Keturunan Terakhir Infinix

Keturunan Terakhir Infinix
Eps. 45 Tersesat


__ADS_3

Beberapa anak yang melihat Dirga langsung mengangkat tubuh anak itu dan membawanya ke ruang kesehatan.


Setelah itu petugas keamanan datang ke lokasi kejadian dan membereskan masalah barusan.


Sementara itu Dirga melihat sosok gadis kecil yang tertawa riang di tengah ladang jagung lalu menarik tangannya mengajaknya ke suatu tempat. Dia tidak tahu siapa gadis itu dan mau di bawa kemana. Kemudian mereka berhenti di suatu tempat. Dari kejauhan terlihat sebuah rumah berdinding kayu yang di cat putih di dekat pohon besar di tengah danau.


Anak itu menunjuk ke rumah itu dan krmudian berjalan ke sana melewati jembatan kecil di tepi danau.


“Tunggu... kau mau kemana ?” mengikuti gadis itu berjalan melewati jembatan kayu sambil melihat ke sekeliling yang sepi. Anak itu berlari cepat masuk ke rumah yang yadi di tunjuknya dan Dirga kehilangan dia.


Di tengah jalan Dirga berlari menyeberangi jembatan untuk mengejar anak tadi.


“Kraak....” suara kayu patah. Dan bagian yang dia injak kayunya lepas lalu jatuh ke danau.


Satu kaki Dirga terperosok, terjebak di antara kayu lainnya dan dia berusaha menarik kakinya yang semakin lama terasa berat. Ia melihat ke bawah dan tiba-tiba muncullah tiga orang berjubah hitam yang menarik kakinya. Satu di antaranya memegang lehernya lalu memegang kalung pelindungnya dan menariknya.


“Tidak... tidak... jangan !” teriak Dirga.


“Hei bangun. Jangan buat kami khawatir pada mu.” ucap Tomy.


Dirga membuka mata dan segera duduk lalu memandang ke sekeliling dan melibat tiga temannya sedang menunggunya. Keringat dingin keluar dari dahinya. Ia lalu meraba lehernya dan mendapati kalung pelindungnya masih aman disana sehingga ia pun kembali tenang.


“Dimana aku...” tanyanya yang masih bingung dan tak ingat apa yang telah terjadi padanya.

__ADS_1


“Syukurlah kau sudah sadar, kawan. Kami mencemaskan mu. Karena sudah dua jam kau pingsan.” kata Nathan yang menurunkan kewaspadaannya setelah melihat temannya itu siuman.


“Ya... aku baik-baik saja... terima kasih. Terima kasih kalian bertiga sudah menjagaku.” ucapnya sambil melihat ke tiga temannya itu. Merekapun keluar dari ruangan itu. Tanpa ada yang mengetahui ada asap putih yang muncul di sekitar tempat Dirga di rawat tadi. Asap itu samar tampak membentuk sebuah kepala yang tersenyum menyeringai, kemudian menghilang tertiup udara yang masuk memenuhi ruangan.


Beberapa hari kemudian setelah kejadian itu untuk sementara waktu perpustakaan di tutup sampai dua minggu ke depan, karena di adakan renovasi dan penataan ulang serta pemasangan ulang lampu yang kuat agar tidak terulang lagi kejadian itu dan membahayakan mahasiswa lainnya.


Satu minggu berikutnya di kampus di adakan kegiatan pecinta alam. Dimana kegiatan itu akan di adakan bertepatan dengan perayaan malam tahun baru. Kegiatan itu di laksanakan di sebuah hutan yang berada di pinggiran kota Komoros.


Kota Komoros merupakan kota yang dekat dengan Kota Atlanta. Dengan kendaraan bisa di tempuh dengan waktu sekitar dua jam perjalanan. Kota itu terkenal dengan sebutan kota wisata, dimana di kota itu banyak tersedia tempat wisata yang ramai di kunjungi wisatawan baik lokal maupun manca.


Tiga hari sebelumnya


Luna yang tidak ada kesibukan masuk ke kamar kakaknya sambil membawa peralatan melukis. Ia minta di ajari Dirga teknik melukis. Karena kakaknya itu pandai melukis dan sering menjuarai lomba melukis.


