
Dirga menikmati setiap bulir salju yang jatuh ke tangannya. Ia menggenggam butiran yang terasa dingin itu dan kembali membuka tangannya agar banyak salju yang jatuh ke telapak tangannya. Karena ini pertama kalinya bagi dia melihat dan menyentuh salju terasa langsung.
Sementara itu terlihat kontras dengan Rheva yang kelihatan tidak begitu senang melihat tempat itu dan malah kelihatan emosi. Ia tidak mengira bisa sampai di kampung halamannya itu. Satu pertanyaan melintas dalam pikirannya, bagaimana bisa Pantai Mahakam terhubung dengan dunianya.
Belum sempat dia menemukan jawaban atas pertanyaannya itu, tiba-tiba ia teringat pada senyuman ibunya dan pada panggilan sayang ayahnya.
“Rheva... Rheva...” panggil Dirga pada temannya itu yang masih tak menyahut sama sekali. Dan malah ia melihat gadis itu berlari kencang masuk ke tempat itu.
“Hei tunggu... tunggu... ! Kau semakin aneh saja. Sedari tadi ku panggil tidak menyahut tapi sekarang malah berlari meninggalkan aku. Ada apa dengan gadis itu. Tak biasanya dia begitu.” menatap Rheva yang berlari kencang seperti seekor rusa dengan perasaan sedikit kesal. Kali ini giliran dia yang cuek pada gadis itu. Dia berjalan santai sambil sesekali bermain salju. Dia membuat bola salju dan melemparnya seperti yang di lakukan anak-anak kecil.
Dia lalu melihat papan kayu di pintu gerbang masuk tempat itu dan membacanya. Ada sebuah tulisan di sana. Dia membaca tulisan itu.
“Vallée de neige...” ucapnya membaca tulisan yang tidak ia ketahui bahasa apa itu sambil memegang hurufnya yang timbul. Namun aneh walaupun dia tidak tahu bahasa apa itu tapi dia bisa mengartikan tulisan itu.
“Apa artinya lembah salju ya ?” gumamnya lalu kembali berjalan dan menemukan sebuah papan tulisan yang di paku pada sebuah pohon besar.
“Mise en garde !!! Les étrangers ne sont pas autorisés à entrer dans cette zone sans autorisation ! Emm... Jadi aku termasuk orang asing dan harus izin dulu untuk masuk ke sini ? Tapi dimana aku harus minta izin ?” ucapnya kembali lalu berjalan dan melihat-lihat sekitar.
Sementara itu Rheva berlari jauh ke dalam dan tak mempedulikan Dirga. Pikirannya saat ini hanya pada orang tuanya. Dia rindu sekali pada mereka dan ingin tahu bagaimana kabar mereka. Tapi ada yang aneh di sana. Ia melihat rumah-rumah yang ia lewati tampak sepi, namun ia berpikir jika banyak penghuni rumah ada di dalam. Jadi dia tetap berlari menuju ke arah rumahnya.
__ADS_1
“Brak...” gadis itu membuka pitu rumahnya dan mendapati rumahnya kosong tak berpenghuni. Ia lalu masuk ke dalam dan mencari ke ruangan lainnya, namun tidak ada juga. Firasatnya tidak enak dan dia segera keluar ke rumah lainnya.
“Brak...” kembali gadis itu membuka pintu rumah di sebelah rumahnya yang ternyata juga kosong. Ia kembali masuk dan membuka pintu rumah yang ternyata sama saja juga kosong.
Ia berlari ke depan ke jalanan yang telah ia lewati dan mendapati semua rumah di sana kosong tak berpenghuni setelah ia buka.
“Tidaaak....” teriaknya histeris lalu keluar dari rumah itu dan berjalan dengan sempoyongan. Dirga yang mendengar teriakan Rheva segera berlari mencari gadis itu. Dia melihat gadis itu duduk di tengah jalan.
“Ada apa... apa yang terjadi pada mu ?” tanyanya panik sambil membantu gadis itu berdiri. Ia mengira ada sesuatu yang menyerang gadis itu namun ternyata tak ada apapun di sana hanya mereka berdua.
