya maksud ku...aku tak menyangka kau punya kekuatan seperti itu.” jawabnya gelagapan setelah tersadar dari lamunannya. Dia sempat teringat pada misinya yaitu melindungi keturunan terakhir Infinix agar tidak di bunuh oleh pemimpin Infinix yang selama ini mencari keturunannya dan juga kaum Ighist serta Pixy. Namun informasi keberadaan keturunan sang infinix itu tidak diketahui dengan jelas ada dimana dia sekarang.


Selama bertahun-tahun dia mencari keturunan terakhir Infinix itu tapi tak kunjung menemukannya juga. Bahkan sampai ia di kejar oleh pasukan Infinix dan harus melindungi dirinya sendiri dengan menyamar atau merubah identitasnya agar tidak terlacak.

__ADS_1


“Tolong jaga rahasia ini dari lainnya. Aku tak mau kehilangan teman. Aku tak mau yang lain menjauhiku karena hal ini. Karena hal ini menjadikan ku aneh...” ucapnya serius menatap Rheva yang masih terdiam seolah memohon.


“Baiklah.... aku akan rahasiakan itu dari yang lainnya.” ucap gadis itu sembari tersenyum untuk mencairkan suasana yang tegang saat itu. Pikirannya sekarang bukan terletak pada kekuatan Dirga melainkan pada identitas anak itu.


“Kalau begitu kau... kau tidak menghindari ku... ?” tanyanya karena melihat gadis itu yang terlihat sedang berpikir entah apa itu. Apakah dia menyembunyikan suatu hal darinya atau menahan sesuatu darinya.


“Kau bicara apa... ? Tentu saja aku masih teman mu seperti yang sebelumnya dan tak akan pernah berubah.” ucap gadis itu karena menangkap maksud pembicaraan anak itu yang menurutnya di karenakan sikapnya yang telah membuatnya salah paham.


Beberapa saat kemudian mereka kembali ke tempat duduk mereka setelah mengambil beberapa buku lagi.


Saat Rheva sedang membaca buku, Dirga mencuri-curi pandang. Karena entah kenapa dia tidak yakin akan perkataan temannya itu. Bahkan menurutnya apa yang di ucapkan gadis itu barusan hanyalah pura-pura dan itu sebabnya ia bermaksud mengawasi gadis itu. Perasaannya mengatakan ada yang aneh dengan gadis itu dan ada yang di sembunyikannya.


Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu. Dirga dan Rheva terlihat sering bersama setelah Rheva mengetahui kekuatan dirinya yang Sebenarnya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di laborat atau di tempat lain.


Saat itu mereka bersama Nathan dan Tomy sedang melakukan penelitian sampel limbah di laboratorium. Karena akhir-akhir ini di temukan banyak hewan yang mati di sekitar pantai Mahakam, pantai yang biasa di jadikan resort pariwasata di kota itu. Ada cairan yang di temukan di sana yang menyerupai sebuah minyak.


Satu hari sebelumnya, Rheva yang saat itu sedang berjemur di pantai melihat beberapa flamingo yang mati di sepanjang pantai tanpa sebab. Dia melihat juga banyak ikan yang mati terapung di pantai itu. Pantai yang sebelumnya indah terlihat menyeramkan dengan bangkai berbagai binatang yang tergolek di sana. Dia lalu mengambil sampel air yang berminyak itu untuk ia teliti.

__ADS_1


“Awas itu sampel berbahaya... hati-hati memegangnya jangan sampai itu tumpah dan terkena tangan mu.” ucap Rheva mengingatkan Dirga yang mengambil sampel air itu dengan buru-buru. Benar saja sampel air itu tumpah sedikit ke tangannya. Dengan cepat Rheva mengambil kain bersih di meja untuk membersihkan sampel di tangan Dirga. Lalu dia juga menyemprotkan alkohol serta antibiotik ke kulit Dirga untuk pencegahan. Terakhir dia mengoleskan sebuah krim pada bagian tangan yang terkena sampel air tadi untuk pencegahan iritasi atau terbakar karena dia belum tahu apa efek dari sampel yang mereka teliti itu.


“Ah Rheva... kau ini perhatian sekali pada Dirga. Apa kalian jangan-jangan sudah jadian di belakang kami ?” tanya Tomy yang melihat gadis itu sangat cemas saat sesuatu menimpa Dirga. Seketika gadis itu melepaskan tangannya dan wajahnya terlihat merona.


“Ah tidak... kau bilang apa ? Kami bukan kekasih. Aku juga perhatian pada mu juga Nathan.” ucapnya sambil melirik Dirga yang juga kelihatan salah tingkah.


“Tidak apa-apa juga jika kalian sekarang jadi sepasang kekasih... hehehe...” tambah Nathan jahil sambil tersenyum. Rheva dan Dirga saling menatap dan kembali salah tingkah.


"Hey Nathan, Tomy kalau bercanda jangan berlebihan. Jangan berlebihan begitu.” Ucap Dirga sambil menjitak kepala kedua sahabatnya itu agar mengehentikan candaan mereka karena dia melihat Rheva terganggu dengan candaan dari temannya itu.


“Auw...” ucap Rheva merintih kesakitan saat ada pisau bedah di meja yang menggores ujung jarinya. Darah menetes dari jarinya itu. Dirga yang melihat jari telunjuk gadis itu terluka langsung membersihkan lukanya lalu menetesinya alcohol dan mengambil kain kasa untuk membalut luka itu.


“Tidak usah... tak perlu di balut. Ini hanya luka kecil.” ucap Rheva menarik tangannya dengan cepat saat Dirga mau membalut lukanya.


“Tapi.... tapi...” ucap Dirga bermaksud memegang jari Rheva. Namun lagi-lagi Nathan dan Tomy kembali berucap.


“Ehm... ehm... ehm... katanya bukan kekasih ? Tapi kalian begitu sangat perhatian satu sama lain.” ucapnya kembali sambil terkekeh melihat tingkah dua temannya itu. Dirga dan Rheva kembali bertatapan lalu mereka menjitak lagi kepala Tomy dan Nathan agar menghentikan kembali candaan mereka yang tak berdasar itu. Mereka pun akhirnya melanjutkan penelitian mereka.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2