“Kak... ajarin Luna cara melukis seperti kakak, aku juga ingin mendapatkan piala dari melukis. Satu bulan lagi ada lomba melukis...” pintanya merengek manja. Dia melihat kakanya sedang sibuk memasukkan baju dan perlengkapan lainnya ke sebuah tas besar dan hal itu membuatnya penasaran.


“Perayaan tahun baru ya kak ? Wah... Luna ikut ya kak...” ucapnya senang dan kembali merajut pada kakaknya. Namun lagi-lagi dia di buat kecewa.


“Tidak... jangan kau tidak boleh ikut. Tidak boleh, ini bukan acara pesta kembang api seperti yang kau ketahui, bukan. Tapi acara menjelajah hutan liar. Tidak di sarankam untuk anak kecil.” melihat adiknya yang tampak kecewa.


“Kakak jahat...!!!” ucap Luna lalu keluar dari kamar kakaknya dengan rasa kecewa. Karena ia sangat berharap bisa melihat hujan kembang api yang selama ini belum pernah di lihatnya di karenakan mama dan ayah selalu melarangynya keluar di tengah keramaian.


Luna melihat mama yang sedang ngobrol santai bersama ayah dan kakek. Ia kemudian menceritakan pada mama jika kakaknya akan mengikuti perayaan tahun baru empat hari lagi. Sontak Elsa langsung pergi menuju kamar Dirga.

__ADS_1


“Apa benar yang di katakan adik mu barusan, nak ? Mama tidak setuju kau mengikuti perayaan tahun baru. Kau tahu kan, mama takut...” menjadi khawatir setelah membayangkan anak nya akan di bully oleh temannya temannya.


“Tidak... bukan ma. Bukan acara perayaan tahun baru. Ini acara dari kampus yang wajib di ikuti semua mahasiswa. Tepatnya kegiatan mengenal alam di kota Komoros.” menjelaskan agar mama tidak salah paham.


“Tapi nak...” masih belum yakin dan khawatir.


“Tenang ma, mama tenang saja. Dirga sudah dewasa ma. Tolong percaya padaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Selain itu ada Nathan, Tomy dan Rheva yang selalu membantu ku.” bersikeras menjelaskan agar mendapat izin dari mamanya.


Setelah berpikir dan mempertimbangkan, akhirnya Elsa mengizinkan anaknya untuk mengikuti kegiatan itu. Mungkin memang sudah waktunya bagi anaknya untuk mengenal lingkungan dan berbaur di tengah keramaian.


Saat hari - H siang hari,


Semua mahasiswa sudah berkumpul di lapangan kampus. Mereka berangkat pukul 14:00 karena mengingat jarak tempuh nya yang cukup jauh jika di tempuh dengan berjalan kaki. Selain itu mereka juga harus menyiapkan tenda yang juga memakan waktu.


Dua jam berikutnya mereka tiba kota Komoros. Setelah 30 menit berjalan dan beristirahat sebentar mereka melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai di hutan Hamakua. Sebelum hari bertambah gelap, mereka semua membagi tugas. Ada yang memasang tenda, mencari kayu bakar, mencari air dan lain sebagainya.


Dirga mendapat tugas mencari kayu bakar di hutan. Dia pun segera masuk ke hutan bersama kelompoknya. Dia menguarkan kompas yang ia bawa untuk melihat arah berangkat dan menentukan arah balik nantinya.


Hutan Hamakua terlihat lebat dengan banyaknya pohon yang menjulang tinggi. Mereka bertiga melihat dedaunan jatuh menutupi hutan itu di sepanjang perjalanan. Dirga melihat beberapa pohon di tumbuhi oleh jamur yang belum pernah dilihatnya.


Tomy yang merupakan penyuka tanaman menjadi tertarik melihat jamur itu dan berniat memgumpulkannya untuk di teliti. Rheva dan Nathan duduk di bawah pohon sambil mengikat kayu bakar yang mereka bawa, menunggu Dirga dan Tomy kembali.


“Hari sudah mau gelap, kalian berdua ayo cepat kembali !” teriak Rheva memanggil Dirga dan Tomy.

__ADS_1


Tomy dan Dirga kembali. Mereka berempat melanjutkan perjalanan tepat saat matahari terbenam. Dirga mengeluarkan kompas dan mencari jalan kembali ke arah utara. Namun jarum kompas berputar tidak menentu yang membuatnya bingung menentukan arah.


BERSAMBUNG....


__ADS_2