
Keesokan harinya Dirga kembali melakukan latihan bersama Lin Han. Sementara yang lainnya ada yang berjaga di sekitar area hutan, ada juga yang kembali melakukan penyelidikan lanjutan untuk memantau perkembangan di lokasi tempat para tawanan ditahan.
“Ayo hari ini aku akan melatih mu sampai sore. Kau harus menguasai keterampilan berpedang hari ini atau kau paling akhir besok karena mungkin pasukan Infinix sekarang sudah bergerak.
“Ya aku akan berusaha sebisa ku !” jawabnya lalu segera berjalan mengikuti Lin Han dan mulai melakukan latihan menggunakan pedang.
Di lain tempat tepatnya di sel khusus tempat dimana Lin Han dan rekan lainnya di tahan sebelumnya, terjadi kegemparan di mana para pengawal sel baru menyadari jika tahanan yang menghuni sel itu telah kabur dan berhasil mengecoh mereka dengan doppalganger yang kekuatannya hilang dua hari kemudian.
“Bagaimana ini... apa yang harus kita lakukan sekarang ? Aku takut jika tuan Arthur memenggal kepala kita ditempat jika dia mengetahui ini.”ucap pengawal di sana yang terlihat gemetar ketakutan sendiri setelah melihat tahanan kosong dan hanya ada sampah berupa kertas, batu, koin dan lain sebagainya dalam sel itu.
“Tenang saja... kita gunakan trik yang sama agar tidak ketahuan.” ucap pengawal lainnya sambil tersenyum lebar menjawabnya.
“Jangan bilang kita akan membuat doppelganger seperti yang telah mereka lakukan ?!” tanya pengawal itu pada rekannya yang mengangguk.
“Ayo cepat kita lakukan sekarang ! sebelum tuan Arthur di sini dan mengetahuinya sendiri.” jawab salah satu pengawal yang terus mendesaknya.
Tanpa bicara lagi dua pengawal itu langsung masuk ke dalam sel. Mereka lalu membuat tiruan tubuh yang mirip sekali dengan ke lima belas tahanan yang menghuni sel itu sebelumnya. Mereka melemparkan Kerikil yang tadi dipungutnya sebelum memasuki sel yang kemudian berubah menjadi lima belas tahanan.
“Sudah beres ayo kita keluar sekarang dan kembali berjaga.” ucap salah satu pengawal mengajak rekannya segera siaga kembali di depan sel.
Sementara itu di sisi lain, Arthur yang biasanya memantau dan memeriksa sel khusus satu minggu sekali tengah berjalan menuju ke sel tahanan tempat di mana Lin Han dan yang lainnya ditahan.
“tap... tap...”
Dua pengawal yang menjaga tahanan tempat Lin Han ditahan sebelumnya terlihat kaget seketika saat melihat pemimpinnya sekarang ada di hadapannya.
“Salam tuan Arthur...” ucap kedua pengawal itu memberi hormat pada lelaki tua itu.
Tanpa basa-basi, Arthur pun langsung membuka kunci soal dan langsung masuk ke dalamnya. Dua penjaga tadi saling berpandangan dan mulai berkeringat dingin.
__ADS_1
“Hai kalian para tahanan di sini. tak lama nanti kalian akan menjadi abu. Hahaha...” ucap Arthur tertawa lebar menatap mata satu persatu tahanan yang ada di sana. Setelah puas tertawa dia pun melemparkan lantai yang dipegangnya lalu memukulkan ke arah para tahanan di depannya.
“boom... boom... boom... !!!”
Arthur terkejut sekali saat melihat kelima belas tahanan tadi tubuhnya hancur dan menjadi batu kerikil. Seketika dia menjadi murka dan amarahnya memuncak mengetahui itu hanyalah sebuah tubuh tiruan.
Arthur berjalan dengan cepat dengan emosi yang membara menuju dua pengawal tadi yang masih menjaga sel.
“Kalian berdua... bagaimana kerja kalian sampai bisa ramah dan kecolongan seperti ini ?!” tanyanya pada dua pengawal di sana dengan tatapan tajam seolah akan mencincang habis tubuh mereka.
