Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 118 Tiba Di Markas Infinix


__ADS_3

Dirga melihat dengan tali job tiruan yang diciptakan oleh Andrew bener-bener mirip sekali dengannya. Bahkan suaranya pun terdengar mirip saat berbicara.


“Sekarang kau tak perlu khawatir lagi tuan. Doppalganger ini akan menggantikan tugasmu sementara waktu sampai kita kembali lagi ke sini. Tenang saja aku bisa mengontrolnya dari jarak jauh dan mengirimkan semua perintah dari jauh.” ucap Andrew menjelaskan panjang lebar mengenai tubuh pengganti yang bisa dikendalikan dari jarak jauh sesuai dengan keinginan.


Melihat tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan nya dia pun tersenyum puas.


“Kalau begitu ayo sekarang kita berangkat.” ajak Dirga tak sabar ingin berpetualang dan mempraktekkan semua ilmu yang telah dipelajarinya dari kakek guru Sanca.


Sebelum pergi Andrew berbicara sebentar pada tiruan yang menggantikan tubuh tuannya itu dan menjelaskan semua yang harus dilakukannya selama di rumah itu untuk menggantikan tuannya.


“Jadi Jangan lupa untuk tidak melakukan kesalahan sedikitpun selama kau menggantikan Tuhanku agar tak ada yang curiga padamu.” ucap Andrew memberi peringatan tegas pada tubuh pengganti itu agar selalu berhati-hati setiap saat.


Setelah tubuh pengganti itu mengerti tugasnya dan apa saja yang harus dilakukan dengan menghentikan Dirga. Dia pun segera masuk ke rumah dan mulai beraktivitas seperti manusia normal pada umumnya.


“Ayo kita berangkat sekarang, Andrew.” ucap Dirga mengajak Andre untuk segera pergi dari rumahnya.


“Baik tuan jika memang sudah siap dan tak ada lagi yang harus dikhawatirkan Ayo kita berangkat sekarang.” jawabnya.


Andrew lalu berubah lagi ke wujud Elang putih. Kemudian dia melesat dan pergi bersama Dirga di tengah gelapnya malam.


Dalam gelap mereka menyusuri jalanan dan meninggalkan perkotaan yang ramai dengan gemerlapnya kehidupan menuju ke suatu tempat yang jauh sekali dari jangkauan manusia.


Perjalanan panjang itu tidak menggoyahkan niat dari Dirga yang kuat untuk segera bertemu dengan Arthur dan pasukan infinix nya. Mereka sudah melewati dua kota dan sekarang melewati hutan belantara yang cukup luas.


Beberapa saat kemudian saat fajar menyingsing tibalah mereka di suatu tempat dimana di sana terdapat pegunungan dengan udara segar di sekitar tempat itu.


“Hosh... hosh... hosh...”


Dirga keterangan terengah-engah dan merasa kelelahan setelah melakukan perjalanan panjang. Dia mencoba berhenti sejenak untuk menstabilkan nafasnya yang tidak teratur.


“Viroz... kita istirahat sebentar di sini.” ucapnya pada elang putih yang kini turun dan mendarat kah tanah.

__ADS_1


“Iya tuan... tak jauh lagi kita akan sampai ke markas Infinix.” ucapnya pada Dirga.


“Oh ya... baguslah kalau begitu. Aku mau bersandar dari dulu di bawah pohon itu.” ucapnya kembali sambil menunjuk sebuah pohon.


Dirga berjalan menuju ke sebuah pohon yang rindang. Dia pun segera duduk dan bersandar di pohon itu. Angin disana bertiup sepoi-sepoi dan membuatnya yang tidak tidur semalaman menjadi ngantuk. Tak beberapa lama kemudian dia tertidur di bawah pohon itu.


“Tuan...” ucap elang putih itu menghampiri dan mendapati ternyata tuannya sudah tidur.


“Tuan mungkin kelelahan dan butuh istirahat sebentar. Baiklah aku aku tidak akan mengganggunya.” ucapnya lalu terbang dan hinggap di atas pohon tempat dimana Dirga tertidur. Elang itu pun berjaga dan siaga di sana. Dia berjaga-jaga dan melindungi Dirga jika ada ada sesuatu yang akan mengganggunya.


Satu jam berlalu dan suasana masih tenang seperti sebelumnya. Viroz pun mulai merasa bosan berada di pohon itu dan tak melakukan apapun.


