Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 43 Masih Seperti Dulu


__ADS_3

Beberapa hari kemudian saat di rumah, tepatnya di kamarnya. Dirga masih memikirkan sosok gadis yang dia temui saat mencari Firoz. Lama ia berpikir dan tak ada ujungnya, tak ada hasilnya dan tetap menjadi misteri.


“Whoosh.... brak...” suara angin berhembus kencang yang membuat daun jendela yang terbuka memantul ke dinding. Seorang anak lelaki dengan postur tubuh setinggi 1.75 meter berdiri di dekat jendela di sebuah perpustakaan.


Beberapa anak muda lainnya masuk ke ruangan itu dan menghampirinya lalu menepuk bahunya yang membuatnya kaget.


“Hei...Nathan, Tomy...” jawab lelaki berkulit putih itu singkat menyambut kedatangan temannya sambil berbalik dan tetap memegangi sisi jendela seakan enggan beranjak dari sana.


“Ayo yang lain sudah menunggu mu di lab kimia untuk melakukan percobaan.” ajak Nathan.


“Tidak... tidak. Kalian duluan saja. Aku tidak tertarik. Kalian duluan nanti aku akan menyusul.” jawabnya menolak karena ia masih ingin menikmati hembusan angin dari jendela.


Masuklah beberapa lelaki lain yang berusia sama dengan mereka, 17 tahun mendatangi mereka bertiga. Satu di antaranya terlihat marah.


“Kau mengacaukan penelitian kami. Kelompok mu menghancurkan percobaan kami saat ini. Aku tak terima, terutama kau Dirga.” menghampiri Dirga lalu menarik kerahnya dengan emosi.


Dirga melepas tangan lelaki yang mencengkeram kerahnya dan membuatnya semakin marah. Anak itu mengayunkan pukulan ke wajah Dirga, namun bisa di tahannya. Sebelum suasana semakin panas, Nathan dan Tomy melerai perkelahian itu.


“Pergi kau David. Semua itu adalah kesalahan mu sendiri tak ada sangkut pautnya dengan kami.”mendorong tubuh lelaki itu ke dinding.


“Tunggu saja pembalasan dari kami !” teriak David menatap mereka bertiga lalu keluar bersama tiga temannya.


Setelah David dan kelompoknya yang merupakan penganngu dan sering mengganggu mahasiswa lainnya di universitas itu keluar dari perpustakaan, Nathan dan Tomy mengajak Dirga untuk segera masuk ke laboratorium dan melakukan percobaan ulang untuk meneliti pencegahan percepatan pembelahan amoeba yang sangat cepat.


“Kalian duluan, kalian pergi dulu. Aku akan segera menyusul. Sebelum itu aku mau ke toilet sebentar.” ucapnya meyakinkan ke dua temamnya itu. Nathan memandang Tomy dan memberikan isyarat lalu keduanya pun meninggalkan Dirga sendirian di perpustakaan itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Dirga keluar dari perpustakaan setelah mengembalikan sebuah buku yang ia taruh di meja dan terbuka terkena angin kembali ke tempatnya menuju ke sebuah toilet.


Di toilet ternyata penuh dan ia harus menunggu sampai ada yang keluar dari salah satu toilet. Saat menunggu banyak anak berlalu lalang di sekitar toilet itu. Beberapa dari mereka ada yang melihat Dirga kemudian melemparkan pandangan ke arah lain sambil berbisik-bisik lalu tertawa.


Dirga sudah terbiasa dengan pemandangan yang dia lihat barusan. Kejadian yang sama yang selalu terjadi padanya sejak sepuluh tahun yang lalu itu kembali terulang pada dirinya. Dan dia selalu mengabaikan hal itu dan tak pernah memasukkannya dalam hati.


Beberapa saat kemudian dia keluar dari toilet dan berjalan menuju ke ruang laboratorium. Disana temannya, tepatnya kelompok nya sudah menunggunya dari tadi. Kelompoknya terdiri dari empat orang, selain mereka bertiga masih ada satu cewek yang belum juga muncul meskipun tas gadis itu ada bangku mereka.


“tap... tap... tap...” derap langkah kaki seorang gadis masuk ke laboratorium. Gadis itu berambut warna coklat gelap panjang dan berjalan anggun menuju ke meja kelompok Dirga.


“Maaf lama menungguku...” ucap gadia itu duduk di sebelah Dirga.


“Kau darimana Rheva?” tanya Tomy yang agak sebal karena harus lama menunggunya lebih lama daripada menunggu Dirga.