“Ada apa....?”tanyanya lagi. Namun gadis itu tidak menjawab. Tiba-tiba dia memeluk Dirga sambil meneteskan air mata. Dirga yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi semakin bingung saat merasakan ada tetesan air mata yang membasahi bahunya.
“Tenangkan dirimu... tenang... aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ceritakan pelan-pelan pada ku agar aku mengerti...” ucapnya menenangkan gadis itu. Beberapa saat kemudian gadis itu sudah tenang. Ia ingin bercerita tapi tak sepatah katapun bisa keluar dari mulutnya karena ia kembali menitikkan air mata. Dia lalu menarik tangan Dirga dan mengajaknya masuk ke rumahnya.
“Jadi ini rumah mu ?” tanyanya yang melihat gadis itu menjawab dengan anggukan. Sebenarnya dia tidak tahu tempat apa lembah salju ini namun hal yang lebih penting lagi saat ini adalah menenangkan gadis itu yang masih terlihat sedih tanpa dia tahu sebabnya.
Gadis itu duduk di kursi dekat meja sedangkan Dirga berdiri di dekatnya.
“Kau bisa cerita sekarang... ayo ceritakan padaku.” ucapnya berjalan mendekat.
__ADS_1
“Hah... hah... aku tidak tahu harus mulai cerita darimana.” jawabnya saat sudah tenang dan jadi bingung mengawali ceritanya.
“Ceritakan saja... ceritakan yang ada dalam pikiran mu. Tak perlu sistematis, aku tetap akan bisa menangkap.”
“Ya... ini adalah kampung halaman ighist. Tempat kami tinggal selama ini. Karena suatu hal kami sering berpindah-pindah meski nanti akan kembali ke sini lagi....” gadis itu menceritakan semua peristiwa yang terjadi pada Dirga tidak berurutan karena emosinya yang masih kacau. Namun Dirga tetap bisa menangkap inti dari cerita itu.
Masih ada yang menjadi pertanyaan dan mengganjal pikiran Dirga. Kenapa mereka nomaden dan apa sebenarnya yang merupakan membuat mereka jadi sering berpindah-pindah ?
“Ah... ku harap keluarga mu baik-baik dan semua penghuni lembah salju ini dalam keadaan aman di suatu tempat. Mungkin saja keluarga mu meninggalkan petunjuk untuk mu.” balasnya menenangkan gadis itu.
Rheva yang baru tersadar dan terbuka pikirannya dari kekalutan dan kesedihannya kini mulai merenung dan berpikir sejenak.
“Ayah dan ibu biasanya menulis pesan untuk ku jika mereka meninggalkan tempat ini.” gumamnya lalu bangkit dari duduknya. Ia menuju ke lemari yang ad disudut ruangan dan membuka satu per satu lacinya mencari sesuatu. Dirga yang kembali bingung, mendekati gadis itu.
“Apa yang kau cari, mungkin aku bisa membantu mu ?” menepuk bahu gadis itu yang kemudian menoleh.
“Surat...” jawabnya singkat. Dia kembali mencarinya dan mengosongkan semua laci di lemari itu mencarinya. Dirga ikut membantu mencari dan dia meminta Rheva mencarinya di tempat lain.
Satu jam sudah mereka mencari, namun belum membuahkan hasil juga. Mereka pun duduk di kursi dekat meja untuk beristirahat sejenak. Tanpa sengaja Dirga menyenggol sebuah tinta yang ada di meja dan hampir menjatuhkannya. Dia menaruh kembali tinta itu ke tengah meja. Ada sebuah bulu merak di sana dan kertas kosong. Karena iseng, dia mengambilnya dan mencoba untuk menulis menggunakan pena dari bulu angsa yang belum pernah di cobanya.
__ADS_1
Hal yang aneh terjadi saat dia mencelupkan pena bulu merak ke tinta dan menggoreskan pada lembaran kertas kosong yang di pegangnya. Belum sempat ia menulis tiba-tiba muncul sebuah kata.
BERSAMBUNG....