“Itu... itu para tahanan yang ada di sini semua, tuan Arthur. Tolong maafkan kami kali ini dan kedepannya kami akan lebih berhati-hati lagi.” jawab dua pengawal tadi yang masih bercucuran keringat
“Apa kau bilang... maaf ??? Tak ada kata maaf dari pengawal yang gagal melakukan tugasnya dan sebaiknya kalian segera mempersiapkan diri kalian !!!” jawab Arthur yang semakin marah.
“Tidak tuan... tolong maafkan kami.” ucap dua pengawal itu secara bersamaan.
“Dasar kalian sampah tidak berguna ! Kembalilah ke tempat kalian sekarang juga !!” bentak Arthur pada dua pengawal tadi.
“buk... !” seketika dua kepala pengawal tadi tertebas dan jatuh menggelinding di tanah.
“Dasar... kerja begini saja kalian tak becus !” umpatnya karena merasa kesal pada kedua pengawal tadi. Dia segera pergi dari sana lalu teringat pada tempat di mana dia menahan Ighist pelindung itu.
“Semoga saja hal yang sama tidak terjadi di tahanan itu.” batin Arthur yang merasa khawatir jika Reva juga melarikan diri dari sel.
Beberapa saat kemudian, Arthur tiba di depan sel tempat Rheva ditahan. Pengawal yang ada disana terlihat pucat seketika saat melihat pemimpinnya datang meninjau lokasi.
“Salam tuan Arthur...” ucap pengawal itu memberi salam padanya. Sedangkan Arthur yang marahnya sama sekali tidak menjawab sapaan untuknya.
“Bagaimana tahanan yang ada di dalam sana ? Apa dia kabur ?” tanyanya yang curiga saat melihat pengawal itu berkeringat dingin.
__ADS_1
“Ta-tahanan itu ma-masih ada di dalam, tuan...” jawab pengawal itu dengan terbata-bata karena takut jika sebelumnya ada tiga orang yang menyusup ke sel itu, namun dia tak berani memberitahukannya.
Arthur langsung menembus masuk ke tahanan dan dia menekan tombol di sisi dinding yang tak terlihat.
“klak...” Seketika terlihat roh Rheva yang ada di ruangan itu.
“Ha-ha-ha... ternyata kau masih di dalam sel ini dan tidak kabur...” ucap Arthur tertawa lebar karena merasa lega tawanan paling khususnya masih ada di tempatnya.
Dalam wujud roh, Rheva mendekati Arthur dan mengumpat lelaki tua itu.
“Hari akhir mu akan segera tiba. Kau nanti kan saja hari itu datang. maka semua penderitaan yang telah kau berikan padaku akan kau rasakan berkali-kali lipat !” ucap Rheva memaki dan mengutuk perbuatan biadabnya.
“Gadis kecil sudah baik aku belum membunuhmu sampai sekarang. karena kau lancang aku akan memberimu sedikit hiburan. Hahahaha.... !!!!” teriak Arthur yang marah pada Rheva karena gadis itu menyulut emosinya dan membuatnya semakin naik pitam.
Arthur berjalan lagi ke sisi dinding dan mencari tombol ada di sana.
“klik...” Dia menekan tombol itu dan seketika bagian tempat roh itu berdiri berputar dengan cepat yang membuat jiwa itu terpental berkali-kali pada dinding sel tahanan.
“Argh.... argh... hentikan kau bajingan tua ! Aku akan menguliti mu nanti jika aku sudah bebas dari sini !!” ucap Rheva berteriak kesakitan dan mengumpat lelaki itu lagi.
Arthur tampak tertawa menyeringai melihat Ighist pelindung itu tersiksa di depan matanya dan tak bisa berbuat apa-apa. Dia kembali tertawa lalu segera keluar menembus sel tahanan itu.
“Pengawal matikan tombol penyiksa dalam sel ini setelah sepuluh jam dari sekarang !” perintah Arthur setelah keluar dari sel dan menghampiri pengawal yang menjaga sel itu.
“Baik tuan... Aku akan melaksanakan perintah tuan.” jawab pengawal itu.
Arthur kemudian pergi dari sana dan menuju ke sel tahanan lain untuk kembali melakukan pemeriksaan.
Sementara pengaman tadi merasa lega dan menghembuskan nafas dalam-dalam setelah kepergian Arthur karena dia tidak tahu jika ada yang menyusup ke tahanan itu sebelumnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....