“Sebaiknya aku pergi sebentar untuk memeriksa keadaan sekitar.” gumamnya lalu mulai mengepakkan sayapnya dan terbang ke angkasa.


Viroz melesat menuju ke markas Infinix yang tinggal beberapa kilometer dari tempatnya sekarang berada.


Beberapa saat kemudian dia tiba di markas Infinix. Dia melihat ada banyak pengawal yang menjaga markas itu.


“Kaak...”


“Aku baru melihat ada burung seperti itu di tempat ini.” ucap salah satu pengawal pada pengawal lainnya.


“Tak biasanya ada elang seperti itu di tempat ini. Menurutmu apa kita perlu menangkap burung itu dan memeriksanya ?” tanya salah satu pengawal pada pengawal lainnya yang merasa curiga pada kehadiran burung elang putih itu.


Pengawal lainnya diam mengamati burung yang melintas di atas mereka setelah mendengar ucapan dari rekannya itu.


“Kurasa itu hanya burung elang biasa. Biarkan saja kita tak perlu menangkapnya.” jawab pengawal itu pada rekannya yang akan menangkap Viroz namun membatalkan niatnya setelah mendengar penjelasan dari rekannya.


Viroz yang merasa beberapa pengawal menaruh rasa curiga padanya segera pergi dan terbang melesat lagi dari markas itu menuju ke tempat lain yang ada di sekitar markas.


Tak jauh dari markas dia melihat sebuah bangunan benteng besar yang belum sepenuhnya jadi.

__ADS_1


“Argh....!!” suara teriakan dari balik benteng.


“Suara apa itu... ?” tanya Andrew penasaran setelah mendengar suara teriakan dari balik benteng besar itu.


Karena ingin tahu lebih jelas apa yang ada dibalik benteng itu dia pun melesat lagi ke atas bangunan besar itu. Dia berputar mengelilingi benteng itu dan betapa terkejutnya dia saat melihat banyak orang yang berjalan dengan dirantai kakinya di tempat itu dan mendapat siksaan dari beberapa pengawal yang menjaga tempat itu.


Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tawanan itu disiksa dan dipaksa melakukan kerja rodi untuk membangun benteng itu.


“Argh.... ampun... baik aku akan segera berjalan lagi. Aku hanya menghirup nafas sebentar.” ucap seorang lelaki yang berusia lanjut setelah mendapatkan cambukan dan luka di punggungnya serta memohon ampun agar pengawal itu menghentikan hukuman pada dirinya.


“Biadab sekali, bahkan mereka tak segan menyiksa orang tua !” ucap Viroz yang tak tega melihat kejadian itu.


“Aku harus segera kembali dan melaporkannya pada tuan tentang kekejaman pasukan Infinix pada mereka.” ucapnya lagi masih terbang mengangkasa memutari benteng.


Viroz lalu segera pergi dan mengepakkan sayapnya dengan keras telepon kembali menuju ke tempat Dirga berada.


Di lain tempat, beberapa pasukan Infinix yang ada di luar markas melakukan patroli untuk memeriksa keadaan sekitar. Setelah dirasa tempat di sekitar markas aman, mereka pun bergerak menuju ke daerah terdekat yang tak jauh dari markas mereka berada untuk kembali melakukan patroli.


“Ayo kitab segera selesaikan patroli hari ini agar kita bisa segera kembali ke markas dan beristirahat sebentar.” ucap salah satu pengawal pada salah satu rekannya.


“Ayo kita bergerak sekarang.” jawab pengawal lainnya dan mulai melakukan patroli menuju ke tempat dimana Dirga sedang tidur.


Tiba-tiba angin di tempat Dirga berada sekarang bertiup kencang dan membuat buah apel yang bergelantungan di pohon tempatnya bersandar jatuh dan menimpa kepalanya.


“buk...” Suara apel membentur kepala Dirga.


“hiss....”


Dirga yang merasa kesakitan karena ada sesuatu benda yang menghantam kepalanya, terbangun dari tidurnya. Dia pun mencari benda yang jatuh ke kepalanya dan menemukan sebuah apel berwarna merah di sekitar tubuhnya.


“Oh ternyata apel...” ucapnya kemudian tersenyum melihat buah matang di tangannya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang dia pun langsung melahap buah yang ada di tangannya itu karena memang dia sudah merasa lapar.


BERSAMBUNG....


__ADS_2