“Ah... aku ada urusan sedikit tadi...” jawabnya singkat tanpa merasa bersalah.


Dirga yang ikut menoleh merogoh saku bajunya dan mengeluarkan tisu yang selalu dia bawa lalu memberikannya pada gadis di sebelahnya itu.


Rheva mengusap sisa saus di bibirnya dengan tisu lalu membuangnya ke tong sampah di dekatnya. Sementara itu Tomy masih tertawa melihat temannya itu.


“Sudah... sudah... Tomy saatnya serius sekarang.” ucap Nathan menepuk bahu temannya keras yang membuatnya berhenti tertawa mengejek Rheva. Sekarang dia melihat mikroskop dan peralatan lainnya di meja.


Mereka berempat adalah mahasiswa jurusan teknik kimia di sebuah universitas. Ada beberapa tabung erlenmeyer di depan mereka yang berisi beberapa cairan kimia, ada etanol, asam sulfat dan lainnya. Serta ada kasa dan cawan yang berisikan air bening.


“Siapa yang mau melihat dulu proses pembelahan amoeba?” tanya Tomy melihat ketiga temannya. Tak ada yang menjawab, namun Dirga menggeser mikroskop itu ke depannya. Dia mengambil cawan dan mengambil pipet lalu meletakkannya pada kaca kecil dan menaruhnya di bawah reflektor mikroskop. Setelah itu ia mengenakan maskernya untuk menghindari paparan bahaya kimia dari cairan kimia yang ada di mejanya.

__ADS_1


Penelitian yang mereka lakukan bertujuan untuk menghambat laju pembelahan pada amoeba. Tapi sebelum melakukan uji coba, mereka harus mengenal karakter amoeba terlebih dulu.


Dia melihat pada lensa okuler dan mendapati ada beberapa jenis amoeba yang bergerak disana. Dia melihat planaria yang dalam hitungan menit bisa membelah diri dengan pembelahan biner. Dari yang asalnya satu induk kini menjadi 5 planaria yang sama besarnya.


“tap... tap... tap...” suara langkah kaki yang cepat memasuki laboratorium itu. David berjalan dan mencari keberadaan seseorang. Setelah menemukannya, ia lalu berhenti di depan meja Dirga dan kelompoknya. Dia menatap tabung erlenmeyer sambil tersenyum menyeringai.


“Prang...” David sengaja menggebrak meja dengan keras dan membuat salah satu tabung yang berisikan cairan kimia berbahaya terpental ke atas. Cairan kimia berbahaya dari tabung itu menjadi tidak stabil dan tumpah.


Rheva yang melihat cairan etanol itu akan mengenai wajah Dirga segera menangkap tabung itu. Tabung dan Dirga aman, namun cairan tadi tumpah mengenai tangannya.


“Hahahaha....” David tertawa puas melihat kejadian barusan dan segera pergi menuju ke mejanya.


“Awas kau ya...” Tomy geram dan menarik kerah baju David namun Nathan menahannya dan akhirnya dia melepaskan David karena mereka ada di kelas, banyak mata yang akan menatap mereka. Seandainya itu di luar kelas dia pasti akan menghajar David habis-habisan. Dan yang terpenting sekarang adalah Rheva.


“Aah...” Rheva kesakitan sambil memegangi tangannya.


“Kau tak apa ?Apa yang kau rasakan, apa kau baik-baik saja?” tanya Dirga melihat tangan Rheva yang memerah seperti terbakar.


Tanpa banyak bicara, dia segera membawa temannya itu ke ruang kesehatan. Petugas kesehatan di sana langsung melakukan perawatan pada Rheva.


“Terima kasih sudah menolong ku, terima kasih. Tapi kau jadi terluka karena aku...” ucap Dirga berjalan keluar dari ruang kesehatan melihat tangan Rheva yang sekarang di perban.


“Aku tak apa... kau pergilah dulu. Kembali ke laboratorium. Aku mau membasuh muka dulu.”


Dirga meninggalkan Rheva kembali ke laboratorium. Sementara itu Rheva masuk ke toilet. Dia menatap tangannya yang berbalutkan perban. Dalam sekejab perban itu terbuka, terlihat luka bakar di tangannya. Dia menyentuh lukanya itu dan beberapa saat luka itu sembuh total. Ia menatap perban tadi dan dalam sekejab perban tadi kemabali membungkus lukanya. Dia keluar dari toilet dengan tersenyum kecil.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2